Oleh: Dharma Setyawan
Tenang, ini bukan ajakan agar para dosen, profesor, dan mahasiswa pensiun dini dari kampus lalu ramai-ramai mendirikan gerakan jalanan. Ini juga bukan upaya meremehkan sains dan tradisi riset. Saya akademisi, tidak ada kepentingan untuk meruntuhkan institusi yang membesarkan kita. Ini soal cara membaca realitas; bagaimana ilmu pengetahuan yang bertumpuk di ruang kelas dan repositori perpustakaan bisa diterjemahkan menjadi perubahan nyata di tengah masyarakat.
Sebelumnya, mari kita apresiasi kampus setinggi-tingginya. Kampus adalah benteng keilmuan terbaik yang kita punya. Di sanalah tempat pemikiran diuji, metode dirumuskan, dan generasi dipersiapkan. Budaya literasi, riset, dan dialektika dibangun dengan sangat serius. Tapi justru karena tradisi akademiknya yang kuat, ada satu hal yang kini membuat kampus makin teralienasi yaitu kehilangan kemampuan bicara dengan bahasa bumi.
Terjebak di Menara Gading Administrasi
Jika kita amati kehidupan kampus hari ini, energi para akademisi habis dikuras oleh labirin administrasi. Dosen sibuk mengejar poin SISTER, menghitung KUM, mengejar jurnal bereputasi Scopus, hingga pusing mengurus borang akreditasi. Mahasiswa mengejar IPK tinggi, menumpuk sertifikat seminar, dan memastikan lulus tepat waktu demi memegang lembar ijazah.
Pertanyaannya sederhana; Apakah Buk Marni di kampung, Pak Slamet di sawah, atau pedagang kecil di pasar peduli dengan skor Scopus Q1 dosennya?
Tentu tidak. Mereka tidak butuh daftar sitasi. Yang mereka butuhkan adalah jawaban atas pertanyaan hidup sehari-hari: Bagaimana cara agar harga panen tidak anjlok? Bagaimana melatih anak muda desa agar tidak terjebak pinjol? Bagaimana mengelola sampah pasar agar tidak menjadi sumber penyakit?
Di sinilah letak krisisnya. Gelar doktor, profesor, IPK cumlaude, dan ribuan ijazah menjadi tidak berdaya ketika ia hanya berhenti di atas kertas, tetapi gagal menjadi daya ubah sosial. Kampus sibuk dengan “bahasa langit”—istilahnya keren, metodologinya rumit, abstraknya berbahasa Inggris tinggi—tetapi gagap ketika harus duduk bersama masyarakat desa.
Intelektual Organik dan Penggerak Akar Rumput
Masyarakat hari ini sering kali lebih belajar dari para ekosistem builder di lapangan; para aktivis komunitas, penggerak pasar lokal, pemuda desa, dan intelektual organik yang mungkin diantara mereka ada yang tidak punya gelar.
Para penggerak ini tidak memulainya dengan teori grandis. Mereka bicara dengan bahasa sederhana. Mereka tidak berkhotbah tentang “pembangunan ekonomi berkelanjutan berbasis kearifan lokal,” melainkan langsung mengajak warga: “Mari kita kumpulkan modal bersama, buat pasar mingguan, dan pakai produk tetangga sendiri.” Ini bukan berarti ilmu akademik tidak penting. Riset dan data formal itu krusial sebagai fondasi logis. Namun, masalah utama kita hari ini bukan kurangnya orang pintar, melainkan kegagalan mentransformasikan kepintaran itu menjadi manfaat yang dapat dirasakan.
Para aktivis dan ecosystem builder mengajarkan kita satu filosofi penting tentang perubahan; Pendekatan Hutan (Forest Ecosystem).
Dalam sebuah hutan yang lebat dan tahan benturan, keberlanjutan tidak ditentukan oleh hadirnya satu pohon paling tinggi atau paling kuat. Hutan hidup karena adanya jaringan miselium di bawah tanah—akar-akar yang saling menyapa, merambat, berbagi nutrisi, dan saling menopang ketika badai datang.
Begitu pula dengan pemberdayaan masyarakat. Kita tidak membutuhkan sekumpulan “orang-orang terbaik” yang bekerja secara terisolasi di ruangan ber-AC. Perubahan sosial membutuhkan orang-orang biasa yang mau saling menyapa, terhubung, dan berkolaborasi.
Aktivis pemberdayaan yang berhasil adalah mereka yang mampu membumikan konsep rumit ecosystem builder menjadi tindakan yang hangat. Bukan lagi; “Kita harus mengintegrasikan sistem rantai pasok lokal berbasis jaringan.” Tetapi “Ayo kita catat siapa yang punya beras, siapa yang punya sayur, lalu kita beli dari teman sendiri.” Stroke kesederhanaan inilah yang membuat gagasan menyeberang keluar dari ruang seminar dan masuk ke dalam kehidupan nyata.
Merobohkan Tembok Eksklusivitas
Jika kampus dan para akademisinya ingin ilmu mereka benar-benar berkah dan berdampak luas, mereka harus mau “liqo” atau belajar dari para praktisi lapangan. Satu pertanyaan penting yang harus dijawab oleh para pemegang gelar akademik adalah “Bagaimana caranya membuat gagasan ilmiah yang rumit menjadi langkah aksi yang sederhana, tanpa mereduksi kedalaman maknanya?”
Sebab pada akhirnya, politik sosial dan pemberdayaan masyarakat punya satu medan ujian yang sangat jujur; masyarakat biasa.
Jika masyarakat yang ingin kita bantu justru tidak paham apa yang sedang kita bicarakan, mungkin bukan masyarakatnya yang kurang edukasi. Mungkin cara kita menjelaskan—dan cara kita hadir—yang perlu diperbaiki.
Jika gelar doktor, Scopus, dan karya akademis berhasil diterjemahkan menjadi ekosistem yang menyejahterakan rakyat di sekitar kampus, maka kampus bukan lagi sekadar menara gading yang berjarak. Orang-orang di kampung akan berkata dengan bangga:
“Mereka memang ilmuwan pintar, dan ternyata kepintaran mereka sangat berguna untuk hidup kami.”
Dan ketika titik itu tercapai, barulah kita bisa bicara tentang intelektualitas yang benar-benar membumi.