Kamis, April 2, 2026
Payungi.org
  • Login
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi
No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi
No Result
View All Result
Payungi.org
No Result
View All Result
Home Catatan

Ambang Terakhir?

"Di masa berbaring lemah tubuhnya, aku mengatakan, 'dek ada yang mati tapi menang dan ada yang hidup tapi kalah.' Aku meyakini istriku adalah pemenang." - Dharma Setyawan

by Dharma Setyawan
29 Juli 2025
in Catatan, In Memoriam: Hifni, Wes
Reading Time: 5min read
A A
0
Ambang Terakhir?
Share on FacebookShare on Whatsapp

Daftar Isi:

Toggle
  • Estafet Pemberdayaan?
  • Ambang Kematian
  • Akhir, Terakhir atau Berakhir

Hifni Septina Carolina aku menikahinya 6 Oktober 2013, kebersamaan yang berakhir 28 Juli 2025 jam 13.10 WIB. Semua ingatan tentangnya bukan hanya cinta, tapi proses pengetahuan, pergerakan dan pengorbanan.

Sebagai pasangan suami istri, kami menyadari tentang kekurangan dan keterbatasan. Setelah menikah dengan Hifni, perjalanan dimulai. Kami saling belajar satu sama lain. Buku bacaan, dia membaca apa yang saya baca, dia juga belajar menulis opini di koran, terbiasa ruang diskusi komunitas, dan dia menemukan passion gerakan pemberdayaan perempuan. Perjalanan gerakan pemberdayaan perempuan ini adalah ruang pembelajaran dominan bagi istri.

2014 bergabung di Komunitas Cangkir Kamisan, 2017 gerakan wisata #AyoKeDamRaman, 2018 mendirikan Payungi dan 2020 istri dan kawan kawan mendirikan Women & Environment Studies (WES Payungi). Kecintaan pada isu perempuan dan lingkungan, bahkan dalam masa sakitpun masih terus dia pikirkan, bahwa WES suatu saat memiliki kader bukan hanya emak-emak dan mahasiswa tapi siswa setingkat SMA yang juga peduli isu perempuan dan lingkungan.

Nama Hifni Septina Carolina (HSC) ditengah tubuh yang sakit, dia imajinasikan dengan memperjuangkan H menjadi Help, S menjadi Save dan C menjadi Care. WES diharapkan terus menolong (help) banyak perempuan dan Lingkungan. WES diupayakan agar menjadi ruang aman (save) bagi hadirnya perempuan di ruang publik. Dan WES harus terus peduli (care) pada isu-isu yang menyangkut perempuan dan lingkungan.

Estafet Pemberdayaan?

Istri berharap kader WES Payungi akan terus melanjutkan perjuangan. Kematian hanya mengakhiri fisik tapi bukan resonansi pemikiran. Bagaimana sebuah peristiwa kematian bisa menjadi “membanggakan”? Tapi bukankah kematian adalah musuh? Dan kenyataan besar kematian adalah musuh yang kejam.

Faktanya, semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan sementara. Rumah megah, jabatan tinggi, bahkan tubuh yang sehat, adalah pinjaman yang harus kita jaga dan syukuri dengan perjuangan.

Nabi mengatakan, “Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab (memperhitungkan) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” Mengingat kematian bukanlah upaya untuk menyerah pada ketakutan, melainkan sebuah motivasi paling murni untuk hidup lebih baik, lebih bermakna, dan lebih bertanggung jawab. Estafet pemberdayaan adalah cara kita menanam kebaikan secara gotong-royong yang bahan bakarnya adalah nilai-nilai.

Dan setiap dari kita punya perjalanan akan berakhir menuju kematian. Setiap detik yang kita jalani adalah langkah lebih dekat ke sana. Maka, segala yang kita kumpulkan di dunia ini bukan lagi tentang eksistensi—sekadar ada atau terlihat—tapi tentang esensi—apa makna yang kita ciptakan, apa kebaikan yang kita sebarkan, dan siapa diri kita di hadapan Tuhan? Perjalanan pemberdayaan tidak dilakukan orang-orang hebat dan sempurna.

Konon perubahan bahkan revolusi dilakukan oleh orang biasa, idenya biasa, tindakannya biasa, jumlahnya luar biasa namun melawan kebiasaan. Orang-orang biasa ini menyadari keterbatasan dijawab dengan saling tolong menolong menyambung perjalanan pemberdayaan. Bagaimana mendorong pendidikan dalam pemberdayaan? Bagaimana mengajak orang bergerak solid? Bagaimana anggota komunitas punya kesadaran iuran kolektif? Menemukan jalan pemberdayaan tentu dengan mengalami tersesat ke banyak jalan lainnya.

Ambang Kematian

Kematian, betapa pendeknya kata itu, namun membawa seluruh kesedihan dan kepedihan. Kematian adalah tamu tak diundang yang datang tiba-tiba, merebut paksa orang yang kita cintai, meninggalkan jejak kosong yang menganga di relung hati. Dan faktanya kematian adalah tragedi paling pahit dalam sejarah manusia. Kematian adalah kalkulasi yang tak pernah adil, ia selalu menang. Hakikatnya, hidup dan mati menjadi kalkulasi yang tak pernah seimbang.

Dimasa berbaring lemah tubuhnya, aku mengatakan, “dek ada yang mati tapi menang dan ada yang hidup tapi kalah.” Aku meyakini istriku adalah pemenang. Kesabaran, senyuman dan tangisan menjadi satu sikap utuh. Siapakah dari kita yang benar-benar hidup dan siapa dari kita yang hidup tapi jiwanya telah mati? Kematian tetap membutuhkan pemaknaan yang begitu mendalam. Bagaimana kita bisa mengurai kematian terutama ketika ia datang merenggut orang terkasih di depan mata kita?

Tidak semua orang dapat merasakan napas terakhir orang yang kita cintai. Melihat cahaya di mata perlahan meredup, lalu padam, meninggalkan tatapan kosong yang menusuk hingga ke ulu hati. Momen itu, begitu nyata, begitu kejam. Waktu seolah berhenti, suara-suara memudar, dan dunia di sekitar kita runtuh dalam sunyi yang mencekam. Sentuhan tangan yang tadinya hangat, kemudian berubah sedingin es. Senyum yang dulu merekah, kini kaku, membeku dalam keabadian. Di sanalah, di ambang perpisahan itu, kita merasakan kedahsyatan kematian yang tak terlukiskan, betapa ia mampu merampas segala kehangatan, tawa, dan masa depan yang pernah kita bayangkan bersama.

Mengapa orang yang kita cintai harus pergi? Mengapa tawa itu harus membisu, mengapa pelukan itu tak lagi bisa dirasa? Mengapa hidup, yang begitu penuh warna, harus berakhir begitu saja, meninggalkan kita dalam puing-puing kenangan? Apakah ini harga yang harus kita bayar untuk cinta, untuk kebersamaan? Pertanyaan-pertanyaan itu menggema, bergaung, namun tak pernah menemukan jawaban.

Secara statistik, manusia menyaksikan lebih dari 150.000 hingga 180.000 jiwa pamit setiap hari. Bayangkan, setiap 24 jam, populasi sebuah kota kecil lenyap, ditelan sunyi. Dalam sebulan, angka itu membengkak menjadi 4,5 juta hingga 5,4 juta nyawa yang berpisah dari dunia. Dan dalam setahun, bumi kita berduka atas 55 juta hingga 65 juta kepergian. Ini bukan sekadar angka-angka kematian, ini adalah bisikan pilu dari milyaran air mata yang menetes, dari pelukan terakhir yang tak terbalas, dari janji-janji yang tak sempat terpenuhi.

Sebagian besar dari mereka pergi karena penyakit, diam-diam menggerogoti tubuh hingga tak tersisa daya. Penyakit jantung, kanker, stroke, dan diabetes—mereka adalah pembunuh senyap yang tak pandang bulu, merenggut orang tua, muda, bahkan anak-anak yang belum sempat mereguk manisnya kehidupan. Ada yang berjuang di ranjang rumah sakit, napasnya tersengal di antara selang-selang, tatapannya memohon pada malaikat maut untuk sedikit saja menunda. Ada yang pergi dalam tidur, menyisakan kejutan dan duka yang membekas.

Ada mereka yang, di tengah sakit yang menggerogoti, menghadapi akhir dengan ketenangan yang luar biasa, dengan senyum tipis, seolah menerima takdir dengan lapang dada. Mereka tidak mengeluh, tidak meratap. Mereka mengajarkan kita tentang penerimaan, tentang kekuatan jiwa di ambang perpisahan. Kematian selalu menyedihkan, tapi ketabahan adalah warisan yang jauh lebih berharga daripada harta apa pun.

Akhir, Terakhir atau Berakhir

Kematian tetaplah misteri yang terbungkus rapat. Tidak ada yang tahu kapan kematian akan menjemput, dalam bentuk apa? atau di mana? Kita bisa merencanakan segalanya, membangun impian setinggi langit, namun tidak dengan momen perpisahan terakhir. Saat kematian datang, manusia tidak butuh validasi siapapun. Semua sanjungan, semua harta, semua kekuasaan—semua itu sirna. Hanya kebaikan yang akan dipersembahkan.

Setiap kali kita mendengar kabar duka atau menghadiri pemakaman, ada waktu sejenak untuk merenungkan bahwa giliran kita pun akan tiba. Merasakan duka, kematian menjadi pengingat akan kefanaan, pengingat bahwa kita pun akan kembali ke tanah. Kesadaran akan keterbatasan waktu diharapkan membuat kita lebih menghargai setiap detik. Menyadari jangan ada penundaan dalam berbuat baik, dalam meminta maaf, atau mengucapkan kata “aku mencintaimu, aku menyayangimu, aku bahagia denganmu.”

Istri telah pergi dengan tangisan ikhlas dan menuntaskan perjalanan hidup dengan kehormatan. Dan mengingat kematian mendorong kita semua untuk sadar bekal. Ini adalah persiapan terbaik untuk “perjalanan” yang tak terhindarkan. Setiap napas yang terhela adalah sebuah hadiah yang tak ternilai. Setiap detak jantung adalah kesempatan mahal. Kematian adalah bisikan abadi yang mengingatkan kita untuk menghargai setiap momen, setiap tawa, setiap pelukan. Ia adalah pengingat bahwa hidup itu fana, namun cinta dan kenangan akan abadi.

Dan di tengah kesedihan itu, manusia mencoba melihat martabat yang tersembunyi di balik tirai akhir. Mungkin, di sanalah, kita akan menemukan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan, membawa serta kenangan mereka yang telah pergi, hingga tiba saatnya, giliran kita melambaikan tangan, mengucapkan selamat tinggal pada dunia. Apakah kita akan pergi dengan damai, dengan hati yang lapang, dan siap menuju keabadian?

Aku mengutip bait lagu untukmu sayang.

Hifni apa kabarmu di sana semoga baik-baik saja.

Tetap terus bertahan cinta takkan hilang.

Saat hati memanggil biarkanlah hadir.

Rindu ini tanpa jeda, berikanlah cinta.

Dharma Setyawan

ShareSendShare

Discussion about this post

TENTANG KAMI

Payungi hadir atas inisiatif warga berdaya yang percaya perubahan bisa dilakukan dengan gotong royong.

Alamat: Jl. Kedondong, Yosomulyo, Kec. Metro Pusat, Kota Metro, Lampung 34111

Kontak: 0812-7330-7316

LOKASI PAYUNGI

  • Bank Sampah
  • Kampung Bahasa
  • Kampung Kopi
  • Pasar Payungi
  • Payungi Media
  • Payungi University
  • Pesantren Wirausaha
  • Pusat Studi Desa

© Payungi - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi

© Payungi - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In