Oleh
Dr. Achyani, M.Si.
Dosen Magister Pendidikan Biologi UM Metro
Nama Hifni Septina Carolina telah menjadi bagian penting dari jejak pemikiran dan dedikasi generasi ilmuwan muda yang berpihak pada nilai-nilai ekologis dan kemanusiaan. Ia bukan sekadar mahasiswi cemerlang yang menapaki jalur akademik dengan prestasi tinggi, tetapi juga seorang filsuf muda yang berakar dalam kesunyian literasi dan tumbuh dalam kepekaan terhadap lingkungan.
Hifni adalah pribadi yang menyandingkan kedalaman berpikir filosofis dengan kegemaran membaca yang sangat konsisten. Dalam setiap perkuliahan, diskusi, maupun tulisan yang ia hasilkan, terpancar watak ilmiah yang bukan hanya berbasis nalar, tetapi juga sarat perenungan. Ia hidup dalam dunia ide yang tidak hampa dari realitas, melainkan senantiasa mengakar pada persoalan-persoalan riil yang dihadapi bumi dan manusia.
Dalam kesehariannya, almarhumah tampil dengan ketenangan yang khas, jauh dari sorot-sorot ambisi yang riuh, namun menyimpan semangat belajar yang dalam dan tekun. Ia adalah perempuan muda yang terdidik dengan baik (well-educated), berwawasan luas, dan memiliki ketajaman berpikir yang jarang ditemukan pada mahasiswa seangkatannya. Keunggulannya tidak hanya pada kemampuan berpikir sistematis, tetapi juga pada sikap hidup yang berpijak pada prinsip ekologi dan keberlanjutan.
Ia tidak sekadar mengolah gagasan di ruang-ruang akademik, tetapi juga menanamkan visi ekologis yang mendalam—yakni pandangan bahwa manusia bukanlah penguasa alam, melainkan bagian yang harus hidup selaras dan bertanggung jawab terhadapnya. Di tengah krisis ekologi global, suara-suara semacam ini menjadi sangat langka dan bernilai. Namun Hifni hadir sebagai pengecualian: ia tidak sekadar memahami isu lingkungan, tapi juga menghidupinya dalam cara berpikir dan bertindak.
Salah satu karya yang sangat mencerminkan integritas pemikirannya adalah tulisannya yang berjudul “Egosistem No, Ekosistem Yes”. Tulisan ini bukan sekadar opini, tetapi juga merupakan manifestasi dari cara pandangnya terhadap relasi manusia dan alam. Ia mengkritisi pola pikir antroposentris yang egoistik dan menawarkan paradigma alternatif yang lebih arif dan ekologis. Tulisan ini bahkan menjadi titik balik yang membuatnya mendapat penghargaan akademik tertinggi dalam mata kuliah Filsafat dan Bioetika, sebelum perkuliahan itu sendiri usai.
Sebagai dosen Magister Pendidikan Biologi, saya beruntung pernah terlibat langsung bersama almarhumah dalam proses penulisan buku Profetika Ekosistem Lokal. Di sana, saya menyaksikan sendiri bagaimana ketekunan, kejernihan analisis, dan kepekaan spiritualitas ekologis menjadi ciri utama tulisan dan pikirannya. Ia adalah pemikir muda yang tidak hanya menulis untuk menjawab tugas kuliah, tetapi untuk menyampaikan kesaksian dan sikap hidup.
Maka ketika suatu hari ia menghubungi saya untuk memohon rekomendasi studi doktoral (S3) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), saya menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Tidak ada sedikit pun keraguan dalam hati saya untuk menyatakan bahwa almarhumah layak, bahkan sangat layak, menempuh pendidikan doktoralnya. Potensinya lengkap—baik dari sisi akademik, karakter, maupun etos belajar.
Selama menjalani studi di UPI, kami masih beberapa kali berkomunikasi. Sesekali membahas topik kuliah, di lain waktu hanya bertukar salam dari rekan-rekan dosen dan teman-teman lamanya. Dalam setiap pesan singkatnya, saya tetap merasakan semangat yang sama: tenang, dalam, dan tetap mencintai ilmu pengetahuan dengan kerendahan hati.
Namun, waktu memiliki kuasanya sendiri. Ia tidak hanya mengatur ritme belajar dan karier, tetapi juga menentukan batas usia dan perjalanan kehidupan. Dalam irisan waktu itulah, Hifni Septina Carplina berpulang. Meninggalkan dunia di usia yang muda, namun tidak pernah meninggalkan makna.
Hifni mungkin telah pergi secara fisik, tetapi ide dan semangatnya tetap hidup. Ia adalah simbol dari generasi ilmuwan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kompas moral dan keberpihakan ekologis yang jelas. Ia telah menjadi inspirasi bagi kami yang masih melanjutkan hidup—agar tidak pernah berhenti membaca, berpikir, dan mencintai bumi ini dengan cara yang bijak.
Semoga Allah SWT melapangkan jalannya, menerima amal jariyah ilmunya, dan menempatkan almarhumah di taman-taman terbaik-Nya.
Selamat jalan, Hifni. Suaramu akan terus hidup dalam rimba literasi dan gerakan pelestarian yang pernah kau cintai.

Discussion about this post