Ada sebagian orang yang meskipun tak sering kita temui, kehadirannya membekas dalam jalan hidup kita. Bu Hifni, begitu saya mengenalnya adalah salah satu dari mereka.
Saya tidak banyak berinteraksi langsung dengannya. Justru saya lebih sering berinteraksi dengan suaminya, Pak Dharma Setyawan, dosen sekaligus pembimbing saya selama kuliah.
Saya banyak mendengar cerita dari Pak Dharma tentang kehidupan rumah tangga mereka, bagaimana mereka melewati masa-masa sulit bersama, mulai dari tinggal di rumah kontrakan, berpindah-pindah, hingga akhirnya punya rumah sendiri.
Visi mereka jauh, yang mereka bangun bukan sekadar rumah secara fisik, melainkan juga rumah gagasan dan rumah perjuangan.
Dari luar, saya melihat sebuah potret kebersahajaan, kerja keras, dan kemitraan yang solid. Di balik setiap langkah dan gagasan besar Pak Dharma, saya selalu percaya ada penopang yang kokoh, dan penopang itu adalah Bu Hifni.
Seiring waktu, saya melihat Pak Dharma memulai berbagai gerakan berdampak besar, seperti Dam Raman dan Payungi. Tetapi, titik balik paling berarti bagi saya terjadi saat beliau aktif di Women and Environment Studies (WES) Payungi, pusat studi yang fokus pada isu perempuan, gender, dan lingkungan. Di sinilah peran Bu Hifni begitu besar. Keterlibatannya yang langsung menunjukkan bahwa nilai-nilai keadilan dan pemberdayaan yang sering kami bahas dengan Pak Dharma benar-benar menjadi visi hidup yang mereka jalani bersama sebagai pasangan.
WES Payungi adalah bukti nyata bagaimana Bu Hifni mengabdikan dirinya pada hal-hal yang penting dan bermakna. Perannya terasa dalam setiap denyut gerakan. Ia hadir sebagai kekuatan yang tenang, menghidupkan, menjaga arah, dan memastikan langkah-langkah itu terus berjalan.
Nilai-nilai yang beliau perjuangkan begitu lekat dengan apa yang selama ini juga saya yakini. Percakapan tentang kesetaraan, tentang bagaimana perempuan dan lingkungan saling terhubung erat, bukan hanya menyentuh pikiran saya, tapi juga menyentuh hidup saya. Ada getaran personal setiap kali topik-topik itu muncul, seolah saya diajak untuk tidak hanya memahami, tapi juga merawatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Pengaruh itu begitu mendalam hingga ketika putri saya lahir, saya dan istri saya sepakat menyematkan sebuah nama yang terinspirasi dari perjuangan mereka. Kami menamainya Marwah Setara. Nama “Setara” adalah pengingat abadi bagi kami sekeluarga, sebuah monumen kecil untuk sebuah ide besar yang diperjuangkan. Itu adalah cara saya menghormati warisan pemikiran yang telah mengubah cara saya memandang dunia.
Filsuf Albert Pike menulis, “Apa yang kita lakukan untuk diri kita sendiri akan mati bersama kita. Apa yang kita lakukan untuk orang lain dan dunia akan tetap ada dan abadi.”
Bu Hifni mungkin telah berpulang, tetapi apa yang beliau lakukan untuk orang lain akan terus hidup. Warisannya bukanlah bangunan fisik, melainkan bangunan pemikiran di benak banyak orang dan semangat kesetaraan yang terus beresonansi.
Selamat jalan, Bu Hifni. Gema pemikiranmu dan jejak kebaikanmu akan selalu kami jaga. Terima kasih telah menjadi inspirasi, bahkan dari keheninganmu.
Tomi Nur Rohman

Discussion about this post