Kamis, April 30, 2026
Payungi.org
  • Login
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi
No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi
No Result
View All Result
Payungi.org
No Result
View All Result
Home Catatan

Perempuan yang Menyemai Kehidupan

"Ada banyak perempuan kuat, tapi tak banyak yang memilih kelembutan sebagai cara berjuang." - Syachri Ramadhan

by Payungi
30 Juli 2025
in Catatan, In Memoriam: Hifni, Wes
Reading Time: 2min read
A A
0
Perempuan yang Menyemai Kehidupan
Share on FacebookShare on Whatsapp

Tidak semua orang hidup dengan suara keras. Ada yang memilih jalan sunyi—menjadi cahaya tanpa sorotan, menjadi akar tanpa perlu bunga. Mba Hifni Septina Carolina adalah salah satu dari mereka. Hari ini, duka itu datang diam-diam namun dalam, menggema hingga ke sudut-sudut hati yang selama ini mengenalnya bukan hanya sebagai isteri dari mas Dharma Setyawan, tetapi sebagai perempuan yang keberadaannya memberi makna pada banyak ruang kehidupan.

Kepergiannya pada siang hari Senin tanggal 28 Juli 2025 yang lalu, menjadi jeda yang cukup mengagetkan bagi saya. Karena saya tidak mengetahui dan mendengar jika almarhumah tengah sakit yang mungkin karena sudah cukup lama saya tidak berkomunikasi dengan mas Dharma dan main di payungi. Yang saya ketahui dan menjadi ingatan dalam benak saya bahwa almarhumah selalu tampak sehat, kuat dengan caranya sendiri—tenang, sabar, bersahaja. Ia menjalani seolah hidup ini bukan tentang kesulitan, tapi tentang bagaimana merawat yang ada, dengan cinta yang tak bersyarat.

Almarhumah adalah seorang perempuan yang sejak awal saya mengenalnya adalah sosok yang ramah, tenang, sabar dan bersahaja yang tak pernah memperkenalkan dirinya dengan jarak. Ia hadir bukan untuk diajak hormat, tapi untuk diajak bicara. Ia tidak mengambil tempat tinggi, justru memilih duduk sejajar, mendengar, dan menanggapi dengan nada yang mendamaikan.

Di balik setiap kiprah mas Dharma yang begitu dikenal sebagai penggerak masyarakat, ada almarhumah yang setia menjaga semangatnya tetap menyala. Ia bukan hanya istri, tapi teman seperjuangan. Dalam sunyi, ia menyiapkan kekuatan. Dalam lengkung senyum, ia membangun daya tahan dan tetap konsisten dalam gerakan pemberdayaan perempuan. Keduanya seperti dua sisi mata uang: tak bisa dipisahkan, saling menguatkan, saling menjadi.

Ada banyak perempuan kuat, tapi tak banyak yang memilih kelembutan sebagai cara berjuang. Almarhumah melakukannya. Ia menyemai perubahan dengan tindakan kecil yang berulang, dengan kehadiran yang konsisten. Ia menghidupkan ruang-ruang yang kering dengan kasih, menciptakan suasana yang membuat siapa pun merasa diterima, disayangi, dan dihargai.

Dan hari kepergian almarhumah, begitu banyak doa yang ikhlas, yang penuh cinta. Karena kami yakin, perempuan sebaik almarhumah tidak pergi begitu saja. Ia berpulang, ya, tapi ia juga tinggal. Tinggal dalam langkah mas Dharma. Tinggal dalam cita-cita yang belum selesai. Tinggal dalam setiap gerakan pemberdayaan perempuan yang ia mulai bersama teman dan komunitas perempuan lainnya di payungi.

Jenazahnya disambut dengan air mata yang tulus. Kehilangan ini bukan akhir, tapi panggilan untuk melanjutkan. Melanjutkan benih yang ia tanam, agar tumbuh jadi pohon-pohon kehidupan yang lebih rindang, lebih kokoh, dan lebih penuh makna.

Terima kasih untuk almarhumah, yang telah menyentuh kepedulian terhadap pemberdayaan perempuan dengan cara yang sederhana tapi dalam. Engkau telah menunjukkan bahwa menjadi isteri bukan sekadar peran, tapi juga pengabdian. Bahwa menjadi perempuan adalah kekuatan, bukan beban. Dan bahwa cinta yang dijalani dengan ikhlas akan tinggal jauh lebih lama daripada usia.

Semoga engkau damai dalam pelukan Tuhan, Sang Pemilik Hidup. Warisanmu: nilai, cinta, dan semangat kebaikan yang tak pernah padam.

Syachri Ramadhan

ShareSendShare

Discussion about this post

TENTANG KAMI

Payungi hadir atas inisiatif warga berdaya yang percaya perubahan bisa dilakukan dengan gotong royong.

Alamat: Jl. Kedondong, Yosomulyo, Kec. Metro Pusat, Kota Metro, Lampung 34111

Kontak: 0812-7330-7316

LOKASI PAYUNGI

  • Bank Sampah
  • Kampung Bahasa
  • Kampung Kopi
  • Pasar Payungi
  • Payungi Media
  • Payungi University
  • Pesantren Wirausaha
  • Pusat Studi Desa

© Payungi - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi

© Payungi - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In