Setiap kali berjumpa, berbicara, dan berdiskusi dengannya, ada satu hal yang begitu mudah dan sangat susah bagi saya lakukan. Bagian yang paling mudah bagi saya, dan saya yakin juga bagi orang lain, adalah menjatuhkan penilaian bahwa dia adalah orang yang sangat baik. Dapat disimak dari kata-kata yang dipilih dan sistematika kalimat yang disampaikannya, juga cara mengutarakannya, runtun dan runtut, mudah dicerna.
Sementara, satu hal lain yang tak bisa saya lakukan adalah menakar seberapa dalam pemahaman dan seberapa luas pemikirannya, dalam sekali serta luas banget. Kedua hal ini yang membuat saya iri dalam makna positif dan luas.
Saya kagum akan ketulusan dan kesukarelaannya, dalam cara menyedekahkan dirinya untuk berkhidmat pada gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan. Bukan hanya itu, tetapi juga dalam ketulusan mengurangi kebersamaan dengan suaminya, melepas-bebaskan suaminya dalam dunia pergerakan pemberdayaan.
Saya takjub dan kagum, bagaimana semua lara dan segala duka, bagi manusia biasa lainnya, bisa begitu saja dicerna tanpa banyak cerita, tiada banyak drama, dan beragam cerita. Seolah-olah, tak boleh ada satu orang pun yang tahu tentang sakit atau ikut serta berempati merasakan sakitnya, cukup tahu bagian-bagian yang membahagiakannya saja.
Bagi saya, dia tidak pergi, dia tidak pula menghilang. Dia sedang menemui Dzat yang dirindukan dan dicintainya, sedang menjalankan titah untuk membangun dan menyiapkan tempat terbaik bagi kita semua, agar saat nanti kita semua bertemu kembali dengannya, kita semua ada di tempat yang penuh kenyamanan hakiki dan kedamaian sejati.
Semangat dan gagasannya adalah karya terbesar yang ditinggalkan dan diwariskannya. Semangatnya menjadi lentera dalam relung ingatan dan gagasannya menjadi obor dalam lubuk perasaan, yang menjadi suri tauladan penunjuk arah bagaimana menebarkan kebaikan, menyebarkan kebajikan, menyemaikan manfaat, menabur maslahat dalam gerakan pemberdayaan kesejahteraan masyarakat, terutama perempuan.
Semangatnya akan terus hidup, tumbuh, dan berkembang, gagasannya akan selalu membara dan menyala menjadi inspirasi untuk mendamaikan bumi berikut isinya.
Saya cukup banyak belajar darinya, bagaimana usia bisa begitu sangat panjang meskipun hitungan angkanya sudah terhenti. “Yang terpenting adalah bergerak terlebih dahulu, meskipun kecil, jangan menganggap remeh langkah kecil di tahap awal. Semuanya yang besar diawali dengan yang kecil.”
Sampai berjumpa kembali dalam konstruksi ruang dan dimensi waktu, di mana kedamaian menjadi kekal, kenyamanan menjadi abadi, ketenangan, dan kesenangan bersatu padu dalam kelanggengan. Kita bisa punya lebih banyak waktu dan ruang beragam kelak nanti di sana untuk ngobrol tentang apa pun bersama-sama lagi di sana, tentang buku, perempuan, masyarakat, pemberdayaan, nilai, etika, dan segalanya, Mas Dharma Setyawan dan Mbak Hifni Septina Carolina.
Terima kasih banyak sudah banyak menginspirasi dalam rentang waktu yang sementara dan singkat ini.
Meskipun sulit, saya berusaha semaksimal mungkin untuk menolak dari keinginan diri berlarut-larut dalam kesedihan ini. Mengapa? Sebab saya yakin dia sudah menemukan kebahagiaan sejati dalam kehangatan pelukan Sang Penguasa Sejati.
Bulan Ramadhan tahun Masehi ini/tahun Hijriyah lalu, saya berkesempatan menyicipi semua makanan berbuka shaum dan masakan santapan malam bada’ Isya darinya, ikan bakar plus sambal dan sayur, ditambah buah semangka, es kelapa muda, bakwan jagung.
Yerri Noer Kartiko

Discussion about this post