Beberapa orang hadir ke dunia, tidak untuk menjadi pusat perhatian, tetapi untuk memberi arah dan juga penerang. Mereka hidup dengan tenang, bekerja dalam senyap, dan meninggalkan jejak kebaikan yang mendalam. Dan itu kamu, Hifni.
Senin, 28 Juli 2025 pukul 09.56 Founder Payungi menelepon dengan suara terbata, “Bu Muf di mana? Aku mau ngerepotin Ibu. Istriku pengen ketemu Ibuuk…..” (suaranya tercekat, tersendat di kerongkongan berebut ruang dengan isak) “Mbak Hifni di mana, Mas? Posisi saya masih di pasar, saya pulang dulu untuk bebersih dan ke rumah sakit sekarang.” “Iya Buuk, kami tunggu.”
Tak berselang lama, Mas Dharma mengirimkan bangsal dan no kamar.
Aku berusaha tenang, melawan kecamuk, dan merapal doa-doa baik untuk Hifni-ku. Jujurly, sudah sejak Ramadhan tahun lalu, aku mendengar kesehatan Hifni menurun. Dia butuh istirahat dan belum ingin dijenguk. Aku menghormatinya dengan tetap menunaikan hak adam untuk menerima kiriman doa dan sayang.
Beberapa kolega, memintaku merayu Mas Dharma dan Hifni untuk bisa menjenguknya. Berulang kali, ada yang merengek, ada yang menangis, ada yang mungkin sedikit kesal, karena aku tak bergeming. Aku hanya ingin menghargainya, sebagaimana Hifni begitu menghargai privasi orang lain.
Tak berselang lama, 10.30 aku tiba di rumah sakit. Diizinkan masuk oleh keluarga dan langsung diminta duduk di samping Hifni. “Dek, Bu Muf…..” kata Mas Dharma. Hifni tersenyum dan mengangguk, aaaah teduh sekali wajah dengan senyum yang tersungging itu.
Aku mencoba menguasai diri, dengan merapal doa-doa sebisanya. Tiba-tiba Hifni meraih tanganku, “Ibu.. badanku sudah tidak kuat……” Bibirku kelu saat ingin memintanya untuk kuat dan bertahan. Aku hanya membalas genggaman tangannya, dan terus membisikkan Allah.. Allah. Aku yakin hati dan bibir Hifni terus menzikirkan asma Allah beriring dengan napasnya.
Setiap kali mengingat detil pertemuan ini, aku merasa ini momen yang sangat romantis antara aku dan Hifni. Tak banyak kata, hanya senyuman, kedipan mata, dengan tangan yang saling menggenggam. Dialog batin untuk menautkan rindu, mengaitkan jalur perjuangan, dan memberi ruang untuk kecupan selamat jalan. (aku mewek lagi….)
Hifni, aku ingin berlama-lama menemanimu, tapi aku tepis egoku. Satu jam bersamamu di lorong waktu, adalah anugerah tak terbeli. Aku berpamitan, “Mbak… Ibu pamit, maafkan semua tentang Ibuk… Aku kecup keningmu sambil berbisik I love You…..” Aaaah lagi-lagi kau sunggingkan senyum sambil mengangguk.
Aku melangkah gontai, ingin rasanya bertahan menemaninya. Tapi satu jam itu, adalah anugerah. Terimakasih Mas Dharma sudah meneleponku.
Banyak orang mengenal Hifni, sebagai seorang aktivis, pendidik, atau bagian dari komunitas. Lebih dari itu, aku mengenalnya sebagai ruang belajar yang hidup, yang membukakan pintu bagi siapa pun untuk bertumbuh. Ia hadir di ruang-ruang kecil yang sering dianggap tak penting, namun justru di sanalah ia menanam nilai dan menumbuhkan harapan.
Aku mengenal Hifni, perempuan yang tidak banyak bicara, tutur katanya yang lembut dengan suara khasnya yang ngebass, keramahannya yang alami, dan sikapnya yang penuh welas asih. Hifni mungkin tidak selalu berada di depan, tetapi langkahnya terasa sampai ke dalam.
Di ruang-ruang diskusi, ia sering memilih duduk di sudut tak terlihat—mengamati, menyimak, menimbang. Ia tak suka mendominasi percakapan. Tapi setiap kata yang keluar dari lisannya selalu terasa hangat dan berbobot. Hasil dari olahan hati dan pikirannya yang jernih. Ia mendidik tanpa menggurui, menyadarkan tanpa menyakiti. Tidak memaksa orang untuk berubah, tetapi menciptakan ruang agar semua orang bisa bertumbuh.
Kepergian Hifni pada 28 Juli 2025 bukan untuk meninggalkan kita semua, tetapi untuk menggoreskan satu kesadaran kolektif: bahwa nilai hidup yang ia perjuangkan tak boleh ikut dikubur. Kalau boleh aku memaknai genggaman tangannya, dia ingin bilang, “Ibuuu terus berlanjut ya, Bu…..” (meweeeek lagi….)
Aku banyak berproses bersamanya, di Jaringan KUPI, Mubadalah, Aliansi PTRG, PSGA dengan SETARA-nya, dan tentu di WES Payungi. Kadang aku mengajaknya, lain waktu dia yang mengajakku. Kami sama-sama murid yang terus belajar, berbenah dan memantaskan diri untuk memberi manfaat.
Hifni, kamu pembelajar yang baik. Warisan paling kuat yang ditinggalkannya terletak pada inisiatif dan visinya dalam membangun Women and Environment Studies (WES Payungi). Aku mengikuti WES sejak mula kelahirannya lewat WADON, Sekolah Perempuan Penggerak, Liqo literasi, dan Sunday Reading.
Di tengah keterbatasan waktu dan fisik, ia masih membayangkan bahwa komunitas ini akan terus berkembang dan menjangkau lebih banyak perempuan, termasuk para pelajar muda. Bagian ini disampaikan dalam obrolan bersama Mas Dharma sang penggerak.
Sebagai kawan, ia mendengarkan dengan hati yang luas. Sebagai penggerak, ia tidak pernah merasa lebih tahu. Sebagai perempuan, ia menghidupi kesetaraan dengan cara yang sangat halus namun kokoh. Tidak pernah ada narasi kekuasaan dalam kerja-kerjanya—yang ada hanya empati, kesetiaan, dan komitmen panjang terhadap kebaikan. Aku harus colek teman-teman WES. Luckty Giyan Sukarno, Wahyu Puji, Fadhilatul Laili Kurniasih kalian merasakan ini kan???
Aku belajar darinya bahwa aktivisme tidak selalu tentang orasi lantang atau aksi besar-besaran. Terkadang, aktivisme hadir dalam wujud mendengar tanpa pretensi dan menghakimi, berbagi senyum dan peluk penuh kehangatan dan cinta. Dia, dengan segala kesahajaan, telah menunjukkan bahwa nilai-nilai besar bisa dirawat dalam tindakan kecil sehari-hari.
Hifni Septia Carolina (HSC), aku sering berkelakar memancing tawanya, ‘Mbak… ini nama ga Kalirejo banget’. Tapi, lagi-lagi dari obrolan bersama suaminya Mas Dharma, HSC dimaknainya Help, Save, Care. So, powerful meaning. Dan kamu sudah hidupkan nilai HSC, dalam perjalanan hidupmu.
HELP; Menolong Perempuan dan Lingkungan
Bagi Hifni, pemberdayaan adalah kerja panjang yang digerakkan oleh semangat membantu. Ia percaya bahwa banyak perempuan hidup dalam struktur sosial yang membuat mereka sulit menyuarakan kebutuhan atau mengambil peran. Maka mandat hidup kita adalah menolong dan memberdayakan. Ia merancang ruang-ruang aman tempat perempuan bisa belajar, berbicara, dan bersolidaritas.
“Menolong” di mata Hifni bukan perkara besar. Ia percaya bahwa sebuah langkah kecil, —seperti mengajari seorang ibu cara mengelola sampah rumah tangga atau mengajak anak muda bicara soal tubuh dan batas—bisa menjadi mata rantai yang kuat dalam gerakan perubahan. Ia sendiri adalah contoh dari itu: menolong tanpa pamrih, dengan wajah yang tenang dan tangan yang terulur tanpa suara. (menulis sambil kembali nangis lagi)
SAVE; Menciptakan Ruang Aman
Kesadaran akan pentingnya ruang aman adalah salah satu kontribusi paling bermakna dari Hifni. Ia tahu bahwa perempuan dan kelompok rentan sering kali tak hanya mengalami ketimpangan secara struktural, tetapi juga secara kultural—di dalam rumah, di sekolah, di tempat kerja, bahkan dalam organisasi sosial. Maka ia bermimpi menjadikan WES Payungi sebagai tempat di mana siapa pun, terutama perempuan, bisa merasa aman untuk tumbuh, belajar, dan gagal tanpa dihakimi.
Save, bagi Hifni, bukan hanya menyelamatkan dalam arti fisik, tapi menjaga martabat. Menjaga agar suara yang kecil tetap punya tempat. Menjaga agar tubuh, pikiran, dan perasaan setiap orang dihormati. Hifni, kamu orang yang tidak memaksakan pendapat, tak suka membentak, apalagi menghakimi. Tapi setiap keputusannya punya dasar yang kuat, dan setiap sikapnya dibalut oleh kepekaan.
CARE; Merawat Nilai dan Menyemai Harapan
Dari semua kata kunci itu, care adalah yang paling melekat dalam cara Hifni menjalani hidupnya. Ia merawat orang-orang di sekitarnya: dari keluarga, kawan komunitas, hingga teman-teman program pemberdayaan. Ia tidak pernah hadir sebagai tokoh yang ‘lebih tinggi’, tapi sebagai sesama yang mau berjalan beriringan. Ia percaya bahwa perubahan sosial tidak bisa dibangun dengan kemarahan semata, tetapi dengan perawatan: terhadap relasi, terhadap nilai, terhadap semangat.
Hifni…… ragamu telah berpulang, saat kau berkata lirih, “tubuhku sudah tidak kuat”, aku tidak egois untuk memaksamu bertahan. Kembalilah ke keabadian. Tapi nilai-nilai yang yang sudah kau semai, harus terus dirawat agar terus bertumbuh dan berkembang.
Help, Save, dan Care bukan lagi sekadar rangkaian huruf, melainkan prinsip hidup yang terus bergema dalam komunitas, dalam hati sahabat, dan dalam langkah siapa pun yang pernah mengenalnya.
Ia telah memberi teladan bahwa pemberdayaan bukan tentang suara keras, tapi tentang keberanian untuk lembut. Ia menunjukkan bahwa perubahan tidak harus dilakukan dari podium, tetapi bisa dimulai dari dapur, ruang tamu, dan lapak kecil di pasar. Ia tidak mencari pujian, tapi setiap langkahnya adalah puisi ketulusan.
Terima kasih, Hifni-ku sayang. Engkau memang telah pergi, tapi kami tahu: yang pergi hanya raga, yang tinggal adalah nilai. Dan nilai itu akan terus menjadi suluh.
Mufliha Wijayati
Dalam perjalanan menuju Jiran

Discussion about this post