Umur yang berkah, di dalamnya diisi dengan kebaikan dan penuh manfaat. Bahkan kepergiannya penuh nasihat, hanya menyisakan kenangan manis dan rasa kehilangan mendalam bagi siapa pun yang pernah mengenalnya.
Terima kasih, Mba Hifni, sudah menolongku (help) ketika aku menjadi perempuan yang sangat rapuh saat itu, (save) menjadi ruang aman untukku bercerita, dan (care) peduli mencarikan solusi terbaik hingga aku menemukan cahaya saat aku merasa buntu akan masalah yang kuhadapi.
Mba Hifni…
Aku seperti baru bangun dari mimpi buruk. Aku baru mampu mencerna, Mba benar-benar sudah pergi dari kehidupan kami menuju fase kehidupan berikutnya. Tapi, Mba berhasil menanamkan nilai-nilai yang Mba perjuangkan semasa hidup untuk tetap tinggal di sini, di hati kami, penyemangat bagi siapa pun yang jiwanya pernah tersentuh olehmu, Mba. Aku yakin itu menjadi amal jariyah penerang keabadianmu, Mba.
Kehadiranmu anugerah buatku, Mba. Allah baik banget menghadirkan sosok teladan seperti Mba Hifni. Banyak orang yang menulis tentangmu, berusaha menggambarkan dirimu sesuai versi mereka. Isinya semua benar, tapi tetap tidak akan mampu menggambarkan sosok Mba Hifni seutuhnya.
Mba Hifni terlalu sempurna untuk menjadi seorang teman, kakak, dan guru.
Aku merasa akulah orang paling dekat dengan Mba Hifni. Tapi, ternyata semua orang merasakan hal yang sama. Mba benar-benar menerapkan apa yang Rasul contohkan (membuat semua orang di sekitarnya merasa dialah yang paling dekat dan dicintai oleh Mba Hifni).
Mba, sejak Maret lalu perasaanku naik turun setiap mendengar kabar tentangmu. Kabarnya, dirimu sakit, yang kudengar tubuhmu semakin kurus.
Tapi dari cerita mereka, kamu nggak mau membahas sakitmu. Mba tetap ceria meski tubuhmu semakin lemah. Tidak ada keluhan yang mereka dengar, hanya satu kalimat yang membuat aku maju selangkah dan mundur lebih jauh untuk nekat pengin ketemu Mba: “Mba Hifni butuh istirahat.”
Baiklah, Mba, aku nggak akan memaksakan mau ketemu Mba. Dan lagi, aku belajar batasan, Mba Hifni butuh privasi yang harus dihormati. Aku yakin Mba sembuh. Kita akan ketemu dan aku akan banyak bercerita lagi ke Mba.
Tapi, semakin hari kabar yang kudengar semakin membuat aku khawatir, dan benar saja, 28 Juli 2025, kabar yang aku takutkan benar-benar terjadi…
Mba, maafin aku nggak pernah mampu hadir dalam sakitmu.
Aku sempat emosi, kenapa aku nggak boleh nengok Mba? Kenapa aku nggak boleh ketemu Mba Hifni? Untuk sekadar mengucap terima kasih dan kata maaf?
Tapi itulah dirimu, Mba, yang semua perilakumu adalah ilmu dan contoh.
Mba Hifni benar-benar tidak ingin membuat kami khawatir. Mba Hifni tetap menunjukkan dirinya setegar batu karang dengan menciptakan “dinding tebal” di saat tubuhnya benar-benar rapuh melawan penyakit yang Allah kirimkan untuk menghapus semua khilaf Mba Hifni di dunia, untuk menutup kehidupan yang Allah cukupkan dengan sempurna.
Terima kasih sudah hadir dalam hidupku ya, Mba.
Entah kenapa hari ini aku bisa menerima kepergianmu dengan manis, semanis senyum yang selalu Mba suguhkan kepada kami. Aku merasa aman, tidak perlu takut lagi dengan maut. Jika suatu saat Allah panggil aku pulang, ada Mba Hifni di sana. Suatu saat aku akan menyusulmu, Mba. Semoga Allah kumpulkan kita di surga-Nya. Amin.
Atik Purwasih

Discussion about this post