Nani Zulminarni
Direktur Ashoka Asia Tenggara
Saya memang mengenal Hifni Septina Carolina belum terlalu lama, namun rasanya kami didekatkan oleh visi, misi dan rasa dalam perjuangan perempuan Indonesia. Hifni saya kenal dari dua ruang pergerakan; pertama bersama Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) dimana Hifni aktif sebagai salah seorang penulis di Mubaddallah.id, dan kedua bersama Ashoka melalui gerakan Spiritual Inspiring Changemaking Initiative (SICI). Meskipun sama-sama lahir di bulan September, namun kami berbeda generasi – Hifni seusia anak pertama saya yaitu dari generasi Milineal yang lahir pada tahun 1988, sedangkan saya dari generasi Baby Boomer yang lahir tahun 60 an. Namun kami merasa memiliki ikatan emosional yang cukup kuat sejak pertama bertemu beberapa tahun lalu, salah satunya karena kemiripan fokus kerja yaitu pada pendidikan perempuan. Secara personal saya selalu mengagumi perempuan muda pemimpin yang muncul dari daerah-daerah di luar Pulau Jawa. Dan Hifni adalah salah seorang yang saya deteksi mengembangkan banyak inisiatif di daerahnya.
Untuk melengkapi berbagai kenangan tentang Hifni yang telah dituliskan oleh sahabat-sahabatnya, maka saya ingin menuliskan kenangan saya dari sudut padang Ashoka – yang sedang menggaungkan “Gerakan Everyone A Changemaker”, dimana Hifni terlibat sebagai salah seorang perempuan pemimpin dari Metro – Lampung. Selaku founder komunitas Women and Environment Studies (WES) Payungi, Hifni menggawangi Liqo Literasi secara rutin membahas berbagai topik terkait kehidupan perempuan dan perjuangannya. Melalui inisiatif ini Hifni bertemu dan saling belajar dari banyak tokoh perempuan yang dihadirkannya dalam kegiatan Women Active Discussion (WaDON). Upaya Hifni bersama Payungi mengadakan Sekolah Penggerak Perempuan untuk para remaja di wilayah Lampung, sejalan dengan berbagia inisiatif pendidikan bagi perempuan yang saya lakukan bersama kawan-kawan komunitas dilingkungan organisasi yang pernah saya pimpin seperti PPSW, PEKKA, ASPPUK dan FAMM Indonesia.
Hifni adalah perempuan muda pembuat perubahan – dalam Bahasa Ashoka kami sebut sebagai seorang Change Maker. Dari kacamata Ashoka, Hifni juga adalah seorang Social Enterpreneur (wirausahawati sosial), yang tidak pernah berhenti mencari dan menemukan cara-cara mengintegrasikan pemikiran dan gugatan sosialnya kedalam kerja nyata. Salah satu nya adalah di arena gerakan untuk menjaga kelestarian bumi bagi kehidupan yang berkelanjutan. Ketika Ashoka bekerjasama dengan EcoBhinneka Muhammadiyah untuk pertama kalinya menyelenggarakan lokakarya SICI bagi para pemimpin spiritual dan interfaith yang memimpin gerakan menjaga bumi, Hifni termasuk salah seorang yang mendaftarkan dirinya.
Pengalamannya mendirikan Bank Sampah Mubaddallah serta pengolahan sampah organik rumah tangga di lingkup kerja Payungi di Metro, membuat Hifni merasa lokakarya SICI sejalan dengan misinya di Metro, Lampung. Ketika kepada Hifni ditanyakan hubungan antara kelestarian lingkungan dan keyakinan agama dalam Gerakan Pembaharuan (Changemaker Movement), Hifni memberikan jawaban yang mencerahkan. Hifni mengatakan “Kelestarian lingkungan sangat erat hubungannya dengan keyakinan dan agama, karena dalam agama juga mengatur tentang relasi manusia dengan alam. Namun belum diimplementasikan dengan baik. Kerusakan lingkungan yang terjadi, ada andil dari manusia. Pun, kelestarian lingkungan juga dapat dilakukan oleh manusia juga. Sebagai gerakan pembaharu, lingkungan memang menjadi concern dan fokus saya dalam gerakan komunitas Women and Environment Studies.”
Cukup lama saya tidak mendengar kabar tentang Hifni, bahkan ketika saya ke Lampung, dan berkunjung ke Payungi di Metro pada awal tahun 2025 yang lalu, saya tidak bertemu Hifni, hanya bertemu Dharma Setyawan – sang suami, kekasih hatinya. Ketika itu saya berfikir Hifni pasti sedang sibuk karena memang dia sangat aktif di banyak jejaring. Namun dalam pertemuan-pertemuan yang dilakukan, selalu ada perwakilan WES Payungi, sehingga saya tetap merasakan kehadiran Hifni melalui tim yang dibangunnya. Oleh karena itu, saya cukup kaget mendengar kepergian Hifni kembali ke Sang Pencipta. Hifni, “Gone to soon”, Innalillahi wa inna ilaihi ra ji’un. Terngiang suaranya yang lembut, berat, namun tegas, terbayang senyum nya yang selalu terkulum setiap berbicara, dan terlintas tatapan mata nya yang memancarkan persahabatan ketika berinteraksi.
Jasad Hifni telah dikembalikan ke bumi yang dia cintai, namun saya merasa semakin mengenalnya ketika membaca tulisan Dharma dan sahabat-sahabat yang mengasihinya, dari laman sosial media FB, yang sangat dalam dan menyentuh hati. Tulisan Kang Faqih dari Mubaddalah meneguhkan pengenalan saya tentang Hifni sebagai seorang Ulama Perempuan. Kita semua kehilangan seorang Perempuan muda pemimpin yang konsisten. Hifni meninggalkan banyak legasi yang harus diteruskan oleh tim nya, oleh kita semua. Seorang perempuan muda pemimpin, pejuang, dan change maker, telah menuntaskan tugas nya sebagai khalifah dibumi ini. Semoga Hifni pulang dengan ketenangan, dalam kesejahteraan dan Rahmat Allah swt.


Bangkok, 2 Agustus 2025
Discussion about this post