Oleh: Julianto Nugroho
Setahun.
Rasanya baru kemarin kabar itu datang dan membuat waktu seolah berhenti bergerak. Kini, tanpa terasa, kalender telah membawa kami sampai pada hari yang sama. Hari ketika Mba Hifni menyelesaikan seluruh ikhtiarnya di dunia, lalu pulang kepada Sang Pemilik Hidup.
Orang sering berkata bahwa waktu akan menyembuhkan. Kami tidak sepenuhnya percaya. Waktu tidak menghapus kehilangan. Ia hanya mengajarkan kita cara hidup berdampingan dengannya. Duka yang dulu terasa begitu riuh, kini menjadi lebih sunyi. Tidak hilang, hanya menemukan tempatnya sendiri di dalam hati.
Setahun ini membuat kami mengerti bahwa kepergian seseorang ternyata tidak selalu meninggalkan kekosongan. Ada orang-orang yang justru tetap tinggal melalui nilai-nilai yang mereka hidupi. Mba Hifni adalah salah satunya.
Kami masih mengingat bagaimana ia memilih hidup dengan tenang. Tidak banyak bicara, tetapi setiap perkataannya terasa cukup. Tidak pernah sibuk memperlihatkan dirinya, tetapi kehadirannya selalu membuat orang lain merasa diterima. Ada kelembutan yang sulit dijelaskan. Bukan kelembutan yang lemah, melainkan kelembutan yang membuat siapa pun di sekitarnya merasa aman.
Sepeninggal Mba Hifni, kami memang sempat merasa kehilangan arah. Ada ruang yang mendadak kosong. Ada semangat yang seolah ikut redup. Kami bertanya-tanya, apakah gerakan-gerakan yang selama ini dibangun bersama masih akan mampu bertahan?
Hari ini kami tahu jawabannya.
Ternyata kebaikan memang memiliki caranya sendiri untuk hidup lebih lama daripada manusia. Ia tidak berhenti pada satu nama. Ia menyebar, perlahan, tanpa suara. Seperti spora yang dilepaskan angin, lalu menemukan tanah yang subur di hati orang-orang yang memiliki frekuensi yang sama. Dari sanalah ia tumbuh kembali, menjelma menjadi kepedulian, menjadi keberanian untuk menolong, menjadi kesediaan untuk hadir bagi sesama.
Barangkali itulah warisan yang paling sulit diukur. Bukan bangunan. Bukan penghargaan. Bukan pula banyaknya orang yang mengenang. Melainkan nilai-nilai yang tetap hidup, bahkan ketika pemiliknya telah lama pergi.
Kami percaya, setiap orang baik meninggalkan jejak. Ada yang jejaknya memudar bersama waktu. Ada pula yang justru semakin jelas karena terus dilalui oleh langkah-langkah berikutnya. Mba Hifni termasuk yang kedua.
Hari ini, ketika melihat orang-orang yang masih bergerak dengan semangat yang sama, kami merasa sedang melihat sebagian kecil dirinya. Bukan wajahnya, tentu saja. Melainkan cara ia memandang hidup. Cara ia memuliakan manusia. Cara ia percaya bahwa kebaikan tidak membutuhkan sorotan, hanya membutuhkan ketulusan untuk terus dilakukan.
Logo HSC Center bagi kami, itu bukan sekadar pekerjaan desain. Mungkin itu adalah satu-satunya hal yang bisa kami dedikasikan untuk Mba Hifni. Sangat sederhana jika dibandingkan dengan seluruh hidup yang telah ia persembahkan bagi orang lain. Namun kami berharap, setiap kali logo itu dilihat, selalu ada semangat yang ikut diingat: Help, Save & Care. Tiga kata yang rasanya begitu dekat dengan cara Mba Hifni menjalani hidupnya.
Terima kasih, Mba Hifni.
Doa-doa mungkin tak lagi kami ucapkan dengan tangis yang sama seperti setahun lalu. Namun rasa hormat itu tetap utuh. Semoga, selama masih ada orang-orang yang memilih menolong tanpa pamrih, menyelamatkan tanpa membedakan, dan merawat kehidupan dengan kasih, nama Mba Hifni akan selalu hidup. Bukan hanya dalam ingatan kami, tetapi juga dalam setiap kebaikan yang terus bertumbuh.