Ada sosok yang tak banyak bicara, namun dalam diamnya menyimpan semangat yang luar biasa. Namanya Hifni Septina Carolina. Ia bukan hanya berbakat, tapi juga memiliki cara tersendiri dalam menunjukkan bahwa kerja keras dan ketekunan adalah bahasa cinta yang paling jujur untuk meraih impian.
Aku tidak sering bercerita tentangnya. Mungkin karena terlalu kagum, atau karena tak ingin kata-kata mereduksi makna kekaguman yang begitu dalam. Tapi satu hal yang pasti: setiap kali aku melihat semangat mereka mbak hifni dan pak Dharma, melihat cara Hifni melangkah, jatuh, bangkit, dan tetap berjalan—aku merasa seperti sedang menyaksikan matahari yang terus bersinar, tak peduli awan gelap yang mencoba menghalangi.
Setiap usaha yang mereka lakukan, setiap detail kecil yang mereka pikirkan dengan serius, membuatku diam-diam tersenyum. Aku terlalu bahagia melihat perjuangan itu. Ada semacam haru yang tak bisa dijelaskan. Seolah aku ikut merasakan setiap detak yang mereka lalui, setiap ketakutan yang mereka kalahkan, dan setiap kemenangan kecil yang mereka raih.
Hifni bukan hanya berbakat dalam hal yang mereka tekuni, tapi juga dalam menciptakan pengaruh tanpa harus menjadi pusat perhatian. Mereka adalah inspirasi yang berjalan tanpa perlu mengumumkan diri. Dan mungkin, dalam diamku, aku adalah saksi kecil atas besarnya tekad dan kebaikan hati yang mereka bawa ke mana pun mereka melangkah.
Kadang aku ingin berkata, “Kau hebat.” Tapi kata itu terasa tak cukup. Maka aku memilih tetap mengagumi, tetap mendoakan, dan tetap menikmati kehangatan semangat mereka dari jauh.
Aku pernah berada dalam satu ruangan kerja dengan Hifni Septina Carolina di LPPM . Satu fase yang sederhana, tapi begitu berarti. Dari situlah aku mulai mengenalnya, bukan hanya dari pencapaiannya, tapi dari keteduhan karakternya.
Hifni adalah sosok yang lembut, sopan, dan penuh etika. Tak pernah terdengar meninggikan diri, tak pernah ada kesan ingin terlihat paling menonjol. Padahal, dia memiliki sesuatu yang luar biasa—Kampung Pengabdian payungi yang tersohor di Kota Metro, yang bahkan disebut-sebut sebagai salah satu kekuatan utama gerakan sosial dan edukatif di kota ini.
Namun justru itulah yang membuatku semakin kagum. Di tengah segala pencapaiannya, Hifni tetap membumi. Ia hadir sebagai rekan kerja yang hangat, tidak segan membantu, tidak sulit diajak berdiskusi, dan selalu bisa menjadi penenang dalam riuhnya tekanan pekerjaan. Ketika banyak orang berlomba menunjukkan siapa mereka, Hifni memilih diam, bekerja, dan memberikan makna lewat tindakan.
Kampung Pengabdian yang ia bangun bukan hanya tentang program, melainkan tentang hati yang menyatu dengan masyarakat. Ia bukan hanya hadir di sana sebagai “pembawa bantuan”, tetapi sebagai bagian dari denyut nadi desa itu sendiri. Sebuah warisan pengabdian yang tidak hanya mengangkat nama Hifni, tapi juga membawa Kota Metro ke peta harapan dan peradaban sosial yang lebih kuat.
Setiap kali aku melihatnya—baik di kantor, di lapangan, atau hanya lewat cerita orang—aku selalu merasa sedang belajar. Tentang rendah hati. Tentang integritas. Tentang bagaimana menjadi kuat tanpa menginjak orang lain, dan tentang bagaimana menjadi pemimpin tanpa perlu kursi dan sorotan.
Mungkin itulah kenapa aku terlalu bahagia saat melihat perjuangannya. Karena aku tahu, di balik itu semua, ada ketulusan yang langka. Dan bisa berada di ruang yang sama dengannya, meski hanya sejenak, adalah kehormatan yang diam-diam terus aku syukuri.
Banyak orang terkesan dengan pencapaian besar Mbak Hifni Septina Carolina. Dan memang tak bisa disangkal, apa yang telah ia bangun—terutama Kampung Pengabdian di Kota Metro—adalah prestasi yang menginspirasi, menjadi kekuatan sosial yang membawa dampak nyata. Namun bagiku, kekaguman itu justru tumbuh dari hal-hal yang paling sederhana, yang tidak banyak orang sadari, tapi sangat bermakna.
Yang paling membekas adalah satu hal: aku tidak pernah sekalipun mendengar Mbak Hifni membicarakan orang lain dengan nada yang merendahkan. Tidak dalam keluhan, tidak dalam sindiran. Ia menjaga lisannya seperti ia menjaga kehormatannya. Di saat dunia kerja seringkali dipenuhi percakapan yang menyudutkan, ia hadir sebagai pengecualian—sunyi dari gunjingan, tenang dalam tutur kata.
Akhlaknya itu, yang mungkin dianggap biasa oleh banyak orang, justru bagiku adalah kunci utama dalam kemuliaan seorang wanita. Kesantunan, ketenangan, dan cara ia membawa diri—semua itu lebih berharga daripada pencapaian luar yang bisa dicatat dan difoto.
Aku terlalu senang berada dalam lingkungan seperti itu. Lingkungan yang penuh kedamaian, tidak saling menjatuhkan, dan dipenuhi orang-orang seperti Mbak Hifni—yang memilih menjadi sejuk, bukan membakar. Tapi seperti hidup yang tak bisa selalu kita pilih arahnya, aku pun harus berpindah tugas ke Gorontalo. Mutasi itu membawaku pergi, meninggalkan ruang yang pernah hangat karena keberadaan orang-orang baik.
Setelah mutasi ke Gorontalo, aku masih tetap satu grup WhatsApp dengan Mbak Hifni. Lama tak terdengar kabarnya, aku kira ia hanya tengah sibuk atau sengaja menjauh dari keramaian digital. Tapi kabar yang akhirnya datang membuat dunia sejenak hening bagiku: Mbak Hifni telah wafat karena sakit.
Heningku berubah menjadi perenungan. Sosok yang selama ini diam-diam kukagumi, yang lembut dan santun, kini telah berpulang. Yang terlintas segera dalam benakku adalah satu hal yang tak pernah bisa disangkal oleh siapa pun yang mengenalnya: Mbak Hifni adalah tiang penyangga hati Pak Dharma.
Sebagaimana Khadijah bagi Rasulullah, begitu pula Mbak Hifni bagi Pak Dharma—bukan hanya istri, tapi penopang jiwa, teman seperjalanan, tempat pulang dari lelah dan pencarian panjang. Dalam suka dan duka, ia hadir, tak menuntut sorotan, tapi selalu menguatkan dalam senyap.
Kehilangan ini tak hanya milik Pak Dharma. Kami yang jauh pun turut berduka. Karena dalam sosok Mbak Hifni, kami melihat keteladanan seorang perempuan beriman: kuat tanpa harus keras, lembut tanpa harus lemah, gigih tanpa perlu banyak bicara.
Ia telah memberi contoh nyata bahwa pengabdian yang ikhlas tidak membutuhkan panggung. Ia mengabdi kepada masyarakat, kepada keluarganya, dan kepada Allah, dengan ketulusan yang jarang dijumpai. Ia membuktikan bahwa menjadi baik tidak harus banyak bicara, cukup banyak memberi.
Selamat jalan, Mbak Hifni.
Engkau telah menyelesaikan tugasmu di dunia dengan baik.
Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadahmu, mengampuni segala khilafmu, dan menempatkanmu di sisi-Nya bersama para perempuan mulia, bersama Khadijah, Fatimah, dan para wanita surga lainnya.
Bagi kami yang masih di sini, kau adalah teladan—dan akan selalu begitu.
Terima kasih, Mbak Hifni.
Dari sosokmu kami belajar, bahwa ketenangan hidup bisa ditemukan lewat keikhlasan hati, dan bahwa Metro menjadi nyaman karena di sana pernah ada engkau.
Nurul Mahmudah – Nurma (IAIN Sultan Amai Gorontalo)

Discussion about this post