Saya baru mendapatkan kabar duka siang ini. Istri sahabat saya Mas Dharma Setyawan berpulang. Saya mengenal baik Mbak Hifni Septina Carolina, mereka adalah orang-orang baik, yang hari-harinya lebih banyak diwakafkan ke warga, untuk pemberdayaan masyarakat Payungi.
Tentu ini kabar mengagetkan, karena saya tidak pernah mendapati informasi bahwa Mbak Hifni sakit sebelumnya. Ah, saya memang jarang keluar rumah, sehingga yang terdekat dari saya, saya pun tak tahu.
Beberapa hari yang lalu saya membaca tulisan tentang sabar. Dan ujian kesabaran seperti yang ditulisnya itu, kini benar-benar dialaminya.
Sabar dan ikhlaskan. Kita hanyalah barisan yang sedang menunggu untuk ‘pulang’, karena setiap yang bernyawa pasti mati. Sayangnya, kita seringkali terjebak di antara paradoks-paradoks kehidupan; sadar kita fana, tetapi seringkali menjalani hidup seolah akan hidup abadi.
Kita sering diajari sejak kecil untuk meraih sebanyak-banyaknya: nilai bagus, penghargaan, kekayaan, pengaruh, dan pengakuan. Tapi jarang sekali kita diajari tentang seni melepaskan. Tentang bagaimana cara menerima kekalahan, menghadapi kehilangan, atau merelakan hal-hal yang tidak dapat kita genggam selamanya.
Padahal, hidup bukan hanya soal mendapatkan, tetapi juga tentang merelakan—tanpa membenci, tanpa menuntut balasan.
Keikhlasan tidak berarti menyerah, tetapi membebaskan diri dari keharusan untuk selalu menang. Ia bukan tanda kelemahan, tapi kematangan jiwa yang telah belajar bahwa tidak semua yang hilang adalah kerugian, dan tidak semua yang tertunda adalah penolakan. Ketika kita mulai menjalani hidup tanpa terlalu banyak menuntut, kita justru menemukan kedamaian yang tidak bisa dibeli oleh kemenangan apa pun.
Dalam relasi kita dengan orang lain, kita pun sering terjebak dalam hubungan transaksional. Kita memberi, tapi diam-diam berharap kembali. Kita mencintai, tapi diam-diam ingin mengendalikan atau dikendalikan.
Martin Buber, dalam filsafat dialogisnya, membedakan dua jenis hubungan manusia: hubungan Aku-Itu dan hubungan Aku-Engkau. Yang pertama melihat orang lain sebagai objek, sebagai alat untuk mencapai tujuan. Yang kedua melihat orang lain sebagai pribadi yang utuh—bukan untuk dimiliki, tetapi untuk dihadirkan sepenuh hati.
Keikhlasan, dalam makna terdalamnya, adalah ketika kita bisa masuk ke dalam hubungan Aku-Engkau: bukan saling memanfaatkan, tapi saling menghidupkan. Bukan mencari keuntungan, tetapi menemukan makna. Dalam hubungan seperti ini, kita tidak lagi sekadar “bersama”, tapi benar-benar “hadir”. Kita mencintai bukan karena butuh, tapi karena sadar bahwa cinta itu sendiri adalah anugerah yang membebaskan—bukan yang mengekang.
Ali Syariati, dalam refleksi filsafat spiritualnya, pernah menyatakan bahwa puncak ibadah adalah pengorbanan yang disadari. Bahwa manusia yang mencintai Tuhan tidak hanya berdoa untuk diberi, tetapi juga siap menyerahkan apa yang paling ia cintai—demi kedalaman makna, bukan demi imbalan.
Dalam kisah Nabi Ibrahim, kita belajar bahwa keikhlasan sejati bukan terletak pada apa yang dikurbankan, tapi pada kesediaan untuk melepaskan. Bahkan sesuatu yang sangat kita cintai, jika itu diminta oleh kebaikan yang lebih tinggi, harus rela dilepas dengan cinta pula.
**
Saya yakin, Mbak Hifni dan Mas Dharma telah lama selesai dari paradoks-paradoks kehidupan tersebut. Keduanya adalah orang-orang yang kuat, yang hidupnya bukan lagi hanya untuk dirinya sendiri. Keduanya telah menemukan kedalaman makna hubungan.
Mbak Hifni, engkau orang baik. Perjuangan dan pengorbananmu telah usai, kembalilah dalam pelukan Tuhan dengan tenang, penuh senyum.
Mas Dharma, sebagai orang baik dan telah melampaui banyak hal, saya meyakini kamu kuat, melewati jalan takdir ini. Sabar, ikhlas. Semua dari-Nya dan semuanya juga pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.
Abadilah dalam kebaikan dan pengabdian. Aamiin.
Rahmatul Ummah

Discussion about this post