Kamis, April 2, 2026
Payungi.org
  • Login
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi
No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi
No Result
View All Result
Payungi.org
No Result
View All Result
Home Catatan

Hifni, Perempuan yang Menjadi Rumah dan Tak Pernah Pergi dari Hati

"Mbak Hifni bukan hanya teman kerja, ia jadi tempat pulang bagi banyak kegelisahan dan keceriaan." - Elfa Bunda'e Alladien

by Payungi
3 Agustus 2025
in Catatan, In Memoriam: Hifni, Wes
Reading Time: 2min read
A A
0
Hifni, Perempuan yang Menjadi Rumah dan Tak Pernah Pergi dari Hati
Share on FacebookShare on Whatsapp

Aku selalu merasa cukup kuat untuk menghadapi perpisahan. Tapi entah mengapa, saat mataku menangkap kalimat, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un,” jemariku yang semula lincah menuliskan ide tiba-tiba terhenti. Dada ini sesak, lalu tanpa sadar air mata pun jatuh. Rasanya sulit percaya… bahwa Mbak Hifni benar-benar telah pergi.

Ia adalah perempuan yang dalam diamnya menyimpan kekuatan, dan dalam kesehariannya menanamkan begitu banyak makna—bukan hanya dalam hidupku, tapi juga dalam hidup banyak orang.

Pertama kali kami bertemu dalam ruang kerja di LPPM—di Pusat Studi Gender dan Anak. Saat itu aku belum terlalu mengenalnya. Tapi sejak awal, ada sesuatu dari dirinya yang terasa berbeda. Ia bicara pelan, lembut, tidak tergesa-gesa. Aku yang biasa bicara “dar der dor” seperti petasan tahun baru, kadang heran sendiri bagaimana Mbak Hifni bisa begitu tenang bahkan ketika sedang marah. Tidak ada suara meninggi, tidak ada intonasi keras. Tapi semua tahu: ia tegas. Ia tahu apa yang ia perjuangkan.

Dalam kerja-kerja kemanusiaan, kesetaraan, dan pemberdayaan perempuan, Mbak Hifni tidak pernah menempatkan dirinya sebagai yang paling tahu. Ia mendengarkan dengan sepenuh hati, menyimak setiap kalimat, bahkan yang tercecer sekalipun. Lalu dari mendengar itu, ia menjahit ide. Ide yang bukan hanya cerdas, tapi juga peduli. Yang bukan hanya analitis, tapi juga menyelamatkan.

Dan aku? Aku diam-diam belajar darinya. Dari caranya bicara, dari caranya menenangkan ruang diskusi, dari caranya membuat semua orang merasa berarti. Tapi tentu saja, kami juga punya sisi lain yang penuh canda. Percakapan paling sering kami bicarakan? Bukan tentang teori feminisme gelombang ketiga, bukan strategi advokasi kampus ramah anak—tapi jus sayur dan buah, menu diet, dan cara mengurangi berat badan yang sering gagal itu. Ya, sangat receh. Tapi justru dari situ, kehangatan itu tumbuh. Mbak Hifni bukan hanya teman kerja, ia jadi tempat pulang bagi banyak kegelisahan dan keceriaan.

Bersama Mbak Hifni, saya pernah menempuh perjalanan ke Medan untuk pra-KUPI, ke Palembang, dan tentu dalam berbagai ruang diskusi di PSGA, aliansi PTRG, atau Payungi. Di tiap perjalanan itu, ia tidak hanya hadir secara fisik. Ia hadir dengan pemikiran, semangat, dan empati yang luar biasa. Dalam gerakan-gerakan kecil yang kemudian menjelma besar, Mbak Hifni selalu menjadi ruhnya. Ia tak harus berada di depan, tapi semua tahu ia bagian yang paling menjaga.

Momen kebersamaan kami bukan hanya tentang kerja, tapi juga tentang luapan bahagia, emosi, dan penasaran yang selalu kami akhiri dengan tawa. Ia adalah sahabat yang membuat dunia terasa lebih lembut, lebih pelan, dan lebih layak untuk dijalani dengan hati.

Senin, 28 Juli 2025… bukanlah akhir. Itu hanyalah cara indah Allah untuk membuat kami semua lebih merindukanmu, Hifni.

Merindukanmu dalam-dalam, tanpa bisa lagi memelukmu, tanpa bisa lagi mendengar suaramu. Tapi rindu itu akan sembuh perlahan, karena engkau telah meninggalkan jejak-jejak yang hidup. Perjuanganmu menjadi penawar, ide-idemu menjadi pelipur. Kami akan belajar mencintai tanpa harus bertemu, sebab hadirmu telah menjelma dalam nilai-nilai yang kau tanam: tentang keberdayaan, tentang kesetaraan, tentang kebaikan yang tidak pernah memaksa untuk terlihat.

Kau tetap menyala, Hifni. Dan kami akan terus menjaga apinya.

Elfa Bunda’e Alladien

ShareSendShare

Discussion about this post

TENTANG KAMI

Payungi hadir atas inisiatif warga berdaya yang percaya perubahan bisa dilakukan dengan gotong royong.

Alamat: Jl. Kedondong, Yosomulyo, Kec. Metro Pusat, Kota Metro, Lampung 34111

Kontak: 0812-7330-7316

LOKASI PAYUNGI

  • Bank Sampah
  • Kampung Bahasa
  • Kampung Kopi
  • Pasar Payungi
  • Payungi Media
  • Payungi University
  • Pesantren Wirausaha
  • Pusat Studi Desa

© Payungi - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi

© Payungi - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In