Kehilangan itu seperti luka yg tidak bisa disembuhkan tapi kita bisa ambil pelajaran, terlebih lagi kehilangan Kakak perempuan, HIFNI SEPTINA CAROLINA, “Mba lina” Aku memanggil nya.
Aku bukan hanya kehilangan kakak tapi juga kehilangan teman, sahabat, dan contoh yang baik dalam hidup. Seseorang yang menegur dengan kasih bukan amarah, yang selalu ada bukan karena harus tapi karena tulus.
Setelah 7 hari kepergian nya, banyak sahabat, kolega, keluarga yg menuliskan Eulogi tentang beliau, aku sedikit terkaget ternyata mba ku sehebat dan sekeren itu.. Ah..semakin bangga padanya… 🥰.
Wajar saja, dari kecil beliau juga anak yg jarang dimarahi orang tua kami, Bukan karena dibeda-bedakan, tapi karena sikapnya memang begitu tenang, tutur katanya lembut, tindakannya penuh pertimbangan. Ia selalu tahu bagaimana bersikap, pintar membawa diri, dan cepat memahami sisuasi.
Ia tak banyak bicara, tapi saat ia berbicara, semuanya terasa menenangkan. Kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat segalanya terasa lebih ringan. Ia tidak sempurna, tentu saja, tapi caranya mencintai keluarga, caranya menjaga kami tanpa diminta, itu yang membuatnya istimewa.
Mungkin itu yg membuat orang lain merasa nyaman bergaul serta membuatnya dicintai, disukai dan dihormati oleh banyak orang. Semoga segala kebaikannya menjadi penerang di alam sana, dan amal ibadahnya diterima sebagai bekal menuju keabadian. Aamiin….
HARI DUKA
Senin tanggal 28 Juli 2025 pagi, aku bertolak ke RS Ahmad Yani dengan keadaan sedikit terburu2, aku mendapat kabar kalo Mba lina tak mau makan, pengen makan bubur kacang hijau katanya. Permintaan sederhana itu terasa begitu dalam. Di balik kalimatnya, seolah ada isyarat, sebuah permintaan halus dari tubuh yang lelah.
Aku tak tahu, bahwa hari ketika ia hanya ingin bubur kacang hijau adalah hari terakhir kami bisa memandangnya, hari terakhir aku bisa menjawab kebutuhannya, meski sekecil semangkuk bubur yg tak pernah ia makan.
Di bawah langit yang berawan, lorong-lorong rumah sakit terasa begitu sendu. Perawat datang menatap kami dengan raut duka. Suaranya pelan, nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat dunia ku runtuh, “Kondisinya semakin memburuk dan semakin melemah.” Kata-kata itu seperti denting pelan yang menghantam jantung, menyesakkan dada. Aku mencoba mencerna, menenangkan hati yang mulai kacau.
Di tengah percakapan yang berat dengan perawat, kudengar mb lina memanggil ku dan ia berucap lirih “Om jib, Udah ya.. Udah gak kuat”. Sesaat aku terpaku, seperti Ada tangis yang tertahan di tenggorokan, ada luka yang belum sempat terbentuk tapi sudah terasa sakitnya. Aku hanya bisa mengelus tangannya. Meski dalam hati, aku tahu…aku sedang perlahan-lahan melepaskannya.
Tak lama Teman-teman seprofesinya datang satu per satu, menyapa dalam diam. Ustadz Taufiq pun hadir dengan suaranya yang lembut namun tegas beliau memimpin kami (keluarga) melantunkan ayat-ayat suci, Di sela harapan dan doa, kami masih berharap dan percaya, mungkin masih ada keajaiban untuk kesembuhannya..🥲
Namun ternyata, Allah lebih menyayanginya. Di saat kami masih berharap, takdir justru memeluknya lebih dulu. Tepat pukul 13.10 WIB, Allah memanggilnya untuk pulang. Dalam tenang, ia kembali ke pangkuan Sang Pencipta.
Kami hanya bisa pasrah, menyaksikan kepergiannya dengan linangan air mata dan doa yang tak henti. Mudah2n Amal baik yang ia tanam semasa hidup, insyaAllah akan menjadi bekal terbaik di hadapan-Nya. Selamat jalan Mb ku sayang Hifni Septina Carolina.
Dari adik yg selalu merepotkan mu
Om jib.

Discussion about this post