Perjumpaan
Di salah satu sudut Kota Metro, tepatnya di Kelurahan Yosomulyo, saya berjumpa dengan sepasang suami istri yang akan menjadi warga baru di lingkungan kami.
Awal April 2018, setelah resmi menempati rumahnya yang baru dibangun, sebagai tetangga baru, saya mencoba untuk menjalin komunikasi yang ternyata disambut dengan terbuka. Dharma Setyawan dan Hifni Septina Carolina, itulah nama warga baru yang rumahnya bersebelahan dengan rumah saya.
Sebagai istri yang selalu mendampingi suami, “Mbak Hifni”—begitu saya menyapanya—selalu sabar dalam segala hal ketika Mas Dharma menjadi teman diskusi saya di waktu pagi, sore, hingga kadang sampai malam hari. Sering kali ketika obrolan di jalan berlanjut ke teras rumah, Mbak Hifni membuatkan kami minuman hangat dan camilan sebagai teman obrolan. Bahkan, terkadang ikut bergabung dalam perbincangan yang tidak sedikit ide-ide justru muncul darinya.
Pergerakan
Sebagai istri dari Dharma Setyawan, seorang penggerak yang sama-sama alumni SMA Negeri Kotagajah, Lampung Tengah, Mbak Hifni turut aktif dalam diskusi-diskusi bertemakan sosial, baik di lingkungan kerjanya maupun di lingkungan masyarakat. Ketika Mas Dharma, saya, beserta beberapa pemuda, mahasiswa, dan masyarakat memulai gerakan cat mural di rumah-rumah warga, Mbak Hifni selalu memberi dukungan dan tidak mau ketinggalan ikut terjun langsung.
Rumah pertama yang menjadi uji coba mural adalah rumah yang baru mereka tempati, berlanjut ke rumah saya dan rumah warga sekitar.
Tidak berhenti pada mural tembok rumah, kami berlanjut di pagar-pagar dengan cat berwarna-warni yang kami namakan Yosomulyo Pelangi—yang dengan gerakan ini menjadi cikal bakal terbentuknya PAYUNGI.
Mbak Hifni ikut terlibat aktif bersama ibu-ibu lingkungan dalam membidani Pasar Yosomulyo Pelangi (PAYUNGI), mulai dari sosialisasi dengan warga RW, gotong royong membersihkan lingkungan, merancang jajanan yang mau diperdagangkan, pola pasar yang ramah lingkungan, metode pembayaran, hingga sistem pelaporan.
Setelah beberapa bulan Payungi berjalan dengan segala dinamikanya, Mbak Hifni yang aktif di kampus IAIN Metro dalam gerakan gender mulai mengajak teman-teman aktivis membentuk kelompok diskusi WES (Women and Environment Studies) di bawah naungan bendera Payungi. Memanfaatkan ramai dan hiruk pikuknya Payungi di setiap hari Minggu, paling tidak sebulan dua kali WES mengadakan diskusi. Temanya bervariasi, terkait dengan gender, kekerasan terhadap anak dan perempuan, KDRT, lingkungan sosial pedesaan, perkotaan, dan lain-lain.
Pemberdayaan
Hal yang kadang luput atau tidak menjadi perhatian serius setelah adanya kegiatan, apakah itu seminar, diskusi, atau simposium, adalah bagaimana membumikan ide-ide kreatif tersebut. Mbak Hifni adalah salah satu sosok yang tidak hanya “jarkoni”, tetapi betul-betul ikut terjun dan terlibat langsung agar ide-ide yang dicetuskan bisa berdampak positif bagi masyarakat, terutama kaum ibu yang menjadi konsentrasinya.
Itulah pemberdayaan yang ada di Payungi. Kita semua ikut aktif bergotong royong, tidak membedakan antara jajaran pengurus maupun anggota. Karena menurut mazhab kami di Payungi, pemberdayaan itu adalah dakwah yang paripurna, menggabungkan antara dakwah billisan, bilmal, dan bilhal. Bukti konkretnya adalah Pasar Yosomulyo Pelangi yang pelakunya (pedagang) adalah emak-emak. Mbak Hifni dengan sabar mendampingi, mencarikan solusi masalah, bergotong royong bersama, mengisi materi pada Pesantren Wirausaha Payungi, dan lain-lain. Alhamdulillah, Payungi bisa tetap eksis sampai sekarang, menuju usia 7 tahun.
Perpisahan
Sejak mendengar Mbak Hifni sakit, ada rasa masygul di hati karena sosok teman, kolega, dan mitra untuk saling berbagi antara Mas Dharma, saya, dan teman-teman Payungi itu perlu beristirahat untuk menyembuhkan penyakitnya.
Doa-doa terbaik dipanjatkan agar Mbak Hifni segera sembuh dan bisa beraktivitas lagi bersama emak-emak Payungi. Ternyata, Allah SWT berkehendak untuk menyembuhkan dan mengangkat penyakit yang dideritanya dengan cara memanggil kembali ke haribaan-Nya.
Senin, 28 Juli 2025, pukul 13.20 WIB, saya ditelepon oleh Mas Dharma, memberitahukan bahwa Mbak Hifni meninggal dunia. Kaget bercampur dengan perasaan sedih mendengar berita itu, saya segera menuju rumah duka untuk membantu pengurusan sampai ke pemakaman.
Perjalanan hidup Mbak Hifni sangat menginspirasi bagi ibu-ibu Payungi, semoga juga bisa menginspirasi ibu-ibu di daerah lain.
Ada perjumpaan, ada pula perpisahan. Selamat jalan, Mbak Hifni Septina Carolina. Semoga husnulkhotimah. Apa yang sudah Mbak Hifni lakukan semoga menjadi amal saleh. Semoga bisa berjumpa dan berkumpul dengan emak-emak Payungi yang sudah terlebih dahulu dipanggil Allah SWT. Aamiin.
Ahmad Tsauban

Discussion about this post