Gambar yang terlampir itu—adalah potret pertama interaksi kami.
Tertanggal 07 Februari 2018.
Saat saya sedang bersusah payah menata diri di kota kecil bernama Metro, mencoba berakar setelah bertahun-tahun merantau di seberang pulau.
Kala itu, saya belum punya apa-apa. Tak ada nama, tak ada pencapaian, hanya niat dan sedikit keberanian. Tapi, di tengah kekosongan itu, email dari seseorang bernama Hifni Septina Carolina hadir seperti embun yang menyapa tanah kering.
Responnya, sekecil apapun, membuat saya merasa diakui.
Padahal, dia tidak harus. Tapi dia memilih untuk hadir.
Ia memanggil saya “Mizu”, sebuah plesetan hangat dari “Monsieur” yang kami ciptakan sendiri. Panggilan itu bertahan… sampai akhir hayatnya.
Dan kini, saya merasa benar-benar kehilangan.
_____________________________
Malu 01 – Pada Semangat Belajarnya
Saya sungguh malu,
melihat bagaimana ia—seorang dosen perguruan tinggi,
datang dan duduk bersila di kelas Bahasa Inggris Payungi,
di antara mahasiswa semester lima.
Tak ada jarak. Tak ada gengsi. Tak ada “aku ini siapa”.
Yang ada hanyalah wajah yang tulus ingin belajar,
dan sesekali, suara yang memantik diskusi hangat.
Saya duduk terpaku melihatnya,
dan dalam hati saya berkata:
“Saya ini siapa, berani-beraninya malas belajar…”
Di hadapan semangat seperti itu,
saya hanya bisa menunduk.
Malu 02 – Pada Kelembutan Hatinya
Saya dan Dharma Setyawan,
terlalu sering bercanda khas patriarkis yang seakan-akan belum selesai belajar menjadi manusia.
Kadang sarkas, kadang pahit, kadang tidak pada tempatnya.
Tapi di depan semua itu,
Allahyarham hanya menatap dan tersenyum.
Jawabannya tak lebih dari satu dua kata: “Asem.”, atau “Parahe…”
lalu diiringi tawa kecil yang memadamkan seluruh ketegangan.
Kami tahu itu candaan.
Tapi tetap saja—tanpa hatinya yang lapang dan lembut,
semuanya bisa jadi luka yang tumbuh diam-diam.
Saya malu…
karena saya tahu, saya tidak sebijak itu.
Saya tidak selega itu.
Malu 03 – Pada Kesederhanaannya yang Terlalu Dalam
Ada orang-orang yang hidupnya ramai oleh pujian,
tapi sedikit yang benar-benar menyentuh.
Tapi Hifni Septina Carolina
adalah orang yang ketika namanya disebut,
tak ada satu pun yang saya kenal tak bersaksi tentang kebaikannya.
Tak satu pun.
Ia terlalu bersahaja,
hingga kita tak sadar,
kita sedang didekap oleh cahaya—yang diam-diam,
menghangatkan semua yang ada di sekitarnya.
Kini ia pergi.
Saya berdiri di batas kehilangan,
masih menggenggam malu,
masih menatap jejak semangat dan kelembutan yang ia tinggalkan.
Selamat jalan, Mba Hifni.
Semoga Allah menyambutmu dengan pelukan penuh cahaya.
Kami yang kau tinggalkan,
masih terus mendoakan,
agar surga adalah tempat kembalimu yang paling layak.
Dan semoga,
di satu waktu yang Allah kehendaki,
kita bertemu lagi—di tempat yang tak ada lelah, tak ada perpisahan.
Aamiin.
Musthafa Akhyar


Discussion about this post