Kamis, April 2, 2026
Payungi.org
  • Login
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi
No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi
No Result
View All Result
Payungi.org
No Result
View All Result
Home Catatan

Senyum Manis yang Tidak Bisa Kupandang Lagi

"Nasihatmu tidak akan pernah aku lupakan, belajar jadi orang sabar, sesabar-sabarnya sabar." - Uci Kusuma Wardani

by Payungi
4 Agustus 2025
in Catatan, In Memoriam: Hifni
Reading Time: 3min read
A A
0
Uci Kusuma Wardani
Share on FacebookShare on Whatsapp

Ya betul, senyum yang begitu manis, awal mula aku mengenalnya. Kami hanya bertukar senyum tanpa saling menyapa. 2018 awal mula berdirinya Payungi, saat itu aku hanya ikut membantu kakak perempuanku berjualan nasi tiwul dan aneka sayur matang. Aku yang belum begitu aktif mengikuti kegiatan di Payungi seperti pesantren atau gotong royong.

Akhir Desember 2022 aku mulai memberanikan diri untuk mandiri, belajar, dan berproses. Kembali mendaftarkan diri sebagai pedagang kuliner di Payungi. Sebelumnya, kakakku sudah berhenti berjualan karena adanya beberapa faktor. Mulailah dari itu aku dan Bu Hifni, panggilanku untuknya, semakin dekat. Kucari kontak WA-nya untuk melaporkan omzetku setelah berjualan. Umur kami tidak terpaut jauh, tetapi entah kenapa panggilan “Ibu” teduh sekali untuknya.

Hifni Septina Carolina, nama yang sangat jarang aku jumpai, bahkan sampai saat ini. Hubungan kami makin akrab karena aku sudah mulai aktif mengikuti beberapa rangkaian kegiatan yang ada di Payungi.

Pada November 2023, beliau merayuku untuk ikut kegiatan di Bandar Lampung. “Ci, ikut yuk yang tanggal 9-10, buruan list ya, gas lah kita menginap semalam di hotel.” Aku sedikit menolak karena posisiku yang masih berada di kabupaten. Beliau terus merayuku, “Sudah aku list, Ci, berangkat tanggal 9 ya, kamu pijat dulu biar hilang capeknya.” Seperhatian itu beliau. Sesampainya di sana, beliau tiba-tiba WA, “Ci, nanti kita sekamar ya.” Wah, kebetulan sekali, kataku, ingin sekali aku mengobrol dengannya dari hati ke hati.

Malam pun berlarut, aku yang sekamar dengannya mulai membuka obrolan, lebih ke curahan isi hatiku. Sambil kubaringkan tubuhku di sebelahnya, yang pada saat itu beliau juga sedang sibuk dengan laptop di pangkuannya. “Ah, dasar orang cerdas, di mana tempat tetap saja ada yang dikerjakan,” kataku dalam hati, yang lama-kelamaan tertidur pulas di sampingnya.

2024, saat itu Ibu memutuskan untuk melanjutkan sekolah lagi di kota Bandung. Kita sudah jarang sekali bertatap muka, tetapi Ibu masih selalu setia menjadi teman curhatku lewat pesan WA. Waktu terus berlalu, pertemuan kita makin jarang sekali terjadi. Puncaknya di 2025, Ibu sudah jarang sekali aktif di media sosial seperti biasanya kita berbalas komentar hanya sekadar bercanda, “Menu kita sama, Ci, hari ini, pindang patin atau hayo itu pisang mau direbus atau digoreng.”

Aku yang selalu berpikir Ibu yang kukenal memang sedang fokus berjuang melanjutkan sekolahnya. Sampai akhirnya pada Lebaran Idul Fitri 2025, ku mencoba bersilaturahmi hanya lewat pesan singkat. “Maaf lahir batin, Bu. Ibu di mana sekarang? Di Bandung atau di mana?” tanyaku dengan polos. “Masih rehat di rumah,” jawab Ibu. Maafkan aku yang tidak peka sama sekali pada saat itu, Bu. Selang sebulan kemudian, tepatnya di tanggal 28 Mei 2025, kukirimkan satu video lama kami sambil kubilang, “Kangen Ibu.” Tetap Ibu menghiburku dengan balasan, “Ya ampun, masih ginuk-ginuk aku.” Masih tak kusangka itu pesan WA terakhir yang Ibu kirimkan untukku. Perlahan mulai kudengar bahwa kesehatan Ibu menurun, sesak rasanya dada ini, ingin sekali bertanya, tapi rasanya tak sampai di hati.

Minggu, 20 Juli 2025, sepulangnya aku berjualan di Payungi, Ibu sempat menambahkan 2 video kebersamaan dengan Pak Dharma Setyawan yang dibubuhi dengan lagu yang aku lupa lagu apa. Rinduku sedikit terobati, tetapi air mataku menetes perlahan. Kuberi komentar, “Ibu, aku rindu,” dan banyak komentar lainnya masuk, ada yang menanyakan kabar, memberi semangat, sampai dukungan. Tak lama kemudian, video itu dihapus kembali.

Senin, 28 Juli 2025, aku yang ada sedikit keperluan pergi ke ibu kota dengan seorang temanku, dan kami mampir ke salah satu mal. Sempat berbincang dengannya bahwa ini kali kedua aku ke tempat itu. Pertama waktu itu bersama keluarga Payungi dan salah satunya bersama Ibu. Celotehku mengatakan, “Tolong bantu kirim doa, ya, ada salah satu orang yang kumaksud tadi sedang berbaring sakit, semoga Allah segera angkat penyakitnya.”

Tak lama aku berbincang, berjalan sambil mencari tempat makan, kubuka pesan masuk grup yang siang itu juga sedikit formal dengan kata pembuka, “Assalamualaikum wr. wb., INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN.” Jantungku serasa runtuh, tanganku tak kuat lagi menopang ponsel itu. Bergegas aku lari turun mencari jalan keluar, hingga kuterjang air hujan agar aku cepat sampai di kota Metro, berharap masih bisa aku ikut menyalatkan salah satu orang yang kujadikan contoh teladan yang baik.

Allah berkehendak lain. Senyum manis itu sudah tidak bisa kupandang lagi. Bahkan sosok yang sering sekali kujadikan tempat bercerita, tidak peduli beliau sedang repot dengan tugas kuliahnya pun, tetap cekatan meladeni cerita-ceritaku.

Sampai ada satu pesan yang sangat menyentuh hati pada saat ini. Ibu pernah bilang, “Lagi sibuk banget kuliah, bisa enggak ya ikutan perayaan acara ulang tahun Payungi ke-6, sedih loh kalau enggak bisa ikutan, Ibu masih ada jadwal kuliah,” sahut Ibu. Tapi justru aku sekarang yang amat sedih, di Payungi menuju 7 tahun ini, sosok perempuan dengan senyum manis dan wajah teduhnya sudah tidak bisa kujumpai lagi.

Al-Fatihah, Ibuku sayang,

Hifni Septina Carolina binti Untung Rasmono.

Nasihatmu tidak akan pernah aku lupakan, belajar jadi orang sabar, sesabar-sabarnya sabar.

Uci Kusuma Wardani

ShareSendShare

Discussion about this post

TENTANG KAMI

Payungi hadir atas inisiatif warga berdaya yang percaya perubahan bisa dilakukan dengan gotong royong.

Alamat: Jl. Kedondong, Yosomulyo, Kec. Metro Pusat, Kota Metro, Lampung 34111

Kontak: 0812-7330-7316

LOKASI PAYUNGI

  • Bank Sampah
  • Kampung Bahasa
  • Kampung Kopi
  • Pasar Payungi
  • Payungi Media
  • Payungi University
  • Pesantren Wirausaha
  • Pusat Studi Desa

© Payungi - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi

© Payungi - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In