Bu, sore kemarin, hujan tidak egois karena ia hanya merintikkan sedikit airnya, sebagian ditumpahkan oleh banyak pasang mata yang mengantarkan ke peristirahatan terakhir Ibu sebagai bentuk penghormatan juga duka yang dalam atas kepulangan ibu ke pangkuan Sang Pemilik Cinta yang utuh.
Aku kira hari masih panjang untuk perjalanan yang ternyata sangat singkat ini. Dua perjumpaan terakhir, aku berbincang banyak dengan Bu Hifni, lagi-lagi yang dibicarakan tak jauh dari wajah pendidikan hari ini, kerusakan alam dimana-mana, kekerasan pada perempuan yang terus merajai jaman. Begitulah ia dengan semangat dan cinta pada perjuangan pemberdayaanya.
Pertemuan terakhir, kami tidak banyak saling bicara, aku melafal banyak doa, sedang tatapan Ibu tetap menyiratkan banyak makna.
Aku menarik banyak sekali ingatan, bagaimana yang awalnya obrolan kami hanya seputar domestik, menjadi begitu serius karena keresahan-keresahan soal isu perempuan, anak, dan alam yang menjadi alasan kenapa WES Payungi sendiri lahir.
Ya benar, perkenalanku dengan bu Hifni justru diawali dari kerja-kerja domestik, menyiapkan logistik untuk teman-teman yang tengah menata spot-spot foto di era Yosomulyo Pelangi pertama kali, sebelum menjadi pasar.
Sejak saat itu, obrolan yang tadinya sederhana, menjadi diskusi-diskusi kecil menyoal perempuan dan pendidikan, memang dasarnya Ibu seorang pembelajar ulung, tidak ada yang secara tiba-tiba sampai entah pertemuan kami yang keberapa, aku kok seperti dilahirkan dan dibesarkan lagi dengan kepekaan terhadap permasalahan sosial ini.
Bukan tanpa kebingungan, namun ide-ide dan gagasan dari Ibu selalu menjadi lokomotif WES Payungi, pada bagaimana menjadi wadah tumbuh bagi siapapun. Dari yang awalnya mengajak membaca buku dan menonton film yang mengusung isu perempuan, untuk kemudian agar bisa diproduksi menjadi konten dan pesannya bisa sampai kepada banyak orang. Mendatangkan praktisi, akademisi, teman komunitas lain agar mengisi diskusi-diskusi kecil untuk mengasah sensitivitas kita terhadap isu-isu terkini, sampai dengan mengadakan sekolah atau kelas skill untuk perempuan-perempuan lintas generasi agar berdaya diri dalam banyak segi.
Sore yang rintik tadi, Bu. rasanya kok aku jadi kelimpungan ya. Tapi aku gak merasa jadi seperti seorang anak yang diajarkan banyak hal, tapi tidak diajarkan bagaimana ia hidup tanpa ibunya. Aku, kami, memang kehilangan Ibu secara fisik, tapi WES Payungi, ruh ibu juga di sana, bukan? ia yang ibu lahirkan juga sebagai Ibu yang liyan, dengan gerakan dan gagasan yang mengakar kuat, menopang banyak mimpi kami untuk melanjutkan kerja-kerja mulia yang sudah ibu mulai.
Beristirahatlah dengan sangat tenang, Bu. WES Payungi akan terus tumbuh, meski perlahan, ia juga akan menjadi ruang yang aman dan nyaman untuk perempuan dan anak dalam berproses. WES Payungi akan merangkul lebih banyak generasi seperti harapan ibu.
Beristirahatlah bu, kami akan mengenangmu dengan seporsi pempek dan cukanya, senampan rujak dan sambelnya, buku dan pembatasnya, air minum dan botolnya, kertas dan pensilnya, dan hal apa saja, — sekecil apapun, yang menjadi saksi keberpihakan ibu terhadap perempuan yang rentan, kepedulian terhadap lingkungan dan alam, serta perjuangan pendidikan untuk murid-murid kehidupan.
Wahyu Puji

Discussion about this post