Hari ini, kesedihan itu datang begitu dalam, tak terbendung oleh kata-kata. Seperti langit yang ikut gerimis menjelang sore, hati ini pun basah oleh kehilangan yang tak mudah dijelaskan. Sosok yang luar biasa itu telah berpulang: Mba Hifni Septina Carolina, istri dari Pak Dharma Setyawan, telah kembali ke pangkuan Sang Maha Penyayang pada pukul 13.10 WIB.
Aku menyebutnya “Mba Hifni”, bukan “Ibu Hifni”, meskipun beliau sudah menjadi dosen dan memiliki gelar akademik yang patut dihormati. Ada jarak yang terasa janggal jika aku menyebutnya dengan kata “Bu”, mungkin karena sejak awal perjumpaan, ia tak pernah menempatkan dirinya tinggi. Ia selalu sederhana, hangat, dan setara. Sapaan “Mba” terasa lebih personal, lebih membumi, seperti kepribadiannya yang lembut dan teduh.
Mba Hifni bukan hanya pendamping hidup Pak Dharma. Ia adalah ruh dari banyak gerakan. Ia adalah cahaya yang mendampingi setiap langkah suaminya dalam pengabdian pada masyarakat, dalam upaya-upaya kecil namun nyata untuk memberdayakan perempuan dan mencintai lingkungan. Ketika kita bicara tentang Pak Dharma, sesungguhnya kita juga sedang bicara tentang Mba Hifni. Keduanya seperti dua mata air yang saling menyegarkan, saling menghidupkan.
Aku mengenalnya bahkan jauh sebelum gagasan besar seperti Payungi mengisi kepala kami. Di balik kiprah besarnya, ia selalu hadir dengan tawa ringan, gurauan sederhana, dan gaya bicara yang menenangkan. Tidak banyak bicara, tapi banyak makna. Tidak menonjolkan diri, tapi selalu terasa hadir. Mba Hifni memang sakit, itu aku tahu. Tapi gaya hidupnya yang sehat, penuh kesadaran akan tubuh dan alam, justru sering menjadi inspirasi.
Lebaran tahun ini aku sempat sowan ke rumah. Pak Dharma bilang, “Mba Hifni ada di dalam, lagi sakit.” Aku mengangguk, memahami tanpa bertanya banyak. Aku tahu pendidikan di Bandung, kesibukan, dan perjuangan panjang pasti menguras banyak tenaga. Tapi tak terlintas bahwa itu akan menjadi perjumpaan terakhir.
Beberapa hari lalu, saat aku sedang dalam perjalanan, Mas Wahid mengirim pesan. Ia mengajak untuk bersama-sama mengkhatamkan Al-Qur’an dari tempat masing-masing, mendoakan Mba Hifni yang tengah dirawat di rumah sakit. Aku percaya bahwa setiap doa punya jalan menuju langit, dan setiap ikhtiar punya tempat di sisi-Nya. Tapi hari ini, doa-doa itu menemukan ujungnya: pengembalian.
Sungguh, tiada yang lebih dekat dari jiwa yang telah selesai menjalankan tugasnya. Dan Mba Hifni, telah sampai pada waktunya. Dengan tenang, ia berpulang ke tempat yang jauh lebih damai. Telah pulang dengan utuh kepada Sang Pemilik Rindu, setelah merawat dunia dengan kelembutan dan cinta.
Saat jenazah dishalatkan, ratusan orang datang. Bergantian, menyolati, menangis, mengenang. Di wajah mereka aku melihat duka yang serupa, kehilangan yang sama, dan juga penghormatan yang dalam. Mba Hifni mungkin telah tiada secara fisik, tapi gagasan-gagasan yang ia tanam, nilai-nilai yang ia jaga, dan cinta yang ia tebarkan, akan terus tumbuh. Akan terus hidup.
Maka hari ini, meski hati berat, aku ingin belajar untuk ikhlas. Karena aku tahu, sosok yang baik seperti Mba Hifni tidak pernah benar-benar pergi. Ia menetap di setiap langkah yang mengakar, di setiap pergerakan yang memuliakan, dan di setiap kebaikan yang tak mengharap balasan.
Terima kasih, Mba Hifni.
Kami akan mengenangmu, seperti hujan yang jatuh perlahan tak selalu disadari, tapi menumbuhkan begitu banyak kehidupan.
Julianto Nugroho

Discussion about this post