Jumat, April 17, 2026
Payungi.org
  • Login
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi
No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi
No Result
View All Result
Payungi.org
No Result
View All Result
Home Catatan

10 Untuk Mbak Hifni

"...ruang kelas terbaik adalah kehidupan nyata di mana ilmu bertemu aksi." - Agus Sutanto

by Payungi
31 Juli 2025
in Catatan, In Memoriam: Hifni, Wes
Reading Time: 3min read
A A
0
10 Untuk Mbak Hifni
Share on FacebookShare on Whatsapp

Daftar Isi:

Toggle
  • 1. Semangat Akademik & Kerendahan Hati
  • 2. Ibu Ideologis & Konsep Pendidikan
  • 3. Keteladan dalam Kesederhanaan
  • 4. Ketabahan & Perjuangan Sunyi
  • 5. Ahli Langkah Kecil & Agent of Change
  • 6. Pendengar & Pemersatu
  • 7. Cinta yang Membebaskan
  • 8. Warisan Intelektual & Spiritual
  • 9. Misteri Kedalaman Pikiran
  • 10. Keabadian dalam Ketidakhadiran

1. Semangat Akademik & Kerendahan Hati

Sebagai dosen UIN Jurai Siwo dan mahasiswaku di S2 Pendidikan Biologi UM Metro, Hifni membuktikan bahwa ilmu biologi bukan sekadar teori: ia terjun langsung menyelamatkan lingkungan melalui WES Payungi dan pemberdayaan perempuan. Meski berstatus pendidik, ia tak sungkan duduk bersila belajar bersama mahasiswa biasa. Kerendahan hatinya mengajariku—gurunya—pelajaran berharga: gelar akademik bukan alasan berhenti berkembang, dan ruang kelas terbaik adalah kehidupan nyata di mana ilmu bertemu aksi.

2. Ibu Ideologis & Konsep Pendidikan

Tanpa anak biologis, ia menjadi “Ibu Ideologis” yang melahirkan pejuang perubahan melalui pendidikan. Konsep ini lahir dari diskusi tesisnya di UM Metro: pendidikan biologi harus membumi, menyentuh masalah riil seperti kesenjangan gender dan kerusakan alam. Ia percaya setiap anak didik adalah “anak ideologis” yang akan melanjutkan estafet kebaikan. Baginya, mengajar bukan mentransfer pengetahuan, tapi menyalakan api kesadaran—seperti ia nyalakan semangat, merancang pembelajaran berbasis realitas sosial.

3. Keteladan dalam Kesederhanaan

Hidupnya sederhana, tapi pengaruhnya luar biasa: ia tak butuh panggung untuk berbuat baik. Aku menyaksikan sendiri betapa ia memilih duduk di belakang dalam diskusi kampus, mendengar lebih banyak daripada bicara. Saat rekan-rekan memamerkan publikasi ilmiah, ia justru sibuk mendampingi ibu-ibu unmtuk berkarya. Kesederhanaannya adalah kemewahan sejati, seperti ikan bakar buka puasa yang ia masak untuk teman-teman.

4. Ketabahan & Perjuangan Sunyi

Dalam sakit ia menyembunyikan sakitnya, tetap membimbing mahasiswa, meneliti, dan menggerakkan WES Payungi. Aku—gurunya di UM Metro—tak pernah mendengar keluhnya. Justru di tengah sakit, ia tetap mengabdi pada pemberdayaan perempuan melalui kearifan lokal. Ketabahan ini adalah pelajaran terbesarnya: penderitaan bukan alasan berhenti berkarya. Ia buktikan bahwa guru sejati mengajar bukan dengan kata-kata, tapi dengan keteladanan dalam menghadapi ujian hidup.

IMG_256

5. Ahli Langkah Kecil & Agent of Change

Pesan abadinya: “Mulailah dari langkah kecil”. Ia tak menunggu sempurna untuk bergerak: proyek kecil WES Payungi ia rintis dari nol, lalu berkembang. Sebagai mahasiswa, ia tak pernah mengeluh tentang keterbatasan data penelitian, ia turun ke lapangan, wawancara masyarakat, dan menjadikan kendala sebagai bahan inovasi. Prinsipnya: perubahan besar lahir dari konsistensi pada hal-hal kecil. Kini, langkah kecilnya telah menjadi jalan raya inspirasi bagi banyak orang.

6. Pendengar & Pemersatu

Ia mampumenciptakan ruang aman: dalam rapat atau diskusi, ia lebih banyak mendengar. Tak pernah memotong pendapat orang lain, tak pernah memaksakan ide. Aku ingat betul saat pembimbingan tesis di UM Metro: ia selalu bertanya, “Menurut Bapak, solusi apa yang mungkin?” memberiku ruang sebagai guru untuk berefleksi. Sikap ini pula yang menyatukan banyak pihak: akademisi, aktivis, hingga masyarakat biasa. Ia percaya: perubahan lahir ketika semua suara didengar.

7. Cinta yang Membebaskan

Relasinya dengan Mas. Dharma Setyawan adalah teladan cinta sejati: saling mendukung tanpa mengekang. Ia ikhlas “melepas” suaminya berjuang untuk umat, sementara ia memilih jalur sunyi—memberdayakan perempuan lewat pendidikan lingkungan. Kolaborasi mereka membuktikan bahwa cinta bukan kepemilikan, tapi kepercayaan pada misi bersama. Sebagai gurunya, kulihat bagaimana ia menjadikan rumahnya sebagai “laboratorium cinta”—tempat ide-ide besar untuk masyarakat dirancang dengan teh hangat dan diskusi penuh respek.

8. Warisan Intelektual & Spiritual

Karyanya hidup di tiga ruang: kampus (sebagai dosen inspiratif UIN Jurai Siwo), masyarakat (melalui gerakan WES Payungi), dan hati orang-orang yang disentuhnya. Prinsipnya “Biologi untuk Kehidupan” yang layak bersemai di Prodi Pendidikan Biologi UM Metro—tempat ia dulu kuliah. Warisan terbesarnya? Ketulusan tanpa syarat. Ia tak butuh pujian; baginya, senyum perempuan yang mandiri adalah penghargaan tertinggi.

9. Misteri Kedalaman Pikiran

Setiap kali bertemu, mudah menjulukinya “orang baik”, tapi sulit menakar kedalaman pikirannya. Sebagai pembimbingnya, aku tahu betapa ia haus ilmu: tesis S2-nya tentang perubahan lingkungan adalah karya yang original. Tapi ia tak pernah pamer. Ia lebih suka mendorong orang lain maju. Baginya, ilmu bukan untuk disombongkan, tapi untuk ditransformasikan jadi solusi.

10. Keabadian dalam Ketidakhadiran

Ia telah pergi, tapi semangatnya tetap menyala: di kampus tempat ia mengajar, di Payungi tempat ia berjuang, dan di hati sejawatnya. Sebagai almamater di UM Metro, kukatakan: Mbak. Hifni tetap ada—ia bertransformasi. Setiap kali seorang ibu-ibu mandiri berkat pelatihannya, setiap kali mahasiswa mengutip konsep “Ibu Ideologis”, di situlah ia hidup. Pesan terakhir untuknya: “Tenanglah, murid istimewa. Ilmu yang kau tebar akan terus berbunga—laksana akar mangrove menguatkan bumi.”

Agus Sutanto – UM Metro

ShareSendShare

Discussion about this post

TENTANG KAMI

Payungi hadir atas inisiatif warga berdaya yang percaya perubahan bisa dilakukan dengan gotong royong.

Alamat: Jl. Kedondong, Yosomulyo, Kec. Metro Pusat, Kota Metro, Lampung 34111

Kontak: 0812-7330-7316

LOKASI PAYUNGI

  • Bank Sampah
  • Kampung Bahasa
  • Kampung Kopi
  • Pasar Payungi
  • Payungi Media
  • Payungi University
  • Pesantren Wirausaha
  • Pusat Studi Desa

© Payungi - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi

© Payungi - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In