1. Semangat Akademik & Kerendahan Hati
Sebagai dosen UIN Jurai Siwo dan mahasiswaku di S2 Pendidikan Biologi UM Metro, Hifni membuktikan bahwa ilmu biologi bukan sekadar teori: ia terjun langsung menyelamatkan lingkungan melalui WES Payungi dan pemberdayaan perempuan. Meski berstatus pendidik, ia tak sungkan duduk bersila belajar bersama mahasiswa biasa. Kerendahan hatinya mengajariku—gurunya—pelajaran berharga: gelar akademik bukan alasan berhenti berkembang, dan ruang kelas terbaik adalah kehidupan nyata di mana ilmu bertemu aksi.
2. Ibu Ideologis & Konsep Pendidikan
Tanpa anak biologis, ia menjadi “Ibu Ideologis” yang melahirkan pejuang perubahan melalui pendidikan. Konsep ini lahir dari diskusi tesisnya di UM Metro: pendidikan biologi harus membumi, menyentuh masalah riil seperti kesenjangan gender dan kerusakan alam. Ia percaya setiap anak didik adalah “anak ideologis” yang akan melanjutkan estafet kebaikan. Baginya, mengajar bukan mentransfer pengetahuan, tapi menyalakan api kesadaran—seperti ia nyalakan semangat, merancang pembelajaran berbasis realitas sosial.
3. Keteladan dalam Kesederhanaan
Hidupnya sederhana, tapi pengaruhnya luar biasa: ia tak butuh panggung untuk berbuat baik. Aku menyaksikan sendiri betapa ia memilih duduk di belakang dalam diskusi kampus, mendengar lebih banyak daripada bicara. Saat rekan-rekan memamerkan publikasi ilmiah, ia justru sibuk mendampingi ibu-ibu unmtuk berkarya. Kesederhanaannya adalah kemewahan sejati, seperti ikan bakar buka puasa yang ia masak untuk teman-teman.
4. Ketabahan & Perjuangan Sunyi
Dalam sakit ia menyembunyikan sakitnya, tetap membimbing mahasiswa, meneliti, dan menggerakkan WES Payungi. Aku—gurunya di UM Metro—tak pernah mendengar keluhnya. Justru di tengah sakit, ia tetap mengabdi pada pemberdayaan perempuan melalui kearifan lokal. Ketabahan ini adalah pelajaran terbesarnya: penderitaan bukan alasan berhenti berkarya. Ia buktikan bahwa guru sejati mengajar bukan dengan kata-kata, tapi dengan keteladanan dalam menghadapi ujian hidup.
5. Ahli Langkah Kecil & Agent of Change
Pesan abadinya: “Mulailah dari langkah kecil”. Ia tak menunggu sempurna untuk bergerak: proyek kecil WES Payungi ia rintis dari nol, lalu berkembang. Sebagai mahasiswa, ia tak pernah mengeluh tentang keterbatasan data penelitian, ia turun ke lapangan, wawancara masyarakat, dan menjadikan kendala sebagai bahan inovasi. Prinsipnya: perubahan besar lahir dari konsistensi pada hal-hal kecil. Kini, langkah kecilnya telah menjadi jalan raya inspirasi bagi banyak orang.
6. Pendengar & Pemersatu
Ia mampumenciptakan ruang aman: dalam rapat atau diskusi, ia lebih banyak mendengar. Tak pernah memotong pendapat orang lain, tak pernah memaksakan ide. Aku ingat betul saat pembimbingan tesis di UM Metro: ia selalu bertanya, “Menurut Bapak, solusi apa yang mungkin?” memberiku ruang sebagai guru untuk berefleksi. Sikap ini pula yang menyatukan banyak pihak: akademisi, aktivis, hingga masyarakat biasa. Ia percaya: perubahan lahir ketika semua suara didengar.
7. Cinta yang Membebaskan
Relasinya dengan Mas. Dharma Setyawan adalah teladan cinta sejati: saling mendukung tanpa mengekang. Ia ikhlas “melepas” suaminya berjuang untuk umat, sementara ia memilih jalur sunyi—memberdayakan perempuan lewat pendidikan lingkungan. Kolaborasi mereka membuktikan bahwa cinta bukan kepemilikan, tapi kepercayaan pada misi bersama. Sebagai gurunya, kulihat bagaimana ia menjadikan rumahnya sebagai “laboratorium cinta”—tempat ide-ide besar untuk masyarakat dirancang dengan teh hangat dan diskusi penuh respek.
8. Warisan Intelektual & Spiritual
Karyanya hidup di tiga ruang: kampus (sebagai dosen inspiratif UIN Jurai Siwo), masyarakat (melalui gerakan WES Payungi), dan hati orang-orang yang disentuhnya. Prinsipnya “Biologi untuk Kehidupan” yang layak bersemai di Prodi Pendidikan Biologi UM Metro—tempat ia dulu kuliah. Warisan terbesarnya? Ketulusan tanpa syarat. Ia tak butuh pujian; baginya, senyum perempuan yang mandiri adalah penghargaan tertinggi.
9. Misteri Kedalaman Pikiran
Setiap kali bertemu, mudah menjulukinya “orang baik”, tapi sulit menakar kedalaman pikirannya. Sebagai pembimbingnya, aku tahu betapa ia haus ilmu: tesis S2-nya tentang perubahan lingkungan adalah karya yang original. Tapi ia tak pernah pamer. Ia lebih suka mendorong orang lain maju. Baginya, ilmu bukan untuk disombongkan, tapi untuk ditransformasikan jadi solusi.
10. Keabadian dalam Ketidakhadiran
Ia telah pergi, tapi semangatnya tetap menyala: di kampus tempat ia mengajar, di Payungi tempat ia berjuang, dan di hati sejawatnya. Sebagai almamater di UM Metro, kukatakan: Mbak. Hifni tetap ada—ia bertransformasi. Setiap kali seorang ibu-ibu mandiri berkat pelatihannya, setiap kali mahasiswa mengutip konsep “Ibu Ideologis”, di situlah ia hidup. Pesan terakhir untuknya: “Tenanglah, murid istimewa. Ilmu yang kau tebar akan terus berbunga—laksana akar mangrove menguatkan bumi.”
Agus Sutanto – UM Metro


Discussion about this post