Sabtu, April 18, 2026
Payungi.org
  • Login
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi
No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi
No Result
View All Result
Payungi.org
No Result
View All Result
Home Gagasan

Perempuan dan Stigma di Ruang Sosial

Penulis: Mustika ES

by Payungi
14 Mei 2022
in Gagasan
Reading Time: 2min read
A A
0
Perempuan dan Stigma di Ruang Sosial

Foto: Liqo Literasi Women and Environment Studies (WES) Payungi University.

Share on FacebookShare on Whatsapp

Tumbuhnya berbagai stigma negatif terdapat kaum perempuan bak benalu yang terus menggerogoti tubuh inangnya. Sebab, eksistensi kaum perempuan acapkali disudutkan oleh pandangan miring yang membuat mereka semakin termarginalkan dari ruang sosial. Sehingga, mereka pun kehilangan ruang untuk berekspresi dan mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Dalam kehidupan sosial, perempuan kerap diposisikan pada posisi kedua setelah laki-laki. Sehingga, ketidaksetaraan seolah menjadi keniscayaan yang akan terus menemui jalan terjal. Kekerasan verbal/non-verbal, opresi, alienasi, subordinasi dan domestifikasi kerja akan terus melekat pada diri kaum perempuan jika tidak ada perubahan stigma terhadap mereka di dalam ruang sosial. Oleh sebab itu, upaya-upaya untuk menumbuhkan kesadaran dan gerakan kolektif sesama kaum perempuan menjadi pilihan yang tidak bisa ditolak.

Amartha Sen melalui karyanya yang berjudul ‘Kekerasan dan Identitas’ memberikan pandangan besar bahwa kepentingan identitas bisa menjadi penyulut api kekerasan. Ia menyoroti kehidupan masyarakat di India, terutama antara kaum pemeluk agama mayoritas (Hindu) dengan minoritas (Islam) yang kerap bersitegang karena terlalu fanatik untuk melindungi eksistensi intensitas dari masing-masing kubu. Konflik yang terjadi pun terus berlarut-larut hingga banyak kaum perempuan mengalami ancama, kekerasan bahkan kehilangan ruang untuk mengekspresikan ajaran agama yang mereka anut. Seperti baru-baru ini yang terjadi, Pengadilan Tinggi Karnataka, India memutudkan larangan menggunakan hijab di sekolah. Di samping itu, tidak sedikit juga kasus perempuan Muslim di India mengalami ancaman dan kekerasan baik di ruang ibadah maupun di ruang publik.

Potret kekerasan terhadap perempuan Muslim di India menjadi salah satu gambaran masih minimnya ruang berekspresi bagi mereka. Sebaliknya, hak-hak mereka semakin hari semakin tercerabut sehingga setigma maupun kekerasan terdapat mereka seolah dilegitimasi secara sah tanpa ada proses hukum yang serius.

Tidak hanya di India saja, kaum perempuan dibelahan dunia lain, terutama di Indonesia juga seringkali mengalami tindak kekerasan. Absennya perlindungan dari negara dan belum efektifnya lembaga hukum yang ada menjadi beberapa alasan mengapa tindak kekerasan terhadap perempuan terus terjadi setiap tahunnya. Bahkan, karena minimnya lembaga pengaduan yang bersifat privat bagi kaum perempuan mengakibatkan banyak dari mereka yang mengurungkan niat untuk melaporkan pelaku. Hal ini karena mereka merasa tidak mendapatkan keamanan, perlindungan dan adanya keraguan terhadap lembaga hukum yang ada.

Tantangan yang dihadapi oleh mereka (kaum perempuan) tidaklah mudah, terlebih sekarang kekerasan berbasis gender juga bisa terjadi di ruang internet atau dunia maya. Hal inilah yang kemudian membuat mereka harus semakin waspada dan berhati-hati dalam berjejaring. Namun hal tersebut juga semakin membuat mereka sadar akan pentingnya menguatkan barisan kaum perempuan dalam melawan ketidakadilan gender, kekerasan yang mereka alami dan menyuarakan isu-isu perempuan. Sehingga, secara tidak langsung ancaman, stigma dan kekerasan yang mereka alami telah menjadi imun bagi mereka untuk melakukan perlawanan. {}

ShareSendShare

Discussion about this post

TENTANG KAMI

Payungi hadir atas inisiatif warga berdaya yang percaya perubahan bisa dilakukan dengan gotong royong.

Alamat: Jl. Kedondong, Yosomulyo, Kec. Metro Pusat, Kota Metro, Lampung 34111

Kontak: 0812-7330-7316

LOKASI PAYUNGI

  • Bank Sampah
  • Kampung Bahasa
  • Kampung Kopi
  • Pasar Payungi
  • Payungi Media
  • Payungi University
  • Pesantren Wirausaha
  • Pusat Studi Desa

© Payungi - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi

© Payungi - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In