Mengenang 7 hari wafatnya Hifni Septina Carolina
Hari ini, tepat tujuh hari wafatnya sahabat terbaik kami, Hifni Septina Carolina. Rasanya baru kemarin kita berbincang, tertawa, dan merajut rencana kebaikan bersama. Kepergianmu begitu tiba-tiba, meninggalkan ruang hampa dalam hati yang tak mudah diisi. Tapi satu hal yang kami tahu pasti engkau adalah sahabat terbaik yang pernah kami miliki.
Tiap malam, setelah kepergianmu, saya selalu datang ke rumahmu, untuk turut mendoakanmu bersama keluarga. Lalu berdiskusi dan mendengar cerita tentangmu dari Mas Dharma. Semua cerita tentang kebaikan, pengorbanan dan perjuanganmu sampai larut dan rasa kantuk lah yang menyudahi cerita-cerita panjang itu.
Pagi ini, saya menemani istri untuk berziarah ke makam Husnul Khotimah. Dia rindu denganmu, Mbak, rindu ingin bercerita, membuat rencana, jalan, dan menikmati momen bersama. Teringat saat kita bercerita panjang sekali di Bandung saat kami mengunjungimu yang sedang studi S3 di sana.
Kepergianmu memang meninggalkan kesedihan, akan tetapi semua ini adalah ketetapan takdir-Nya. Kecintaan hamba kepada sesama manusia, tidaklah boleh mengalahkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Agar kesedihan dan air mata tidak menjadi sia sia, maka izinkan saya membuat tadzkiroh bagi saya dan kita semua tentang beberapa hal:
Kematian adalah nasihat yang senyap
Kepergian seorang hamba menjadi pengingat dan pelajaran bagi kita yang terkadang lupa akan hakikat kehidupan dan kematian. Maka, sesungguhnya mengingat kematian bukan sekedar anjuran, mengingat kematian adalah ibadah. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW,
“Cukuplah kematian itu sebagai nasihat.” (HR Thabrani dan Baihaqi).
Semakin banyak kita mengingat kematian, maka semakin kecil urusan dunia ini. Semakin banyak kita menyediakan ruang dalam hati untuk mengingat kematian, hati kita akan semakin hidup.
Suatu saat Nabi SAW ditanya oleh sahabat Anshar, “Wahai Nabi, siapakah orang yang paling cerdas dan mulia?” Beliau menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat mati dan siap menghadapinya. Mereka orang paling cerdas. Mereka pergi dengan membawa kemuliaan di dunia dan kehormatan di akhirat.” (HR Tirmidzi).
Karena itu, kita semua berharap agar saat menghadapi kematian dalam keadaan tunduk dan patuh kepada-Nya.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali Imran [3]: 102).
Sebarkanlah kebaikan atas orang yang meninggal
Hari ini kami dan sekian banyak orang yang mengenalmu bersaksi bahwa engkau adalah orang yang sangat baik. Banyak memberikan manfaat, mengobarkan semangat, menjadi suluh dan inspirasi bagi sekitarmu.
Teringat pesan dari baginda nabi, siapapun yang wafat di antara kita hendaknya yang masih hidup dianjurkan untuk menyebut segala kebaikan yang sudah dilakukannya. Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
“Sebutlah kebaikan orang-orang yang telah wafat di antara kalian dan cegahlah untuk menyebut keburukan mereka.” (HR Tirmidzi)
Kebaikan yang kita sebarkan akan memberikan manfaat kebaikan bagi kita, dan menjadi penerang kubur orang yang telah wafat. Dan ketika kebaikan itu menjadi jalan orang lain melakukan kebaikan yang sama, maka akan menjadi amal jariyah yang tak terputus.
Lanjutkan nilai dan amal sholih
Kami bersaksi bahwa sepanjang kehidupan, Mbak Hifni adalah seorang pejuang, tauladan dan pekerja keras, itulah yang kami saksikan ketika kita bersama-sama. Maka, izinkan kami untuk melanjutkan perjuangan dan amal baik yang telah kita susun dan kita usahakan bersama agar rumah kecil kita (Prodi Tadris Biologi) menjadi rumah yang nyaman untuk semua, rumah kecil yang dapat menampung banyak potensi dan kebaikan. Agar rumah kecil kita mampu membantu banyak orang, memberikan kenyamanan dan merawat harapan. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk merawat dan membesarkannya seperti Malika (anak sendiri), seperti katamu saat itu….
Terima kasih telah menjadi sahabat yang luar biasa. Kehilanganmu menyisakan duka, tapi kenangan bersamamu akan selalu hidup dalam ingatan. Dan kelak, semoga Allah mempertemukan kita kembali di tempat yang jauh lebih indah, tanpa perpisahan.
3 Agustus 2025
Nasrul Hakim

Discussion about this post