Oleh : Siti Nurjanah
Saya sudah lama tidak berjumpa langsunh dengan Mbak Hifni, namun sesekali saya respon statusnya dan sebaliknya juga begitu. Ini karena Mbak Hifni sedang kuliah S3 dan lebih banyak di Bandung.
Sosok Mbak Hifni sebagai dosen, sebagai pejuang pemberdayaan, sebagai perempuan tangguh yang siap berbakti dimanapun ia berada.
Bagi saya yang sangat berkesan adalah ketika IAIN Metro dituntut untuk mampu menghadirkan nilai baik di program Green Campus untuk menjadi pendaftar pemula. Mbak Hifni bahkan sangat gigih membantu Ketua Tim Mas Nasrul Hakim menyelesaikan tugas berat itu. Dan dari hasil kegigihannya itu menghasilkan nilai yang tidak diragukan IAIN Metro sebagai New Comers di komunitas Green Campus tingkat Nasional. Sebagai amal jariyah yang telah didedikasikan untuk lembaga IAIN Metro tercinta.
Ada cerita lain juga yang saya temukan ketika saya bersama keluarga datang menikmati kuliner di PAYUNGI, Mbak Hifni tidak malu bersama dengan komunitas WES ikut mengambil bagian menjajakan dagangannya. Padahal ia notabene sebagai Direktur WES, tetapi tetap memposisikan sama dengan anggota lainnya.
Selanjutnya saya juga menjadi bagian di WES dengan diberikan Penghargaan sebagai Perempuan Pegiat Pemberdayaan di Provinsi Lampung bersama dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak saat beliau berkunjung ke PAYUNGI kala itu.
Sungguh saya tidak menyangka kalau ternyata Mbak Hifni telah pergi selamanya. Sebelumnya saya tidak tahu sama sekali ia sakit, baru dua hari sebelum ia meninggal saya dikabari kolega kalau Mbak Hifni sakit tetapi tidak boleh dijenguk. Namun belum sempat menanyakan untuk menjenguknya berita kepergiannya sudah saya terima lewat pengumuman di group kampus UIN Jurai Siwo Lampung. Rasa kaget, sedih, duka mendalam berkecamuk dalam dada.
Bakda ashar awal saya mengajak suami takziah di kediaman Maa Dharma dan Mbak Hifni di PAYUNGI. Sesampai disana ternyata baru saja berangkat ke Pemakaman Mu Husnul Khotimah di 29 Banjarsari. Kamipun bergegas kesana mencari lokasi dimaksud dan alhamdulillah akhirnya kami temukan.
Sesampai disana saya tinggal melihat gundukan tanah karena almarhumah Mbak Hifni sudah dimakamkan. Masih banyak pentakziah terutama teman-teman kampus yang seakan enggan meninggalkan makamnya. Setelah selesai saya temui Mas Dharma dan menanyakan tentang Mbak Hifni.
Menurut penuturan Mas Dharma ada 4 pesan yang disampaikan almarhumah. Pertama, agar Ibunya diumrohkan. Maka Mas Dharma menjawabnya ya diumrohkan bersama dengan Ibu Mas Dharma. Kedua, minta dimakamkan di pemakaman MU Husnul Khotimah, dan sudah dimintakan ke Mbak Titis Bawang Lanang dan ditunaikan. Ketiga, anak-anak di rumah agar disekolahkan hingga kuliah selesai, Mas Dharma mengiyakan dan menyanggupinya. Keempat, nanti buk ya, saya sangat mencintai istri saya. Dia istri yang baik, sulit saya mencari perempuan yang seperti dia. Bahkan Mas Dharma bilang”kalau Ibu ada perempuan yang seperti dia Bu….”. Saya jawab…nanti lah Mas Dharma…sabar dan kuat ya…
Itulah bukti cinta sejatinya Mbak Hifni kepada suami terkasihnya Mas Dharma. Dia sadar akan keberadaan dirinya sehingga memberikan ruang kepada suaminya untuk bisa melangkah dan mencari jalan terbaik untuk kebahagiaannya. Tentu Mas Dharma tidak pernah tahu jika itu pesan terakhir yang disampaikan dan yang keempat tentu sangat berat karena mengikhlaskan suaminya mencari penggantinya.
Semoga kesetiaaan dannkeikhlasannya ini menjadi jalan kemudahan almarhumah menuju surga Allah SWT.
Selamat jalan Mbak Hifni…
Karyamu akan tetap abadi…
Menjadi jalan kebaikan orang banyak…

Discussion about this post