Tidak ada yang baru saat orang di tempat lain bisa memperjuangkan nilai-nilai kebaikan yang sama. Saat Payungi dan Mushola Sabilil Mustaqim berkolaborasi menyembelih hewan Qurban bersama jumlah hewan tercatat 8 sapi dan 5 kambing. Payungi memanajemen pengumpulan iuran para peng-qurban dikomando anak kelas 3 SMP namanya Gaisan. Setiap hari Minggu setelah gelaran Gaisan berkeliling ke pedagang untuk mengambil iuran 50 ribu. Selama 1 tahun Gaisan belajar dan bergerak didampingi Kakak Edi Susilo untuk hari senin uang disetor ke Bank supaya lebih aman.
Qurban bukan tentang milik orang kaya telah lama dibuktikan. Desa Pengkok di Sragen Kec. Kedawung Jawa Tengah tercatat qurban terbanyak yaitu 169 sapi dan 105 kambing. Yang fenomenal di dataran tinggi dieng sebuah Dusun Krajan Desa Batur Banjarnegara 64 Sapi dan 280 kambing. Sedangkan total keseluruhan desanya 720 ekor dengan rincian 197 sapi dan 523 ekor kambing. Model dusun Krajan ini tergolok unik mayoritas buruh tani dan pedagang menyisikan uang 10 ribu setiap hari untuk Qurban.
Pemberdayaan punya jalan panjang untuk memperbaiki diri. Betapa banyak sebuah tempat ditingkat RT atau RW minus peng-qurban bukan karena tidak ada orang mampu tapi karena gagal bergotong-royong dari hal-hal kecil. Desa Pengkok dan Desa Batur khususnya dusun Krajan membuktikan diri fenomena orang biasa, pikiran biasa, tindakannya biasa, jumlah orangnya luar biasa tapi melawan kebiasaan. Orang-orang ini punya kesadaran revolusi organik, tidak jargonis dan jelas punya kesadaran otentik. Sebagaimana problem manusia-manusia baik, bukan karena kekurangan akhlak, tapi hanya kekurangan ilmu.
Saat Payungi membaca berita qurban yang dikerjakan oleh Pak Agus Sutanto dan tim di pascasarjana UM Metro. Qurban yang mengurangi plastik, kotoran sapi diolah ke wadah jadi pupuk organik, mengurangi konsumsi warga panitia dalam minuman plastik gelas dan wadah lainnya. Payungi mengundang Doktor Agus untuk menyampaikan materi di malam Kamis Pesantren Wirausaha. Pak Agus memutuskan untuk membantu gratis cairan bakteri Pumakkal produk penelitian beliau untuk mengurai kotoran sapi ditambah molase. Akhirnya saya ingat kata-kata Zen Rs dalam obituari Baim mendiang suami Najwa Shihab,”argumen bukan dibuat untuk memukul, sebab yang membuat orang mengikuti bukan tekanan, melainkan kejelasan.”
Kami mulai sadar bahwa sustainable itu bukan tentang alam yang kita perjuangkan untuk dirawat. Pohon yang terus kita tanam konon kementerian kehutanan menanam miliaran setiap tahun. Kegiatan proklim, anggaran Dinas Lingkungan Hidup se-Indonesia kalau dikumpulkan triliunan untuk pengelolaan sampah dan banyaknya anggaran perbaikan atas perbaikan lingkungan yang tidak pernah membaik. Bahwa yang harus sustainable adalah kesadaran manusia. Manusialah yang harus berpikir tentang keberlanjutan, sehingga mereka berhenti untuk terus menindas alam. Bahwa alam tanpa manusia bisa memperbaiki dirinya sendiri, pohon bisa tumbuh sendiri. Manusia lah yang harus memperbaiki pola pikirnya untuk berhenti serakah dan menambang alam untuk kepentingan segelintir elit.
Payungi harus terus belajar memperbaiki kualitas diri. Pada saatnya nanti qurban terus bertambah, cara kerja kami harus makin kreatif, efisien dan yang penting ramah lingkungan. Cerita-cerita kebaikan di tempat lain, semua orang pasti punya keinginan untuk meniru. Namun yang sulit adalah komitmen untuk belajar meningkatkan kapasitas diri sendiri dan orang-orang disekitar kita. Merasa bodoh jauh lebih penting agar kita mau mendengar ide-ide cerdas di sekitar. Menjadi gelas kosong juga penting agar orang lain tidak sungkan untuk ikut mengisi gelas kita.
Dharma Setyawan
Founder Payungi

Discussion about this post