Bagaimana menerjemahkan kata Harmony dalam perayaan ulang tahun ke 7 Payungi? Payungi sudah memutuskan tema ulang Tahun ke 7 dengan tema “Harmony in Seventh Celebration” dan tentu spirit di dalamnya ada Help, Save & Care (bantu, selamatkan, & dawat).
Saya teringat kata-kata Baskoro kawan founder Studio Keramik Metro bahwa seni adalah terapi. Manusia dengan segala problemnya butuh jeda untuk memaknai ulang semua peristiwa yang terjadi dalam hidup. Semua bentuk capaian baik itu pertumbuhan, prestasi, rezeki, pertemanan, bahkan kehilangan, tangis, luka, derita, tergores dan semua hal di atas, manusia selalu butuh jeda untuk memberi makna.
Sekolah Seni Payungi sebagai bentuk pendidikan transformatif di Payungi punya cara tersendiri memaknai hal-hal di atas. Saya mengenal Anggi Sidiq Prayogi pemimpin Sekolah Seni Payungi sebegai sosok yang saya pandang memiliki banyak capaian atau mungkin ujian yang tidak kasat mata. Sebagai seorang Guru dia tumbuh mengkader seniman di sekolahnya. Lukisannya terjual cukup dengan harga yang lumayan standar. Rezeki dari melukis digitalnya mengalir cukup deras, seperti kawan-kawan sketsa Lampung seperti Lowpop, Motel dan kawan-kawan lainnya.
Seni ketika belum mendapat apresiasi dari publik atau pemerintah, menurut saya karena perjalannya selalu instan. Makna dibutuhkan untuk menaikkan kualitas kita dalam menghadirkan nilai dalam seni. Bahwa ada entitas lain yang akan menghargai karya karena frekuensi dalam makna setara. Mereda datang tidak diundang dan memberi penghargaan setimpal.
Hari ini dengan teman-teman muda seniman ada yang sukses menggabungkan antara ruang kreatif keramik dan rujak petir pasangan Baskoro dan Vika, Dwi Setiawan dengan Studi Djajan Metro konsep merayakan pedesaan dengan suasana alam, buku dan ruang seni, Anggi dan Rian yang setiap nongkrong di Payungi berkumpul menggambar digital berburu dollar, Lowpop yang konsisten menabung karya di gawai konon, dan masih banyak cerita lain. Saya percaya semua proses seni yang hari ini tumbuh karena Harmony harus terus di maknai.
Ada banyak isu yang dengan seni, manusia punya ruang tersendiri untuk mengkritik, meluruskan, membenahi bahkan melawan hal-hal absurd. Seni dapat menjadi pergerakan yang mempengaruhi pendidikan, sosial, ekonomi, politik dan resonansi yang menggerakkan banyak orang. Tapi ketika para seniman gagal membangun harmony untuk mendorong kebaikan kolektif, para seniman harus kembali punya waktu jeda untuk merebut makna. Apakah kota ini punya seniman dengan tradisi harmony? jawaban ada dimasing masing kita.
Dharma Setyawan

Discussion about this post