oleh: Robert Edy Sudarwan
Membaca berita duka tentang wafatnya Mbak Hifni terasa seperti menyaksikan langit runtuh, perlahan, lalu menghantam dada tanpa suara. Rasanya seperti petir tumpah di tengah panas yang terik, bukan hanya mengejutkan, tapi juga menyesakkan.
Saya berhenti membaca. Sejenak tak tahu harus percaya atau menolak. Membuka WhatsApp, mencari kepastian dari beberapa sahabat di Kota Metro. Seakan berharap ada satu saja yang membantah, memberi celah untuk menyangkal bahwa kabar ini nyata. Tapi tidak ada yang menyangkal. Tidak ada yang mengatakan, “Hoaks itu.” Maka kabar itu menjadi kenyataan, dan kenyataan itu langsung jatuh seperti batu ke lubuk sungai.
Dalam diam, kenangan perlahan menyeruak.
Pada dekade lalu, sekitar 2013 ketika saya dan Mas Dharma masih sama-sama mahasiswa di Yogyakarta. Kota itu bukan hanya tempat belajar, tapi juga tempat di mana idealisme, cinta, dan cita-cita bertumbuh dalam tempo yang sama. Kami menempuh hari-hari bersama, berbagi kopi hitam sachet di kos-kosan, diskusi tak selesai tentang perubahan sosial, dan mimpi-mimpi yang kami yakin bisa diwujudkan dengan kerja keras dan keberanian.
Lalu, di ujung masa kuliahnya, Mas Dharma menikahi Mbak Hifni, yang akrab kami panggil Mbak Lina. Saya masih ingat tasyakuran kecil itu, suasana hangat di rumah makan mereka mengundang kami teman-teman kos-kosan. Saat kami bertemu, mata mereka berbinar. Pasangan muda dengan semangat dan harapan yang baru. Tawa yang ringan, candaan yang belum lelah, dan meja makan yang penuh cerita.
Mbak Lina saat itu sudah menjadi pendidik. Ia mengajar di sebuah sekolah berwawasan internasional di Bandar Lampung. Sekolah elit, siswa-siswinya cerdas, berasal dari keluarga mampu, fasilitas lengkap, guru-guru hebat. Sebuah tempat yang bagi banyak guru, adalah “surga pendidikan.”
Saya, yang datang dari dunia yang kontras, tak bisa menahan celetuk:
“Mbak, kayaknya gak ada tantangan ya kalau ngajar di tempat seperti itu. Input siswa udah bagus, fasilitas lengkap, biaya bukan masalah”
Karena saya pernah merasakan sebaliknya. Saya pernah berproses dan mengajar di pesantren tradisional, menerima anak-anak putus sekolah, dari rumah yang tak utuh, dari pesisir Lempasing hingga Punduh Pidada. Di sekolah kami, tiang bendera kadang jadi gantungan jemuran, ruang belajar kadang jadi tempat tidur guru yang datang dari jauh.
Tapi ada satu hal yang kami punya: doa. Dan itu bukan sekadar spiritualitas, tapi semacam energi diam yang mengikat guru dan murid dengan harapan, dengan cinta yang tidak diminta, dan dengan ikhlas yang tidak diumumkan.
Diskusi kami saat itu seperti dua sungai yang mengalir dari hulu berbeda. Saya bicara tentang kesenjangan dan takdir, tentang tangan Tuhan dalam pendidikan, tentang keberpihakan kepada yang tidak punya. Mbak Lina hanya mengangguk pelan, lalu berkata:
“Mungkin memang harus ada kelas-kelas yang membuat orang dapat kesempatan yang sama.”
Jawaban itu sederhana. Tapi dari senyumnya, saya tahu ia sedang mencerna dengan dalam. Dan saya sadar, saya tidak sedang berbicara dengan seseorang yang hidup di menara gading. Saya sedang berbicara dengan seseorang yang akan menuruni tangga-tangga kenyamanan dan memilih jalan yang tidak mudah.
Sebelum berpisah, saya sempat berkelakar:
“Mbak, hidup sama Mas Dharma itu nanti kayak anak KKN. Gak akan ada habisnya kerjaan.”
Dan benar saja, setelah mereka kembali ke Lampung, hidup mereka tidak pernah berhenti bergerak.
Beberapa tahun kemudian, saya pulang berkunjung. Saya melihat estafet gerakan itu sudah dimulai. Dari hal-hal kecil tapi penuh makna: mendirikan warung pecel lele bernama “Bung Karno” di dekat kampus. Saya masih ingat tertawa kecil “Kenapa pecel lele dinamai proklamator, patriotik sekali?”
Tapi di balik tawa itu, saya melihat sesuatu yang lebih dalam. Mbak Lina tidak hanya mendampingi. Ia ikut melayani, mencatat pembukuan, menyapa pelanggan. Bukan karena keadaan, tapi karena pilihan.
Mereka juga aktif dalam diskusi Kamisan. Saya tahu lingkaran itu tak mudah diikuti. Pembahasan seringkali berat, filosofis, penuh dinamika. Tapi Mbak Lina ada di sana, tekun, mendengar, sesekali berbicara. Saya tahu, ia sedang bertumbuh. Dan saya sempat bilang pada Mas Dharma:
“Tanpa istri yang paham dan bisa mendampingi, gerakanmu pasti pincang.”
Mbak Lina mulai menulis. Tulisannya dimuat media. Tak semua bisa. Apalagi opini. Itu artinya ia sedang membangun suara. Bukan hanya sebagai istri dari aktivis. Tapi sebagai perempuan yang punya pikiran dan keberanian sendiri.
Beberapa tahun berikutnya, saya datang ke Dam Raman. Dulu tempat itu jauh dari kata layak. Tapi saat itu menjadi ramai, bersih, hidup. Lagi-lagi bukan karena anggaran pemerintah. Tapi karena tangan-tangan yang gelisah melihat lingkungan, ekosistem yang tak diberdayakan. Saya tahu, Mbak Lina ada di balik semua itu. Mendampingi, jarang tampil, tapi hadir.
Lalu lahirlah Payungi. Sebuah nama yang dari luar terdengar sederhana. Tapi jika dipahami, ia adalah filosofi: memberi naungan, lalu memberi ruang.
Payungi menjelma menjadi ruang tanpa sekat. Di sana ada pelajar, seniman, petani, ibu rumah tangga, aktivis, semuanya menyatu. Tak ada birokrasi yang kaku. Tak ada seragam yang memisahkan. Saya datang beberapa kali, hanya untuk menyaksikan: semua orang bisa bertumbuh di sana.
Dan saya tahu, Mbak Lina adalah tanah tempat benih itu tumbuh. Ia adalah kompas yang diam, tapi menunjuk arah.
Ia tidak hanya mendampingi Mas Dharma. Ia juga membangun gerakannya sendiri. Ia membentuk WES (Women and Environment Studies), sebuah komunitas yang fokus pada perempuan, lingkungan, dan keadilan sosial. Ia membuka ruang bagi suara-suara yang sering dipinggirkan. Dan ia tidak sekadar fasilitator, ia pemantik.
Saya ingat terakhir kali kami intens berinteraksi, saat Mbak Lina menjadi fasilitator Sekolah Penggerak Kemendikbud. Salah satu wilayah dampingannya: Way Kanan, kampung halaman saya.
Ia bahkan sempat menginap di rumah orang tua saya. Hanya semalam. Tapi cukup untuk meninggalkan kesan mendalam. Bagi orang tua saya, ia bukan tamu biasa. Ia seperti anak sendiri.
Saya tanya padanya lewat chat:
“Apa inti dari penguatan karakter dalam program ini?”
Jawabnya singkat:
“Intinya, adik-adik ini harus jadi orang yang berani.”
Saya sempat tersenyum. “Itu aja?”
“Iyo,” jawabnya.
Jawaban pendek, tapi penuh isi. Karena menjadi “berani” adalah kualitas paling dasar untuk memutus rantai ketidakadilan. Berani bermimpi, berani melawan arus, berani membela yang tak bersuara.
Dan hari ini, Mbak Lina telah pergi. Tapi saya yakin: ia tak pernah benar-benar meninggalkan kami.
Karena setiap anak muda yang berada di Payungi, setiap ibu yang berbicara di forum Payungi, setiap murid yang kini berani mengangkat tangan di kelas, adalah jejak-jejak kecil dari hidupnya yang besar.
Ia adalah payung yang diam-diam melindungi banyak jiwa.
Ia adalah tanah yang tenang tapi menyuburkan ribuan benih.
Ia adalah cahaya yang tidak menyilaukan, tapi menuntun jalan pulang.
“ Mungkinkah, mungkinkah
Mungkinkah kau mampir hari ini?
Bila tidak mirip kau
Jadilah bunga matahari.
Lagu ini saya dengar setelah dikenalkan oleh mas Dharma, dalam perjalanan Lampung-Jakarta, saat beliau akan menjenguk Almarhum yang sedang melangsungkan Studi Doktornya. Kami mengurai makna dari lagu ini, cukup dalam, semoga mas Dharma, keluarga besar, payungi dan ekosistemnya diberi kesabaran, kekuatan.
Selamat jalan, Mbak Lina.
Kebaikanmu tak akan menguap. Ia akan terus hidup dalam kami.
Dalam cerita. Dalam gerakan. Dalam doa.
Innalillahi wa innailaihi raji’un.

Discussion about this post