Minggu, April 5, 2026
Payungi.org
  • Login
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi
No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi
No Result
View All Result
Payungi.org
No Result
View All Result
Home Catatan

Hifni Septina Carolina, Unik dan Menarik, layaknya “SENI”

“Bunda… boleh gak aku lihat ibu di depan pintu? Sebentar aja… 🥺”

by Payungi
5 Agustus 2025
in Catatan, In Memoriam: Hifni, Wes
Reading Time: 3min read
A A
0
Hifni Septina Carolina, Unik dan Menarik, layaknya "SENI"
Share on FacebookShare on Whatsapp

Sebuah nama yang jarang kutemui dalam hidup. Unik, sekaligus cantik. Seperti pemiliknya—pesona yang tak biasa, terpancar bukan hanya dari rupa, tapi dari akhlak, cara bicara, cara diam, dan caranya hadir dalam hidup orang lain.

Ia datang seperti pagi yang tenang, hangat, perlahan, namun mengubah segalanya.

Ia adalah karya seni yang rumit. Di balik warnanya, tersembunyi gurat luka. Dalam diamnya, tersimpan tawa yang tak semua orang bisa dengar.

Tapi justru di situlah pesonanya tumbuh dalam keasingan yang mengundang penasaran, dalam ketidakterdugaan yang menenangkan.

Setiap tindak-tanduknya ia bisa menjadi hujan cat air yang galau, namun juga bisa setegas tinta hitam di atas kanvas putih. Ia tidak pernah mencoba menjadi sempurna. Dan mungkin karena itulah, ia terasa begitu nyata.

Sapaan Terakhir dari Mbak

“Nda,” begitulah ia memanggilku, selalu terdengar hangat, meski sering dibarengi helaan napas karena ulahku, sang adik ipar yang tak jarang merepotkannya.

Aku memanggilnya “Mbak”, sebagaimana mestinya, tapi di balik panggilan sederhana itu tersimpan hormat, sayang, dan kekaguman.

Bersamanya, aku belajar bahwa keluarga bukan hanya soal darah, tapi tentang siapa yang tetap menggenggam saat dunia terasa berat. Dalam tawa, luka, dan bahagia, kami saling menguatkan.

Ketika tubuhnya mulai lemah, semangatnya justru semakin kuat, ia tetap menyelipkan senyum tipis, dan selalu menyisakan ruang untuk candaan, obrolan ringan, dan kasih sayang.

Tapi Sang Pencipta ternyata lebih mencintainya. Aku iri padanya, Tuhan seperti rindu ingin memeluknya lebih dahulu.

Senin, 28 Juli 2025, pukul 09.00 pagi.

Aku menemaninya di detik-detik terakhir. Pagi itu lebih dingin dari biasanya. Seolah semesta ikut membungkam diri, menyaksikan perpisahan yang tak bisa dihindari.

Dengan suara lirih, nyaris tak terdengar, ia sempat berbisik kalimat yang akan terus melekat dalam ingatanku:

“Nda… aku suka kesederhanaanmu. Aku suka filosofimu tentang menghilang untuk tenang.”

Tapi kenyataannya, bukan dia yang belajar tentang kesederhanaan dariku. Akulah yang selama ini diam-diam belajar darinya, dari tatapan matanya yang teduh, dari tutur katanya yang menenangkan, dari kehadirannya yang sunyi tapi bermakna.

Beyza dan pintu terakhir

Namanya Beyza. Anak kecil yang polos, ceria, dan penuh tawa. Dari sekian banyak panggilan sayang dia kepada Beyza, ada satu yang paling istimewa: “Didut.”

Dan Beyza, dengan manja, selalu menyapa iparku itu dengan sebutan hangat: “Ibok.” Sebuah panggilan sederhana, tapi sarat cinta seperti pelukan, seperti rumah.

Di hari-hari terakhirnya, dia terbaring lemah di rumah sakit. Anak kecil dilarang masuk ruang intensif, tapi cinta tak pernah tunduk pada aturan. Dengan segala cara, kami membawa si kecil Beyza untuk menemui iboknya.

Saat Beyza datang, dunia seperti berhenti. Dengan sisa-sisa tenaga, ia membuka mata. Dan, dengan suara lantang meski mata tetap terpejam, ia mengucapkan kalimat yang tak pernah kami sangka menjadi pesan terakhirnya:

“Sampai berjumpa di tempat yang lebih bagus… bye bye…”

Aku menahan napas. Tak ada yang benar-benar siap mendengar kata perpisahan.

Tak lama setelah Beyza meninggalkan rumah sakit, dalam perjalanan pulang, kabar duka itu menyusul. Ibok-nya telah pergi. Kami membawanya kembali ke rumah sakit, kali ini dalam diam, dalam pelukan duka.

Di sana, aku berbisik lirih di telinganya:

“Adek… ibok sudah pergi ke surga. Kalau rindu, doakan ya…”

Beyza terdiam. Wajah mungilnya mendung. Seperti hujan yang turun di tengah sinar matahari yang sedih, tapi belum mengerti sepenuhnya.

Lalu, dari bibir kecil itu keluar pertanyaan yang menghantam relung hatiku:

“Bunda… boleh gak aku lihat ibu di depan pintu? Sebentar aja… 🥺”

Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya luruh. Tangis pecah di balik tembok rumah sakit. Hancur, luluh seperti puzzle yang tercerai-berai, entah kapan bisa utuh kembali.

Ibu…

Engkau ada dalam setiap detik tumbuh kembangnya. Saat langkah pertamanya, kau di sana. Menggandeng, menuntun.

Kini kau mungkin tak lagi di sini, tapi jejakmu tinggal seperti mural di dinding waktu.

Kami tak bisa lagi memelukmu, tapi kami tahu, kami pernah mencintai seseorang yang kehadirannya tak tergantikan. Seseorang yang tanpa banyak kata, telah mengajarkan bahwa menjadi diri sendiri adalah bentuk seni paling murni.

Nurhafifah

ShareSendShare

Discussion about this post

TENTANG KAMI

Payungi hadir atas inisiatif warga berdaya yang percaya perubahan bisa dilakukan dengan gotong royong.

Alamat: Jl. Kedondong, Yosomulyo, Kec. Metro Pusat, Kota Metro, Lampung 34111

Kontak: 0812-7330-7316

LOKASI PAYUNGI

  • Bank Sampah
  • Kampung Bahasa
  • Kampung Kopi
  • Pasar Payungi
  • Payungi Media
  • Payungi University
  • Pesantren Wirausaha
  • Pusat Studi Desa

© Payungi - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi

© Payungi - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In