Aku selalu meyakini bahwa yang ada di dunia ini merupakan takdir dari Allah, begitu juga pertemuan dan perpisahan. Allah menakdirkan pertemuan indah dengan orang-orang yang luar biasa di dunia ini, salah satunya kamu, Mbak Hif.
Tahun 2015 merupakan awal pertemuan denganmu, Mbak. Kita sama-sama menempuh pendidikan biologi pada program pascasarjana Universitas Muhammadiyah Metro. Wanita tangguh dengan prinsip yang kuat, wanita yang selalu tersenyum dalam setiap kondisi, itulah kesan pertamaku melihatmu dan mendengar cerita tentangmu, Mbak. Prestasi yang engkau torehkan bukan hanya untukmu, tetapi untuk semua orang di sekitarmu.
Tahun 2019, Allah menakdirkan kita untuk berjumpa kembali untuk saling bekerja sama sebagai seorang pendidik di Tadris Biologi IAIN Metro. Allah juga menakdirkan kita berlima (Nasrul, Hifni, Andri, Tika, Asih) untuk saling belajar dan saling menguatkan.
Pada 6 Agustus 2022, Allah menakdirkan untuk memanggil pulang salah satu orang terbaik dari kami berlima, Tri Andri Setiawan, sosok yang selalu baik di mata kami, yang selalu bisa diandalkan. Pada 28 Juli 2025, Allah juga memanggil pulang wanita tangguh nan menyejukkan, salah satu dari kami berempat, Mbak Hifni Septina Carolina.
Bagi sebagian orang, saat mendengar kabar kepergianmu, sangat yakin pasti kaget, Mbak. Tak ada kabar kamu sakit dan tiba-tiba kamu pergi. Hanya orang-orang tertentu yang tahu kalau kamu selama ini menahan sakit yang terus menggerogoti tubuhmu, perlahan melemahkan tubuhmu, Mbak.
Aku iri denganmu, Mbak. Kamu begitu ikhlas menjalani takdir dengan selalu ikhtiar, do’a, dan tanpa keluhan sama sekali dalam hidupmu. Sampai sekarang pun aku masih gak percaya, Mbak. Hatiku selalu bertanya, “Kok kamu bisa seikhlas itu menjalani takdir? Kok kamu bisa gak pernah mengeluh dengan sakitmu? Kok kamu bisa, Mbak, tetap tersenyum dalam sakitmu? Kok kamu bisa, Mbak, tetap bermanfaat untuk orang lain di kala sakitmu? Kok kamu bisa, Mbak, memberikan dukungan ke orang lain padahal kamu juga butuh?” Banyak hal, Mbak, aku butuh belajar dari kamu. Banyak, Mbak, banyak.
Darimu, aku belajar tentang keikhlasan menjalani takdir yang Allah berikan. Beberapa kali pertemuanku denganmu, wanita tangguh di kala sakit yang tak pernah mengeluh. Ketika kubertanya, selalu jawaban yang kamu berikan, ”Butuh istirahat aja, Sih,” dengan terus meyakinkan bahwa kamu baik-baik saja. Senyum yang selalu menghiasi wajahmu gak akan pernah hilang dari ingatanku, Mbak.
Tanggal 27 Juni 2025 merupakan pertemuan terakhir kita, Mbak. Begitu khawatirnya kami mendengar kabarmu, mendorong kami memaksamu untuk menerima kami berkunjung ke rumahmu, dan alhamdulillah kamu menerima kami. Mbak, kamu tahu gak? Pertama kali masuk ke ruangan tempatmu berbaring, aku terhenti sejenak, air mata tak mampu lagi terbendung, namun aku harus menguatkan hati dan meyakinkan diri, ”Tidak boleh ada air mata, jangan menambah beban Mbak Hif.”
Dan selalu, kamu menyambut kami dengan senyuman dan vibes positifmu, tak ada keluhan sedikit pun yang kamu utarakan, menjalani takdirmu dengan begitu ikhlas.
Setiap ke Payungi, aku selalu memantau rumahmu, Mbak. Aku ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja, bahkan sesekali memberanikan diri bertanya tentangmu dengan keluargamu. Beberapa kali dalam mimpiku kamu hadir meyakinkanku bahwa kamu baik-baik saja. Sebegitu khawatirnya kami tentangmu, Mbak, setrauma itu kami takut akan kehilangan teman seperjuangan yang penuh kebaikan. Dan Allah lebih menyayangimu, Mbak Hif, wanita tangguh penuh keikhlasan.
Yang aku sesali, Mbak, aku terlalu telat menyadari petunjuk-petunjuk yang kamu berikan melalui konten-kontenmu. Setiap momen yang selalu kamu abadikan, ”Ayo, selfie disek.” Bahkan saat kamu tahu aku mau ke pasca ketemu Pak Agus Sutanto, kamu dengan semangatnya, ”Ikut boleh gak, Sih? Kangen Bapak.”
Semua orang yang kamu temui, kamu jadikan guru, Mbak. Setiap guru kamu hormati. Tak cukup untuk menuliskan semua tentangmu, akan selalu kuingat kamu dengan segala hal yang kamu torehkan dalam ingatanku. Dan aku rindu, Mbak, kamu memanggilku, ”Sih.” Hanya Mbak Hif dan Andri yang memanggilku begitu, dan kini tak kan ada lagi panggilan itu.
Kamu mengajarkanku tekad dengan memulai hidup sehat. Kamu juga yang memberikan penguatan kepadaku, ”Iso-iso, Sih, wes to, pasti iso.” Kamu mengajak kami untuk memulai dan membiasakan hidup sehat melalui 30 days challenge WES Payungi, dan aku berhasil, Mbak, melanjutkan apa yang kamu ajarkan sampai saat ini. Kamu juga yang mengajarkanku untuk membawa tumbler, dan mengajarku agar wanita jangan terbatas geraknya, ”Wanita harus bisa.” Kamu yang mengajarkanku wanita harus berdaya. Banyak hal yang kamu ajarkan, Mbak.
Kamu pasti sengaja, kan, Mbak, mengukir kenangan indah bersama semua orang yang kamu temui? Dengan kepergianmu, semua orang merasa kehilangan, namun semua kenangan yang kamu berikan tidak akan pernah hilang dari ingatan, Mbak Hif.
Takdir memang memisahkan kita, Mbak, namun kisahmu dan perjuanganmu tak pernah hilang. Semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisi-Nya untuk Mbak Hifni. Aku ikhlas, Mbak, atas kepergianmu. Senyummu kan selalu terkenang di hati.
Asih Fitriana Dewi

Discussion about this post