Saya memang belum lama mengenal Mbak Hifni Septina Carolina. Namun entah mengapa, perasaan saya mengatakan sebaliknya-seolah-olah sudah lama menjalin kedekatan. Mungkin karena suami saya, Abdul Rohman Wahid, sering mendampingi Mas Dharma Setyawan dalam berbagai kegiatan Payungi di Kota Metro.
Dari situ saya mulai akrab dengan nama Mbak Hifni. Beliau adalah bagian dari keluarga besar Payungi-bukan sekadar anggota tim, tapi sudah dianggap seperti “mbaknya” suami saya. Begitu pula Mas Dharma, yang kami anggap sebagai “mamas” bagi suami saya. Dari situ pula saya mengenal mereka berdua sebagai sosok yang tulus dan penuh kebaikan.
Saya dan suami memang sering berbeda pandangan soal gerakan. Saya lebih suka menekuni aktivitas bisnis dan rutinitas sebagai ibu dari anak pertama kami, Muhammad Haqi Alfarezel. Namun, suatu hari saya ikut suami dalam rombongan tim Payungi ke Jakarta pada Tgl 27 November 2023. Saat itu, Mas Dharma diundang oleh Kementerian Koordinator PMK RI untuk menjadi narasumber Talkshow / Seminar Nasional bertajuk “Replikasi Sukses UMKM dan Koperasi Bagi Wirausaha Perempuan dan Pemuda di Indonesia.”
Itulah momen yang begitu berkesan. Saya merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar Payungi. Yang paling membekas, saya satu kamar dengan Mbak Hifni dan anak saya selama di Jakarta. Dari situ saya benar-benar mengenal sosok beliau-seorang perempuan yang lembut, pendiam, dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan.
Meski sibuk sebagai dosen di IAIN Metro (yang kini telah menjadi UIN Jurai Siwo Metro Lampung), Mbak Hifni tetap perhatian. Ia begitu peduli terhadap anak saya, Rezel. Walau belum menjadi ibu secara biologis, beliau menunjukkan kasih sayang yang luar biasa, seperti seorang ibu sejati. Apalagi dalam perannya sebagai “ibu komunitas” di WES Payungi-gerakan sosial yang ia rintis dan dampingi bersama suaminya.
Suatu sore, kami berjalan-jalan ke taman dekat penginapan. Saya dan Mbak Hifni begitu asyik mengobrol soal menjaga kesehatan dan nilai-nilai kebaikan, sampai tanpa sadar, anak saya berlarian ke sana kemari. Tiba-tiba Rezel jatuh dan mengeluh kesakitan di pundaknya. Kami panik. Saya langsung menelepon suami dan tim Payungi. Akhirnya, kami putuskan untuk segera pulang ke Lampung.
Yang paling saya ingat, saat saya menangis dan panik, Mbak Hifni justru yang menenangkan. Dengan tutur lembut, ia menyabarkan saya. Meski belum memiliki anak, beliau sudah menunjukkan bahwa ia memahami perasaan seorang ibu. Bahkan, mungkin lebih dari itu—ia menunjukkan betapa besar hatinya sebagai ibu dari sebuah gerakan, dan ibu dari semangat kebaikan.
Saya sempat berdoa dalam hati, “Ya Allah, semoga Engkau karuniakan anak untuk Mbak Hifni.” Karena saya tahu, jika ia diberi amanah itu, ia pasti akan menjadi ibu yang luar biasa. Apalagi ia dan Mas Dharma adalah pasangan yang saling menguatkan dalam jalan kebaikan. Suami saya pun banyak belajar dari mereka.
Saya bersaksi, Mbak Hifni adalah orang baik. Ia sabar, penuh empati, dan tidak suka menonjolkan diri. Ia lebih memilih menjadi pendengar yang tulus, dibandingkan menjadi pusat perhatian. Tapi justru dari ketulusannya itulah, banyak hati yang disentuh dan dikuatkan.
Lalu, pada 28 Juli 2025 pukul 13.10 WIB, kabar duka itu datang. Suami saya mengabari lewat pesan WhatsApp: Mbak Hifni telah wafat. Saya terpaku. Tubuh saya lemas. Hati saya tercekat. Saya tidak menyangka-begitu cepat beliau pergi. Beberapa minggu terakhir, suami saya memang jarang berkunjung ke Payungi karena kesibukan, dan saya pun tidak tahu bahwa Mbak Hifni sedang sakit. Saya kira beliau hanya menjalani pengobatan rutin seperti biasa.
Namun ternyata… Allah lebih mencintainya.❤
Kini, memang beliau telah tiada. Tapi cahaya kebaikan yang beliau nyalakan tidak padam. Ia tetap hidup dalam setiap gerakan yang dibangunnya bersama Mas Dharma dan tim Payungi. Tetap menyala di WES Payungi. Tetap tumbuh di hati orang-orang yang pernah bersinggungan dengan kehangatan dan ketulusan beliau.
Mbak Hifni mengajarkan bahwa keikhlasan tak butuh panggung. Bahwa kebaikan sejati adalah yang berjalan diam-diam, tapi berdampak besar.
Selamat jalan, Mbak Hifni Septina Carolina. Terima kasih atas segala jejak dan keteladanan yang tak akan pernah hilang.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal baikmu, mengampuni segala khilafmu, dan menempatkanmu di surga terbaik-Nya.
Dani Fidiantari (Istri Abdul Rohman Wahid & Ibu Muhammad Haqi Alfarezel)

Discussion about this post