Aku mungkin tidak seperti mereka yang punya banyak foto kebersamaan denganmu, Hifni Septina Carolina. Kebersamaanku dengannya ada dan diingatkan oleh kami masing-masing.
Dulu kami sekolah bareng waktu duduk di bangku SD dan SMP. Selama sekolah, Mbak Hifni (setelah kami dewasa, aku lebih nyaman memanggilnya Mbak, lebih teduh rasanya) selalu jadi bintang kelas, hampir setiap bagi rapor dia selalu peringkat 1. Jarang jajan, pokoknya dia kalem banget.
Di SMP kami selalu sekelas, dan diapun selalu jadi bintang kelas. Entah apa yang menjadikan aku bisa satu geng sama dia, “600 CC” namanya. Padahal kalau di antara mereka, aku ini yang paling tidak bisa, dari segi ekonomi pun aku jauh di bawah mereka. Aku bersyukur bisa bergabung dengan mereka. Itu yang memotivasiku untuk semangat belajar biar pantas jadi anak 600cc.
Waktu itu, hal paling seru itu ketika malamnya jam tayang film “Meteor Garden” (Sancai, Thaomingse, dkk), kami selalu heboh menceritakan kembali film tersebut di pagi harinya ketika di kelas, padahal ya sama-sama nonton.
Belum lagi cerita “Amigos”, Tante rambut pirang, ah indahnya waktu itu. Mbak Hifni pun selalu tak ketinggalan film-film tersebut. Tak jarang pula dia menceritakan kelanjutan nasib Sancai saat aku tidak nonton. Lalu kami sering pergi ke kantin bersama, haha hihi di warung Mbak Atun.
Waktu SMA kami beda sekolah, Mbak Hifni di Kota Gajah, sekolah sambil mondok. Kamipun masih mendengar kabar kalau dia di sana juga jadi bintang kelas, kalau di sekolah peringkat 1, di pondoknya peringkat 2, pun sebaliknya pondok peringkat 1, sekolah peringkat 2, pokoknya pintar banget. Dia juga ikut olimpiade biologi di sekolahnya.
Kami masih saling kirim kabar via surat (dulu HP masih jadi barang langka). Jangan lupa baca surat Mbak Hifni yang di postingan ini ya, di halaman terakhirnya Dia minta kita saling berkirim surat kalau tidak sempat kirim surat Al-Fatihah saja.
Lulus SMA kami sama-sama melanjutkan kuliah. Kami jarang bertemu, paling ketemu ketika Lebaran saat keliling ke rumah guru-guru SMP.
Singkat cerita, lulus kuliah Mbak Hifni mengajar di sekolah “Darma Bangsa”, dan kebetulan aku juga kerja di Bandarlampung. Mbak Hifni beberapa kali mengajakku melihat kegiatan dia dengan murid-muridnya, di acara SDB Fair. Aku juga pernah menginap di kosannya, sepanjang malam kami cerita ngalor ngidul bercerita jodoh yang tak kunjung datang, kerjaan, dan candaan lainnya.
Tahun berikutnya, dia cerita hendak menikah dengan Pak Dharma Setyawan.
Mereka adalah couple goals. Baik Mbak Hifni maupun Pak Dharma adalah bintang, setiap langkah mereka dan ide-idenya selalu mampu menginspirasi orang-orang di sekitarnya. “Payungi” (Pasar Yosomulyo Pelangi), menjadi salah satu hasil karya terbaik mereka dalam wujud pengabdiannya terhadap masyarakat. Memberdayakan perempuan-perempuan di lingkungan sekitar rumahnya untuk bisa lebih berdaya dan mandiri, menyulap lorong desa menjadi tempat yang ramah untuk keluarga, orang tua, dan anak-anak.
Kepribadian Mbak Hifni yang lembut, hangat, humble membuat setiap orang merasa nyaman dan dekat dengannya, walaupun pertemanan itu singkat namun membekas di hati setiap orang yang mengenalnya.
Di beberapa tahun terakhir, aku lihat Mbak Hifni lanjut S3 di UPI. Aku bangga banget punya teman bisa kuliah sampai S3 di universitas yang menurutku bukan ‘kaleng-kaleng’. Di sela kesibukannya sebagai dosen, asesor, fasilitator sekolah penggerak, aktivis, masih mau meng-upgrade diri dengan kuliah lagi. Lampung – Bandung serasa Metro – Balam, bolak balik demi kelancaran semua kegiatan. Daya juangnya keren banget. Dan setelah kepergiannya, aku juga baru tahu ternyata selama kuliah S3 ini Mbak Hifni sudah tahu kalau dirinya sakit, namun dia tetap mau kuliah dengan anggapan kuliahnya bisa sebagai pengalihan rasa sakitnya.
Kamu memang pejuang sejati.
Kini kamu sudah tidak sakit lagi, kamu sekarang sudah berada di tempat terindah.
Selamat jalan sahabatku, kebanggaanku.
Terima kasih telah mau jadi temanku.
Terima kasih cerita “Yong Pal”-nya.
Heaven adalah tempatmu.
Al-Fatihah.

Discussion about this post