Senin, April 6, 2026
Payungi.org
  • Login
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi
No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi
No Result
View All Result
Payungi.org
No Result
View All Result
Home Catatan

Mengukir Kisah di Kampus Hijau

"Setiap kali saya mengeluh atau bercerita, Hifni selalu mengingatkan akan hal-hal positif." - Kitti Kartika Halim

by Payungi
8 Agustus 2025
in Catatan, In Memoriam: Hifni, Wes
Reading Time: 6min read
A A
0
Mengukir Kisah di Kampus Hijau
Share on FacebookShare on Whatsapp

Hifni Septina Carolina, kita berkenalan pada saat usia muda, 18 tahun, di Kampus Hijau tempat kita bertumbuh dan berjuang bersama. Kurang lebih empat tahun kita mengukir cerita di kampus ini. Saya masih sangat ingat, waktu pertama kali duduk bersebelahan dengannya, Hifni terlihat begitu sopan, manis, dan pendiam, namun suaranya terdengar jelas saat menjawab pertanyaan dosen yang sedang memberikan kuliah. Suaranya sungguh khas, yang disebutnya sendiri dengan suara “ngebass”. Kecerdasannya sudah bisa saya rasakan melalui jawaban-jawaban singkatnya kala itu, dan rasa kagum mulai muncul di dalam hatiku. Hifni adalah pribadi yang cerdas dan berkarakter positif.

Pertemanan terasa lebih akrab saat kami tinggal di indekos yang sama, Angan Saka. Kami jadi lebih mengenal satu sama lain. Saya tahu Hifni begitu gemar membaca, dan itu membuatku termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Saya pun mampu memahami bahwa pengetahuan dan insight akan kita peroleh melalui membaca, walaupun sekadar bacaan ringan, buku cerita, ataupun novel. Kami berangkat ke kampus dengan berjalan kaki bersama, melewati jalan tikus FKIP. Kadang berjalan santai, kadang biasa, terkadang juga terburu-buru karena dikejar waktu kuliah. Hingga akhirnya, kami saling bertukar cerita kehidupan di sepanjang perjalanan dan di Angan Saka. Cerita kehidupan kami, di beberapa bagian, terlihat begitu mirip. Itulah yang memunculkan perasaan: ”Saya mengerti apa yang kamu rasakan, begitu pun kamu bisa merasakan apa yang saya alami.”

Kehidupan masa kuliah begitu kompleks dan penuh warna. Kita dan teman-teman yang lain, Iin (Nyak), Hitta (Kecil), Nata (Nato), dan Asih (Tante) sering mengerjakan tugas bersama, jajan bersama, berbagi cerita, saling berkunjung ke indekos dan menginap, bahkan saling mengunjungi rumah. Selayaknya kehidupan manusia, kehidupan kami terkadang senang atau sedih, itu biasa. Kami saling bercerita pengalaman atau sejarah hidup dan berbagi kisah tentang hambatan-hambatan kuliah. Kehidupan di kampus, selayaknya gadis muda, ada juga cerita cinta. Namun pada saat itu, Hifni begitu paham akan tujuannya berada di Kampus Hijau. Hifni selalu menemukan jalan untuk kembali fokus hingga dapat menyelesaikan studi dengan baik. Dalam kurun waktu empat tahun, Hifni sudah menyelesaikan studi S1. Di antara kami berenam, Hifni yang pertama wisuda. Semangat dan kegigihannya menular, memotivasi kami untuk dapat segera menyelesaikan studi.

Tidak lama setelah wisuda, Hifni mengajar di sebuah SMP di Natar, Lampung Selatan, lalu berpindah ke salah satu SMA swasta di Bandar Lampung. Kami jarang bertemu di kampus, tetapi semangat dan motivasinya selalu hadir. Hifni berpindah tempat tinggal, begitu juga saya. Hifni berpindah ke BTN hingga ke daerah sekitar Pasar Koga. Sesekali kami saling berkunjung. Darinyalah temanku bertambah, sebab Hifni tinggal bersama teman-temannya; teman-teman yang bisa kurasakan kebaikan dan kesalehahannya. Teman Hifni begitu banyak, teman-teman yang bervibrasi positif, saya sangat bisa merasakan itu. Setiap kali saya mengeluh atau bercerita, Hifni selalu mengingatkan akan hal-hal positif. Saya ingat pesannya, “Be Positive, Be Positive, Kitul.”

Suatu waktu, Hifni kecelakaan motor dan masuk rumah sakit. Dari kabar yang beredar, kakinya akan diamputasi. Kami sangat panik dan langsung menuju rumah sakit untuk melihat keadaannya. Benak kami dipenuhi hal-hal negatif. Sesampainya di RS, kami menjumpainya terbaring di ranjang. Kondisinya tidak begitu baik, walaupun tidak separah berita yang beredar. Kami berpikir Hifni akan kehilangan kedua kakinya. Kami menangis, tapi lihatlah reaksinya, Hifni malah tertawa dan mengatakan kalau dia baik-baik saja. Lihatlah Hifni, bagaimana bisa begini? Seharusnya Hifni yang sedih, meratap, dan mengeluh karena keadaan itu, tapi Hifni bisa menghadapinya dengan tawa, seolah-olah ini bukan perkara besar dan malah menghibur kami yang seharusnya menghiburnya. Besarnya hatimu, luasnya kesabaranmu, betapa positif sikapmu.

Kita sudah semakin jarang bertemu secara fisik setelah sibuk dengan pekerjaan masing-masing, namun tetap terhubung. Beberapa bulan setelah Hifni wisuda, berikutnya menyusul saya dan teman-teman yang lain. Kami sama-sama sibuk bekerja. Ini adalah pengalaman pertama bekerja, menghabiskan waktu di tempat kerja. Tentu saja hal ini memerlukan adaptasi yang luar biasa. Awalnya sebagai mahasiswa yang memiliki waktu luang relatif banyak dan bebas bepergian, tiba-tiba terikat tanggung jawab dan waktu di tempat kerja. Saya masih sering mengeluh di media sosial kala itu mengenai beban kerja. Lagi-lagi, Hifni yang memotivasi dan mengingatkan akan pentingnya etos kerja. Motivasimu selalu berhasil menembus benak dan perasaanku, Hifni, menjadi sebuah pembelajaran dan memiliki kekuatan untuk mengubah perilaku.

Tahun 2013, Hifni bertemu dengan jodohnya. Hifni menikah dengan Mas Dharma Setyawan. Kami hadir dalam peristiwa sakral Hifni dan Mas Dharma. Kami kembali mengunjungi Kalirejo. Setelah menikah, Hifni masih menyempatkan diri berkunjung ke kediaman saya di Rajabasa karena ia masih tinggal di Bandar Lampung di awal-awal pernikahannya. Setahun berikutnya, saya pun menyusul Hifni. Hifni sempat hadir dalam resepsi pernikahan saya ditemani suaminya, Mas Dharma. Mereka datang jauh-jauh dari Kota Metro ke Tumijajar, Tulang Bawang Barat, untuk menghadiri resepsi pernikahanku. Meski sudah menikah, kami pun masih tetap terhubung, sesekali bercerita seputar kehidupan rumah tangga ataupun pekerjaan, walaupun terkadang hanya lewat aplikasi percakapan.

Tahun 2017 menjadi tahun terakhir pertemuan saya dengan Hifni secara fisik. Selebihnya hanya melalui aplikasi percakapan. Walaupun demikian, Hifni tetap menjadi penolong, tempat yang aman untuk bercerita, dan selalu peduli dengan kami, teman-temannya. Belakangan Mas Dharma akan mendirikan HSC (Help, Save, Care), yang memang sangat merepresentasikan seorang Hifni Septina Carolina. Sepanjang tahun 2017 sampai akhir hayatnya pada tahun 2025, Hifni masih tetap hadir dengan sikap positif, motivasi, dan kepeduliannya terhadap orang lain.

Hifni masih sering menginisiasi obrolan di grup percakapan yang sekian lama vakum, sekadar berbagi cerita tentang kehidupan dan pekerjaan. Beliau memberikan wawasan seputar penerapan kurikulum baru dan berbagi cerita tentang kegiatan-kegiatan positifnya. Lewat aplikasi percakapan juga, Hifni memberikan informasi, kesempatan, saran, dan dorongan kepada saya untuk menulis jurnal penelitian. Alhamdulillah, saya akhirnya bisa menghasilkan sebuah karya jurnal dengan bantuan Hifni, yang sekarang bisa saya gunakan sebagai salah satu portofolio untuk melanjutkan studi S2. Hifni yang memberikan bantuan seputar informasi pendidikan S2. Hifni yang memberikan motivasi dan saran untuk melanjutkan S2 yang benar-benar sangat bermanfaat.

Di tengah kesibukan seorang ibu beranak dua usia balita dan sekolah dasar, disibukkan dengan pekerjaan dan tugas rumah tangga, pesan singkat dan kegiatannya yang diunggah di medsos sungguh mampu menggerakkan dan menumbuhkan motivasi dalam diri saya dan meyakinkan diri sendiri bahwa saya mampu untuk melanjutkan studi. Saya bisa merasa sangat tergerak dan termotivasi hanya dengan tulisannya di aplikasi percakapan. Itu bukan sekadar percakapan biasa; itu percakapan yang memiliki kekuatan untuk menggerakkan seseorang. Menyimak kehidupan dan pergerakannya lewat sosial media masih sangat mengagumkan; ia terus memberdayakan diri dan orang-orang di sekitar. Hifni mulai menulis opini di koran, bergabung dalam komunitas pemberdayaan sosial seperti Ayo ke Dam Raman, Payungi, dan Woman and Environmental Studies (WES), hingga terakhir melanjutkan studi doktoral di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Beberapa saat sebelum kepergian Hifni, tubuhnya terlihat lebih ramping dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tak ada pikiran aneh mengenai perubahan tubuhnya. Saya hanya berpikir mungkin ini adalah efek perubahan pola hidup yang Hifni jalani, seperti hanya mengonsumsi real food. Saya hanya berpikir, mungkin ada insight baru yang Hifni yakini sehingga memutuskan untuk mengubah pola hidup. Saya sama sekali tidak berpikir tentang penyakit, sebab wajahnya sungguh tampak ceria dan berseri di depan kamera, yang Hifni bilang, “Hanya efek kamera, Beps.” Tidak ada keluhan, tidak ada sama sekali.

Dua bulan sebelum kepergiannya adalah waktu sapaan terakhir di aplikasi percakapan. Hifni sudah terlihat jarang membuat snap, jarang mengobrol di grup, tidak ada lagi percakapan lewat jalur pribadi. Mengapa saya tidak menanyakan kabar Hifni? Sebab saya berpikir Hifni sedang sangat sibuk dengan pekerjaan dan studinya. Saya tak ingin mengganggu hanya dengan percakapan receh. Saya berpikir jika Hifni sudah memulai percakapan di grup, artinya dia sudah memiliki banyak waktu untuk bercerita kembali. Ternyata saya salah. Hifni sedang sakit, sakit yang tak pernah kuduga sebelumnya, hingga akhirnya berita duka yang kudengar lewat panggilan telepon siang itu. Nyak dan Tante menelepon, bahwa Hifni sudah meninggal pada hari Senin, 28 Juli 2025. Perasaanku sungguh sangat tidak karuan, sedih bercampur bingung. Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa bisa begini? Lalu saya mulai kilas balik, mengapa selama dua bulan ini saya tidak pernah menanyakan kabar Hifni? Sungguh keterlaluan. Belakangan saya mengerti bahwa ini memang keputusannya untuk menghadapinya bersama keluarga. Sekarang saya bisa memahaminya, mencoba merasakan jika saya berada di posisi Hifni waktu itu. Sungguh kuatnya Hifni, tidak pernah mengeluh, tidak pernah berisik, mampu menyembunyikan beban di balik senyum dan keceriaan.

Saya sangat bersyukur kepada Allah yang sudah baik menuliskan jalan takdirku bertemu dengan Hifni. Pernah berbagi cerita, perasaan, dan pengetahuan dengan Hifni adalah sesuatu yang sangat mengesankan. Ada sebuah hadis yang berbunyi, ”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad). Itulah prinsip hidup Hifni, setidaknya begitulah menurut sudut pandangku, karena itulah yang saya lihat dan rasakan tentang Hifni.

Setelah kepergianmu dan beberapa hari setelahnya, kadang air mata ini tak tertahan untuk menetes saat saya sedang sendiri, saat setelah salat, saat sepanjang perjalanan rumah-sekolah. Satu hal yang saya yakini, perpisahan ini hanya sebatas perpisahan fisik. Hifni akan selalu bersemayam di salah satu sudut hati dengan tempat terbaiknya, sebagai manusia yang gemar menebar manfaat, memberdayakan diri dan sesama, senang menolong, berhati lembut, peduli sesama, pejuang gigih penuh semangat, dan motivator bersikap positif.

Terima kasih Hifni, sungguh cantiknya kamu, Sayang, secantik hatimu. Sungguh baiknya kamu. Semoga Allah Yang Maha Baik rida untuk mempertemukan kita di sana nanti. Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu’anha.

Kitti Kartika Halim

ShareSendShare

Discussion about this post

TENTANG KAMI

Payungi hadir atas inisiatif warga berdaya yang percaya perubahan bisa dilakukan dengan gotong royong.

Alamat: Jl. Kedondong, Yosomulyo, Kec. Metro Pusat, Kota Metro, Lampung 34111

Kontak: 0812-7330-7316

LOKASI PAYUNGI

  • Bank Sampah
  • Kampung Bahasa
  • Kampung Kopi
  • Pasar Payungi
  • Payungi Media
  • Payungi University
  • Pesantren Wirausaha
  • Pusat Studi Desa

© Payungi - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi

© Payungi - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In