Kami adalah dua kakak beradik perempuan yang dibesarkan bersama. Hifni Septina Carolina, yang akrab dipanggil Lina, dan saya, Yunitha Ulfah, yang biasa dipanggil Nita di rumah. Sejak kecil, kami dikenal dengan sebutan “Nita Caro Lina”, yang dalam bahasa Jawa berarti “Nita sama Lina”.
Dulu kami sering dikira kembar karena postur tubuh kami yang hampir mirip dan usia kami yang hanya berselisih tiga tahun. Meskipun begitu, kami punya perbedaan yang jelas. Lina memiliki kulit kuning langsat, berbeda denganku yang kata Om Dharma Setyawan “klawu”. Dari kecil, Lina juga memiliki sifat yang kalem dan penurut, pokoknya semua sifat baik ada padanya. Bahkan, di antara kami berempat bersaudara (Nita, Lina, Najib, dan Iqbal), Lina adalah yang paling jarang dimarahi Bapak. Ia memang anak yang penurut dan tidak pernah menuntut apa pun.
Waktu kecil, jika Bapak pergi, oleh-olehnya bukanlah makanan, melainkan buku. Kebiasaan itu dimulai sejak kami SD. Mungkin itu yang membuat Lina hobi sekali membaca buku sampai sekarang. Setiap malam, Bapak sering membacakan kami dongeng; aku di sisi kanannya dan Lina di sisi kirinya. Momen setelah magrib itulah yang selalu kami tunggu-tunggu, karena penasaran dengan cerita apa lagi yang akan dibawakan Bapak.
Layaknya kakak beradik, kami juga sering sekali bertengkar. Bapak bahkan sering menjuluki kami, “Oh, dasar BOPON!” Maksudnya adalah Rabu Pon, karena kami memang lahir di weton yang sama. Namun, karakter kami jauh berbeda. Jika aku adalah apinya, dialah airnya. Lina kalem, sementara aku lebih “bar-bar”. Meski begitu, kami punya kemiripan: sama-sama menyukai sains. Saat kuliah S1, aku mengambil jurusan Pendidikan Fisika, sedangkan Lina mengambil Pendidikan Biologi. Begitulah kami, saudara yang saling melengkapi. Kami tetap memiliki ikatan darah; jika dia sakit, aku lebih merasakan pedihnya. Dalam keluarga, jika ada masalah, dialah pemikirnya, sedangkan aku eksekutor di lapangan. Sekarang, aku kehilangan sang pemikir itu.
Minggu, 20 Juli 2025, Lina mengirimiku chat pribadi. Isinya adalah bukti transfer sejumlah uang dengan permintaan untuk dibelikan nisan. Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku menangis sejadi-jadinya, selalu berharap ada keajaiban agar Lina bisa sembuh dari sakitnya. Di sela-sela chat itu, Lina juga meminta maaf. Aku membalas, tidak ada yang perlu dimaafkan, karena akulah sebagai kakak tertua yang justru sering marah-marah. Aku mencoba memberinya semangat, meyakinkan bahwa kami akan menua bersama. Lina menjawab, “Mimpiku juga begitu, Mba.” Tangisku pecah seketika.
Aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit keesokan paginya, pukul 07.00, padahal aku ada jadwal mengisi pelatihan PM di Punggur. Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menemuinya dan menggenggam tangannya. Dengan lirih kukatakan, “Semangat, ya.” Dengan suara terbata-bata, ia menjawab, “Nggak apa-apa ya, Mba, kalau aku menyerah. Aku sakit banget.” Tangisku kembali pecah. Ya Allah, dada ini terasa begitu sesak. Ibu kemudian menghampiri kami, menenangkan agar kami tidak terus menangis, mencoba ikhlas, seraya tetap berharap ada keajaiban untuk Lina.
Seminggu kemudian, hari itu pun tiba. Senin, 28 Juli 2025, menjadi hari yang tak biasa. Langit mendung, syahdu, dan kalem, persis seperti dirimu, Te Lina, yang jauh dari gemerlap dan silaunya dunia. Pukul 08.00 pagi, aku bergegas pulang dari rumah sakit. Aku berpamitan pada Lina yang masih terbaring lemah di ranjangnya. “Te, aku pulang dulu, ya. Mau ke sekolah dulu, nanti siang aku ke sini lagi,” kataku. Lina masih merespons dengan anggukan dan jawaban “iya” yang lirih.
Saat di perjalanan, tepat pukul 09.30, aku mendapat pesan dari adikku, Najib, bahwa kondisi Lina memburuk. Aku lantas berbalik arah dan kembali ke rumah sakit. Benar saja, Lina sudah sangat lemas. Aku tak sanggup menceritakan detail kejadian yang kulihat langsung. Aku hanya bisa bersaksi, itulah sakaratulmaut yang sangat tenang, dikelilingi oleh keluarga terdekat. Sebuah kematian yang terasa begitu “terstruktur”, sama seperti hidupmu, Te.
Kamu meninggalkan pesan untuk semua orang, dan kami akan melanjutkan perjuanganmu itu. Disalatkan oleh banyak saudara muslim dan melihat banyaknya orang yang bertakziah semakin membuatku bangga padamu, Te. Itu membuktikan bahwa kamu tidak benar-benar mati. Sejatinya, kamu tetap hidup bersama kami melalui nilai-nilai yang selama ini kamu perjuangkan. Kamu telah mengimplementasikan hadis: “Khoirunnas anfa’uhum linnas” (Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain). Semoga itu menjadi cahaya terang di kuburmu, ya, Te.
Aku bangga menjadi Mbak-mu. Kurang lebih 37 tahun kita bertumbuh bersama. Aku mengenalmu sebagai adik yang penurut, manis, kalem, dan pintar. Setiap pergerakan dan perjuanganmu telah diceritakan oleh teman-temanmu, dan semuanya masyaallah luar biasa.
Tapi, perlu kamu tahu, Te, sekarang Nita tanpa Lina… patah.
Aku akan berusaha melanjutkan hidup dan terus berjuang di pendidikan, sama seperti perjuanganmu.
Lina selalu berpesan, “Mba… jangan capek-capek, ya. Jangan sibuk-sibuk. Jaga kesehatan.” Pesan ini akan selalu kuingat.
Tenang di sisi Allah Swt., ya, Te. Aku akan menjaga Ibu dan adik-adik. I miss you, Te.
Yunita Ulfah

Discussion about this post