Kamis, Maret 5, 2026
Payungi.org
  • Login
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi
No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi
No Result
View All Result
Payungi.org
No Result
View All Result
Home Catatan

Obituari Hifni Septina Carolina: Cahaya HSC—HELP, SAVE, AND CARE—dalam Jejak Sunyi

By. Mufliha Wijayati

by Payungi
5 September 2025
in Catatan, In Memoriam: Hifni
Reading Time: 5min read
A A
0
Obituari Hifni Septina Carolina: Cahaya HSC—HELP, SAVE, AND CARE—dalam Jejak Sunyi
Share on FacebookShare on Whatsapp

Malam ini, dan beberapa hari ke depan, bersengaja kita berkumpul, tidak untuk larut dalam suasana duka, tapi untuk bangkit dari kesedihan dengan mengenang dan menyapa kembali sosok, Hifni Septina Carolina, seraya tulus untuk terus mendoakannya. Hifni telah pulang ke rumah keabadian di usia yang masih muda, 37 tahun. Namun usianya yang begitu muda, dipenuhi dengan kepedulian, keteladanan, dan ketulusan untuk menjejak kebaikan.

Aku dan Hifni: Simpul yang Saling Terpaut

Bagi saya, Hifni Septina Carolina bukan sekadar adik, rekan kerja, atau sahabat dalam circle gerakan, tetapi bagian dari narasi hidup yang saling terhubung. Kami lahir dari tanah yang sama, di Lampung Tengah, bersebelahan desa, masih satu kecamatan di Kalirejo. Orang-orang Kota, Tanjung Karang atau Pringsewu menyebut kami sebagai wong lor kali Sekampung. Kali atau Sungai dalam struktur masyarakat seringkali menjadi batas imajiner kebudayaan. Ya, kami lahir sebagai orang lor kali tanah yang penuh keterbatasan justru telah lahir orang-orang besar yang hidupnya memberi manfaat untuk banyak orang. Buah tirakat dan perjuangan orang-orang tua kami yang menyiapkan anak tangga untuk titian mobilitas vertical. Saya pastikan orang-orang besar itu, HIFNI adalah salah satunya.

Jejak pendidikan Hifni pun bersinggungan dengan saya, ia pernah bersekolah di SMP yang sama di Kalirejo. Saya tidak mengenalnya saat sekolah, karena kami beda generasi, tapi cerita dari guru dan teman-temannya, Hifni kecil adalah murid yang tidak banyak bicara, tenang, namun memancarkan kecerdasan yang cemerlang. Seperti mata air yang bening, dia menyimpan kejernihan dan kekuatan.

Saya sendiri mulai mengenal Hifni secara dekat setelah dia menikah dengan Dharma, seorang mahasiswa kritis dengan gayanya yang unik, kemudian menjadi kolega saya bahkan dalam banyak hal dia menjadi guru saya. Dari sana, lingkaran perjumpaan kami semakin rapat. Kami berjumpa bukan hanya sebagai rekan dosen atau tim di Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, tetapi juga dalam ruang-ruang aktivisme gender. Ada kalanya saya yang menggandeng tangannya, di lain waktu justru dia yang mengajak saya ikut serta. Dalam setiap perjumpaan itu saya melihat Hifni: sosok yang sederhana, tenang, bersahaja, tetapi selalu tegak lurus pada nilai; hati, pikir dan laku menyatu dalam satu frekuensi.

Saya coba menjahit pandangan sahabat, murid, kolega tentang hifni.

Setiap orang yang pernah bersinggungan dengan Hifni, hampir selalu merasakan hal yang sama: tenang, teduh, bersahaja, dan teguh pada nilai yang digenggam.

Hifni…Aku tau, beberapa orang hadir ke dunia, tidak selalu untuk menjadi pusat perhatian, tetapi untuk memberi arah dan juga penerang. Mereka hidup dengan tenang, bekerja dalam senyap, dan meninggalkan jejak kebaikan yang mendalam. Dan itu kamu, Hifni.

Kamu itu seperti payung teduh. Bukan hanya melindungi, tapi juga menenangkan. Bukan hanya hadir, tapi juga mendampingi. Kamu sering kali hadir di antara orang-orang yang lemah oleh struktur ataupun mereka yang tak berdaya karena kultur. Hifni mendengar mereka yang menjadi korban kekerasan gurunya, seorang mahasiswa yang terhimpit oleh struktur relasi guru-murid.

Hifni juga menyimak suara-suara remaja yang terjebak oleh tekanan zaman, tuntutan gaya hidup, dan kultur yang seringkali menjerat. Gadis remaja lucu yang ingin punya uang instant untuk beli I phone 15, dan jajan skin care.

Kamu hadir, menyediakan telinga, merengkuh dengan pelukan, dan menuntun dengan uluran tangan. Tanpa pretensi memberi petuah, mauidhoh hasanah apalagi ceramah-ceramah yang membuat mereka semakin jengah oleh perasaan berdosa.

Dan seperti kata Puji, salah satu murid ideologismu, Kamu itu Guru yang tidak menggurui. Kemudian Dwi Nugroho menambahkan, mendidik tanpa menggurui, menyadarkan tanpa merendahkan, dan memperjuangkan nilai dengan kelembutan yang kokoh.

Hifni selalu menyuarakan keadilan dan pemihakan pada yang lemah dan dilemahkan. Tapi suaranya tidak hingar bingar seperti suara toa yang memekakkan telinga. Melawan tapi tidak teriak-teriak dan gebrak-gebrak meja. Diam diam tau-tau ada gerakan. Diam-diam tau-tau ada perubahan. Berbuat dalam ruang sunyi, bergerak dari pinggir yang hening.

Kata Wakhid, “Hifni mungkin tidak pernah terlihat di panggung besar, namun tanpanya panggung itu tidak pernah ada”. Ya, Hifni memang selalu memilih medan perjuangan tanpa panggung. Dalam banyak forum dia duduk tenang bersila, menyimak, dan mencerna. Tak banyak bicara, menyela, berargumen atau mendebat pemikiran. Apa yang didengar, dia kunyah-kunyah dengan seksama, dicerna, dan sari patinya dia bagikan pada teman-teman komunitas dan sirkelnya.

Nawang bilang, Hifni itu Cahaya yang tak pernah lelah memberi terang. Dalam hidupnya yang singkat dia telah menyalakan banyak pelita pada anak-anak ideologisnya. Aku, kamu, kamu, dia, dan mereka adalah anak-anak ideologis, yang lenteranya telah dia nyalakan. Tugas kita sebagai anak-anak ideologisnya, menjaga dan merawat agar lentera perjuangannya tetap menyala.

Tentang Nilai HSC: Jembatan dari teladan personal menjadi Nilai kolektif

Hifni Septina Caroline (HSC), Kamu pembelajar yang baik. WES adalah warisan kasat mata yang kamu tinggalkan. WES adalah ruang aman untuk berdaya dengan menyemai banyak tunas-tunas harapan yang kelak akan merawat warisan nilai-nilai luhur yang Hifni tinggalkan.

HSC adalah warisan nilai yang Hifni wasiatkan. Dua konsep dalam hukum keluarga Islam yang digabungkan, untuk memberikan power bahwa nilai ini, sungguh harus dijaga oleh kita sebagai ahli warisnya.

Bagi Hifni, Help, Save, Care bukan sekedar kepanjangan dari namanya. Ia menjadikannya sebagai napas hidup, menjadi irama dan Bahasa kasih saying dalam setiap gerakan.

Help (menolong) bagi Hifni bukanlah sekadar kata kerja, melainkan sikap hidup. Ia percaya bahwa menolong tidak harus dengan hal besar, melainkan melalui hal-hal kecil yang konsisten. Saya ingat bagaimana Hifni dengan sabar menemani ibu-ibu di pasar Payungi belajar memilah sampah, merengkuh anak-anak muda WES selamat dari aktifitas unfaedah, memeluk jiwa-jiwa yang terpuruk karena kelelahan mengalami kekerasan. Menolong banyak guru-guru di pedesaan untuk berdaya dan beradaptasi dengan tuntutan profesionalitas. Hifni menolong bukan dari ketinggian, tapi dengan hadir di tengah mereka, duduk bersama, menyingsingkan lengan baju, dan membaur tanpa beda.

Save, bagi Hifni, adalah menciptakan ruang aman. Ia tahu bahwa banyak Perempuan, anak-anak, remaja tidak punya tempat untuk bersuara, tidak punya ruang untuk merasa dihargai. Melalui WES Payungi dan circle-circle yang ia bangun, Hifni selalu memastikan ada tempat di mana perempuan bisa belajar, berbagi, dan bertumbuh tanpa takut dihakimi. Ruang itu bukan sekadar tempat fisik, melainkan ruang batin; rasa percaya diri, rasa aman, dan rasa dihargai.

Care sendiri atau kepedulian adalah ruh yang paling melekat pada dirinya. Hifni tidak pernah membiarkan orang berjalan sendirian. Ia peduli dengan cara yang tulus, bahkan dengan hal sederhana: menanyakan kabar, menyapa dengan senyum, atau mendengar cerita dengan penuh perhatian. Ia punya level empati yang jarang dimiliki banyak orang secara konsisten. Dari sikap peduli itulah lahir ikatan persaudaraan, kekuatan kolektif, dan semangat untuk terus bergerak bersama.

Kini, Nilai-nilai ini bukan hanya milik Hifni, HSC telah menjadi warisan yang diwasiatkan kepada kita semua, agar kita melanjutkan jalan yang ia mulai, jalan pemberdayaan, jalan kasih sayang, jalan kebaikan yang membebaskan.

Dalam Tradisi hadis, Aisyah kita kenal sebagai penafsir tutur dan prilaku Nabi Muhammad. Ada banyak ruang-ruang privat yang tak terbaca oleh sahabat Nabi, sampai ke pada kita melalui lisan Aisyah. Ada beberapa ilmuan juga seperti Clifford Geertz, istrinya Hildred berkontibusi terhadap konstruksi pengetahuan yang dibangunnya. Kali ini Dharma, suami yang menjadi mufasir atas gagasan-gagasan nilai HSC.

Dalam tafsir HSC, Dharma memaknainya sebagai sebuah metode gerakan. Di tengah keterbatasan, Hifni menunjukkan bahwa gerakan sosial tidak selalu lahir dari kerja dan program besar. Ia tumbuh dari tindakan sederhana: menolong yang membutuhkan, menyelamatkan yang lemah, dan merawat yang terluka. Dari langkah kecil itu kita sama-sama menyaksikan adanya perubahan, karena kebaikan yang konsisten selalu punya daya untuk menular.

HSC juga bisa menjadi bentuk kepemimpinan spiritual. Pemimpin sejati, seperti yang ditunjukkan Hifni, bukan mereka yang mencari panggung, sorotan kamera atau semacam kekuasaan hegemonik. Pemimpin sejati adalah yang menolong, menyelamatkan, dan merawat rakyatnya. Kepemimpinan seperti ini lahir dari hati yang penuh welas asih, bukan dari ambisi pribadi. Kepemimpinan ala HSC memberi teladan, menumbuhkan harapan, dan membangkitkan keberanian bersama.

Dan pada akhirnya, HSC juga menjadi cara kita saling mendampingi secara interpersonal. Hifni tidak pernah hadir sebagai sosok yang menggurui, melainkan sebagai sahabat yang membersamai. Ia mendampingi dengan sabar, mendengar lebih banyak daripada berbicara, dan memberi ruang agar orang menemukan kekuatannya sendiri. Makna terdalam dari Care; bahwa kita tidak meninggalkan seorang pun sendirian dalam perjalanannya.

Merawat Nyala, Melanjutkan Langkah

HSC; Help, Save, Care, bukan hanya kisah tentang Hifni Septina Carolina, tapi juga warisan nilai yang bisa kita hidupi bersama. Hifni menunjukkan bahwa gerakan lahir dari langkah-langkah kecil yang penuh makna, bahwa kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang spiritual, dan bahwa pendampingan paling indah adalah yang dilakukan dengan hati, tanpa pamrih.

Hifni telah pulang, tetapi nilai-nilainya tetap tinggal. Setiap tindakannya adalah pesan, setiap perjumpaannya adalah pelajaran. Dari keteduhan dan kesederhanaannya, kita belajar bahwa kekuatan sejati tidak selalu lantang, kadang justru hadir dalam kelembutan yang konsisten.

Tugas kita hari ini adalah merawat nyala itu. Membawa HSC ke dalam gerakan, ke dalam cara kita memimpin, ke dalam cara kita saling mendampingi. Karena sejatinya, mengenang Hifni bukan sekadar menitikkan air mata, tetapi juga melanjutkan langkahnya.

Selamat jalan, Hifni. Terima kasih atas teladan, keteduhan, dan cinta yang kau titipkan. Kami akan terus menjaganya. Semoga engkau damai dalam pelukan Sang Pemilik Cinta, sementara nilai-nilaimu tetap hidup dalam Langkah-langkah kami.

Kauman, 04 Seotember 2025 – 18.51 WIB

With Love,

Mufliha Wijayati

ShareSendShare

Discussion about this post

TENTANG KAMI

Payungi hadir atas inisiatif warga berdaya yang percaya perubahan bisa dilakukan dengan gotong royong.

Alamat: Jl. Kedondong, Yosomulyo, Kec. Metro Pusat, Kota Metro, Lampung 34111

Kontak: 0812-7330-7316

LOKASI PAYUNGI

  • Bank Sampah
  • Kampung Bahasa
  • Kampung Kopi
  • Pasar Payungi
  • Payungi Media
  • Payungi University
  • Pesantren Wirausaha
  • Pusat Studi Desa

© Payungi - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi

© Payungi - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In