Kepergian Mbak Hifni Septina Carolina meninggalkan kekosongan yang dalam, sebuah kekosongan yang tak berwujud, namun begitu nyata. Ia bukan sekadar rekan kerja atau teman seperjuangan, melainkan saudari hati yang setia menemani berbagai fase penting dalam hidup saya, terutama di UIN Jurai Siwo Lampung, tempat kami tumbuh, berbagi mimpi, dan bersama-sama menapaki jalan pengabdian di dunia pendidikan
Sejak awal menjadi CPNS pada tahun 2019, kami seakan ditakdirkan untuk selalu berjalan beriringan. Kami belajar menata langkah sebagai dosen muda, saling bertanya, berbagi, dan menguatkan satu sama lain. Bersama, kami menapaki berbagai proses: dari pendaftaran Program Persiapan Studi Lanjut (PPSL), pendaftaran asesor, pelatihan Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP), sertifikasi dosen, kenaikan pangkat, penulisan buku berbasis gender, kegiatan penelitian, fasilitator Sekolah Penggerak, hingga pendaftaran beasiswa. Dalam setiap proses itu, Mbak Hifni selalu hadir sebagai sosok yang penuh semangat, peduli, dan tulus dalam memberi.
Kehadirannya tidak hanya terasa dalam berbagai aktivitas profesional, tetapi juga dalam momen-momen pribadi yang membutuhkan penguatan hati. Di masa-masa sulit, ia mengingatkan saya sebuah pesan bijak yang sederhana namun mendalam: “Yang bisa kita kendalikan adalah cara kita merespon, bukan keadaan di luar diri”. Kalimat sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Diucapkan dengan tenang saat saya tengah dilanda kekecewaan, kalimat itu seolah menjadi penuntun untuk kembali ke dalam diri, berdamai, dan terus melangkah dengan hati yang lapang.
Tak hanya melalui kata-kata, keteladanan Mbak Hifni juga nyata dalam keseharian. Dalam sejumlah kegiatan Fasilitator Sekolah Penggerak, kami kerap ditempatkan pada kamar yang sama. Momen-momen itu penuh tawa, cerita, dan kebersamaan yang membekas. Saya masih dapat mengingat jelas ketika Mbak Hifni duduk di atas tempat tidur sambil lirih melantunkan ayat suci Al – Qur’an. Pagi harinya ia awali dengan sholat dhuha, malam ia tutup dengan tahajud. Ia tidak banyak bicara tentang ibadahnya, namun keteladanannya begitu nyata, menyentuh dalam diam, dan menyadarkan saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Setiap momen bersama Mbak Hifni selalu meninggalkan kesan mendalam. Meski tubuhnya mulai melemah karena sakit, semangat dan perhatian yang ia berikan kepada saya tak pernah pudar. Ia masih sempat berbagi informasi tentang pendaftaran S3 di UPI dan terus memotivasi saya untuk mencoba kembali mendaftar Beasiswa Indonesia Bangkit 2025. Saya tak pernah lupa kalimat penuh semangat yang ia kirim lewat whatsApp, penuh kasih dan energi positif, tepat setelah ia menanyakan perkembangan persiapan studi lanjut saya. Padahal, seharusnya saya yang menyemangati dia. Tapi begitulah Mbak Hifni, meski sedang sakit, ia tetap menjadi cahaya bagi orang lain.
Kini, sapaan hangatnya hanya bisa saya dengar dalam ingatan, namun kenangan bersamanya tetap hidup: dalam setiap langkah perjuangan akademik, dalam semangat belajar, dan dalam upaya mengejar mimpi yang dahulu kami rajut bersama.
Selamat jalan, Mbak Hifni.
Terima kasih telah menjadi sahabat sejati, yang bukan hanya menemani, tetapi juga menerangi.
Semoga Allah SWT mengampuni segala khilafmu, menerima semua amal ibadahmu, dan menempatkanmu di surga terbaik-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Teriring doa dan cinta,
– Pika Merliza

Discussion about this post