Awal perjumpaan kami sekitar tahun 2010. Ketika itu, di Masjid Biru Kampus Darmajaya, melingkar bersama teman-teman alumni berbagai kampus, dan aku diminta untuk mengisi materi. Salah satu anggota lingkaran itu adalah Mbak Hifni Septina Carolina, nama yang cantik, secantik orangnya. Setelah pertemuan itu, ternyata perkenalan kami masih berlanjut karena Allah menakdirkan aku menikah dengan suamiku, yang tidak lain adalah sepupunya.
Mereka berdua seperti kembar namun tak sama. Kata Pakde Dharma Setyawan, suamiku, Sefrizal Permana, sangat sedih, mungkin karena sepersusuan, merasakan apa yang dirasakan oleh Mbak Hifni. Mereka akrab dan banyak kenangan. Terakhir ketemu Mbak Hifni pada 13 Juli 2025, hanya ada anggukan dan senyum ketika kami bertemu. Tanggal 27 Juli 2025, kami rasan-rasan dengan suami, hari Ahad tanggal 3 Agustus mau ke Metro lagi untuk menengok beliau. Namun, Senin siang, Allah memanggil beliau kembali ke haribaan-Nya.
Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Kaget mendengar kabar itu, rasanya campur aduk dan sedih. Namun, yang ada di benak adalah Allah lebih menyayangi beliau dan Allah sudah menyiapkan tempat terbaik untuk beliau di sisi-Nya, kembali dalam keadaan terbaik, dan semoga segala dosa diampuni Allah karena rasa sakit yang beliau rasakan.
Mati itu pasti, dan semua kita akan mengalaminya. Namun, ada pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup seseorang yang sudah meninggalkan kita. Sosok Hifni adalah guru sekaligus teladan bagi sekitar dan alam ini. Amalmu melampaui umurmu. Kami pun yang masih hidup belum tahu apakah kelak akan meninggalkan amal-amal jariyah yang terus mengalir hingga yaumil qiyamah, dan engkau, Mbak Hifni, sudah membuktikan bahwa hidup adalah pengabdian untuk orang-orang tercinta di dekatnya dan masyarakat. Namamu harum, banyak yang mencintaimu karena karya-karyamu hidup di benak siapa pun. Apa yang engkau torehkan dan tinggalkan akan terus melaju tanpa adanya dirimu, dan pastinya pahala mengalir tanpa batas.
Rasulullah SAW pernah menyebutkan tiga amalan yang termasuk amal jariyah dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah RA yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Apabila manusia itu meninggal dunia, maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh.”
Ilmu yang engkau bagikan selama ini menjadi ilmu yang bermanfaat bagi sekitar dan menjadi amal jariyah.
Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: “Orang cerdas adalah yang bermuhasabah atas dirinya dan beramal untuk apa yang setelah kematian. Orang lemah adalah siapa saja yang dirinya mengikuti hawa nafsunya lalu ia berangan-angan terhadap Allah.” (HR. Ahmad).
Beliau adalah orang yang cerdas yang mempersiapkan kematian dengan amal-amal yang akan dibawa setelah kematian. Ragamu mati, namun amalmu tak terhenti.
Terima kasih sudah mengajarkan makna hidup yang sesungguhnya adalah untuk bermanfaat bagi orang lain, bukan untuk diri sendiri.
Kebaikan bukan hanya tentang ibadah pribadi, tetapi juga bagaimana kita bisa memberi manfaat yang seluas-luasnya.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).
Semoga kita menjadi hamba yang cerdas yang mempersiapkan kematian dengan baik, sebagaimana mempersiapkan masa depan hidup di dunia.
Endang Ummu G-H-I.

Discussion about this post