Sabtu, April 18, 2026
Payungi.org
  • Login
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi
No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi
No Result
View All Result
Payungi.org
No Result
View All Result
Home Catatan

Yang Tak Pernah Pergi: Jejak Kebaikan Hifni Septina Carolina di Hati Komunitas

"Di balik ide-ide besar Mas Dharma, ada tangan halus Mbak Hifni yang merawatnya. Ia bukan sekadar istri dari seorang tokoh, melainkan tokoh itu sendiri." - Abdul Rohman Wahid

by Payungi
31 Juli 2025
in Catatan, In Memoriam: Hifni, Wes
Reading Time: 3min read
A A
0
Yang Tak Pernah Pergi: Jejak Kebaikan Hifni Septiana Carolina di Hati Komunitas
Share on FacebookShare on Whatsapp

Pada hari Senin, 28 Juli 2025 pukul 13.10 WIB, Kota Metro berduka. Kami kehilangan sosok perempuan luar biasa: Mbak Hifni Septina Carolina — istri dari penggerak sosial inspiratif Kakak Dharma Setyawan, dan ibu dari komunitas yang telah membangun napas-napas perubahan dari akar rumput, khususnya melalui gerakan Pasar Yosomulyo Pelangi (Payungi).

Saya mengenalnya bukan hanya dari nama, melainkan dari jejak langkah, kesetiaan, dan ketulusan yang tak pernah lelah membersamai perjuangan suaminya. Mbak Hifni, begitu kami biasa memanggilnya, adalah sosok yang hidup dalam ketenangan, tanpa banyak bicara, namun setiap geraknya meninggalkan makna.

Sejak menikah dengan Mas Dharma pada 6 Oktober 2013, Mbak Hifni menunjukkan jati dirinya sebagai perempuan tangguh. Ia adalah guru, dosen, dan pendamping hidup yang setia—hadir bukan hanya dalam suka, tapi juga dalam setiap fase perjuangan yang tidak mudah. Ketika Mas Dharma diterima menjadi dosen PNS di STAIN (kini UIN Jurai Siwo Metro) pada tahun 2014, Mbak Hifni juga diterima di kampus yang sama. Sejak saat itu, mereka tak hanya berbagi rumah, tapi juga berbagi semangat untuk mengabdi kepada masyarakat.

Di balik ide-ide besar Mas Dharma, ada tangan halus Mbak Hifni yang merawatnya. Ia bukan sekadar istri dari seorang tokoh, melainkan tokoh itu sendiri. Dalam diamnya, Mbak Hifni adalah pemikir, konseptor, dan penggerak sosial yang penuh dedikasi.

Bersama suaminya, Mbak Hifni ikut melahirkan banyak gerakan sosial: mulai dari Komunitas Kamisan, Bank Sampah Cangkir, hingga yang paling fenomenal: Payungi. Tak hanya itu, ia juga menggagas hadirnya Payungi University, Sekolah Desa, Sekolah Seni, Pesantren Wirausaha, hingga Disabilitas Corner Payungi—ruang inklusi bagi penyandang disabilitas di Kota Metro. Ia pun menjadi penggerak utama Gerakan WES Payungi (Women and Environments Studies), sebuah wadah pembelajaran bagi perempuan dan masyarakat bawah.

Saya menyaksikan langsung bagaimana Mbak Hifni mempersiapkan kegiatan, menata acara, menyambut tamu, mendampingi para ibu pedagang, hingga berdiskusi panjang soal kurikulum pendidikan alternatif dan kesadaran lingkungan. Ia bekerja dengan hati, tanpa pamrih. Tidak mencari panggung. Namun kehadirannya justru menjadi panggung itu sendiri—tenang, bersahaja, dan bercahaya.

Tak jarang saya melihatnya tetap kuat hingga larut malam demi membersamai komunitas. Membawa sendiri keperluan kegiatan, menyapa semua orang dengan ramah, mendengarkan dengan sepenuh hati. Tak pernah membantah, tak pernah menyela. Namun setiap perkataannya menghadirkan kelegaan dan arah.

Mbak Hifni Septina Carolina adalah perempuan yang menyemai harapan dalam kesederhanaan. Seorang ibu yang tak pernah lelah membimbing, sahabat yang sabar mendengar, dan pemimpin yang membangun tanpa harus menunjuk dirinya. Dari caranya yang hening namun berdampak, kami belajar arti pengabdian yang sejati.

Ketika Mas Dharma diundang menjadi narasumber Kick Andy dan menerima anugerah Kick Andy Heroes 2023, atau ketika dipercaya tampil sebagai Tokoh Perubahan Istana Presiden di era Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin, serta menjadi narasumber di Kemenko PMK, kami tahu bahwa ada sosok yang selalu berdiri di belakangnya: Mbak Hifni. Ia yang mungkin tidak terlihat di panggung besar, namun tanpanya panggung itu tak akan pernah ada.

Kabar wafatnya menggetarkan hati banyak orang. Linimasa media sosial dipenuhi doa dan ungkapan duka. Para ibu pedagang menangis kehilangan sahabat. Anak-anak muda kehilangan teladan. Kami semua kehilangan sosok ibu dari gerakan yang membentuk jiwa komunitas Kota Metro.

Namun dalam duka ini, saya percaya satu hal: kebaikan tidak pernah mati. Warisan Mbak Hifni bukan hanya kenangan, tetapi nilai-nilai yang hidup. Setiap tenda di Payungi, setiap tawa anak-anak di Sekolah Desa, Pesantren Wirausaha, WES Payungi, Sekolah Seni Payungi setiap lapak ibu pedagang, setiap semangat muda yang tumbuh dari komunitas—semua mengandung jejaknya.

Saya masih ingat disaat beliau masih hidup disaat menamani mas Dharma di Jakarta waktu acara di Kementerian Menko PMK RI, ia pernah berkata kepada saya:

 “Yang penting kita ini bermanfaat. Kalau kita bisa buat orang lain belajar, bertahan, dan tumbuh—itu sudah cukup.”

Kini, Mbak Hifni telah berpulang. Namun nilai-nilainya tak pernah pergi. Ia hidup dalam hati kami. Dalam senyum pedagang, langkah mahasiswa, dan semangat perubahan yang terus tumbuh.

Terima kasih, Mbak Hifni, atas segalanya.

Engkau bukan hanya istri dari seorang penggerak. Engkau adalah napas perubahan itu sendiri. Engkau bukan hanya ibu dari anak-anak di Payungi dan mahasiswanya, tetapi juga ibu dari kami semua—yang belajar mencintai tanah kelahiran, mengabdi tanpa pamrih, dan hidup dengan cinta.

Semoga Allah SWT menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Dan semoga setiap amal dari gerakan yang engkau bangun menjadi ladang pahala yang tak terputus.

Selamat jalan, Mbak Hifni Septina Carolina — Ibu dari Payungi dan WES Payungi.

Namamu akan terus kami sebut. Inspirasimu akan terus kami hidupkan.
Al-Fatihah. 🌹

Abdul Rohman Wahid (Ketum GenPi Lampung dan Tim Penggerak Payungi)

ShareSendShare

Discussion about this post

TENTANG KAMI

Payungi hadir atas inisiatif warga berdaya yang percaya perubahan bisa dilakukan dengan gotong royong.

Alamat: Jl. Kedondong, Yosomulyo, Kec. Metro Pusat, Kota Metro, Lampung 34111

Kontak: 0812-7330-7316

LOKASI PAYUNGI

  • Bank Sampah
  • Kampung Bahasa
  • Kampung Kopi
  • Pasar Payungi
  • Payungi Media
  • Payungi University
  • Pesantren Wirausaha
  • Pusat Studi Desa

© Payungi - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Kampung Anak Payungi
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • Catatan
  • News
  • Video
  • Registrasi
    • Sekolah Desa
  • Materi
  • Omset
  • Galeri Photo Payungi

© Payungi - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In