Oleh: Nawang Wulandari
Aku terlalu lama denial, mencoba meyakinkan diri jika ini hanya mimpi, aku kosong, melompong hilang isi..
Aku menolak untuk percaya, sebab kepergianmu menyisakan luka yang begitu pedihnya…
Akan kucoba menuliskanmu, meski dengan air mata dan linangan gerimis jiwa…
Hifni Septina Carolina
Satu dekade lalu, saya pertama kali mengenal Mbak Hifni melalui suaminya, Dharma Setyawan. Kami bekerja di instansi yang sama, bertumbuh dalam ruang-ruang belajar. Kedekatan saya dan Mbak Hifni semakin erat ketika bersama-sama membentuk sebuah komunitas kecil bernama Happy Family, sekumpulan sahabat yang saling menguatkan dalam ikhtiar untuk dikaruniai buah hati.
Seperti namanya, Happy Family bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah cerminan dari semangat, harapan, dan ketulusan. Happy Family menjadi ruang aman tempat kami saling menguatkan, berbagi cerita dan doa, serta merayakan setiap langkah kecil dengan hati yang besar. Di dalamnya, tumbuh ikatan kekeluargaan yang tidak hanya berbasis kesamaan nasib, tapi juga saling isi, berkarya, dan saling membahagiakan.
Akhir tahun lalu, di sela-sela studi doktoralnya, saya dan Mbak Hifni mendapat tugas dari Badan Akreditasi Nasional Provinsi Lampung untuk visitasi ke sebuah sekolah. Dengan riang kami bersorak, “Akhirnya! Setelah bertahun-tahun kita bisa duet visitasi juga ya.” Kami pun berkelakar, menganggap visitasi ini sebagai pengganti dari agenda traveling bersama yang belum sempat terwujud.
Saya dan Mbak Hifni pernah punya daftar tempat-tempat yang ingin kami kunjungi bersama. Bersama Happy Family, kami pernah merencanakan traveling ke Tumpeng Menoreh, membayangkan serunya naik kereta bersama, berbagi tawa, bercengkrama, dan sejenak rehat dari rutinitas kantor yang padat. Ketika kuliah di bandung, bebrapa kali juga kami menjadwalkan jalan-jalan ke Malang, sambil menengok sahabat kami, Mbak Yunita dan Mas Koko, yang sedang melanjutkan studi doktoral di sana. Mbak Hifni selalu punya semangat untuk menciptakan momen kebersamaan, meski seringkali rencana itu hanya sampai di obrolan, namun hangatnya harapan itu tetap melekat di hati.
Mbak Hifni adalah sahabat yang menyenangkan dari segala sisi, hangat, terbuka, dan penuh perhatian. Bersamanya, tak ada jarak. Kami bisa berbagi cerita apa saja, mulai dari drama korea yang sedang kami tonton, kisah hidup, ide penelitian, hingga isu-isu pemberdayaan. Dari Mbak Hifni saya belajar bahwa bahwa perubahan struktural bisa dimulai dari akar rumput; bahwa membangun komunitas, memberdayakan perempuan, memperjuangkan inklusi, dan menghidupkan nilai-nilai lokal adalah strategi transformasi sosial yang visioner.
Mbak Hifni bukan hanya penggagas, tetapi juga pelaksana. Bersama suaminya, Dharma Setyawan, Mbak Hifni turut membangun berbagai komunitas sosial di lingkungan tempat tinggal mereka. Dari Komunitas Kamisan, Bank Sampah Cangkir, hingga Pasar Yosomulyo Pelangi (Payungi), Payungi University, Sekolah Desa, Sekolah Seni, Pesantren Wirausaha, WES Payungi (Women and Environment Studies), hingga Disabilitas Corner Payungi, sebuah ruang aman dan penuh dukungan bagi penyandang disabilitas di Kota Metro.
Mbak Hifni adalah motor penggerak WES Payungi (Women and Environment Studies), sebuah gerakan yang memperjuangkan ruang tumbuh bagi perempuan dan keberlanjutan lingkungan. Semua komunitas yang mereka bangun bukan sekadar program, melainkan ruang hidup yang membuka peluang bagi siapa saja untuk belajar dan berkarya.
Bagi saya, semua langkahnya bukan sekadar ada, tetapi selalu membawa arti. Mbak Hifni telah mengamalkan nilai “khairunnas anfa’uhum linnas” sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama dalam tindakan nyata.
Queen Bee Syndrome
Beberapa bulan terakhir Mbak Hifni mulai membatasi pertemuan, hanya percakapan singkat lewat pesan atau suara di telepon yang menjadi celah kecil untuk kami saling bertukar kabar. Saya coba jadwalkan makan bersama di luar, Mbak Hifni hanya membalas, “Insya Alloh, doakan aku cepet sembuh ya, Yu” (kami memiliki panggilan akrab, saya dan mbak hifni saling memanggil ‘yu’ akronim dari kata ‘Mbak Yu’, saya dan suaminya saling memanggil ‘Mbos’ plesetan dari kata ‘boss’). Di waktu berbeda saya coba agenda pertemuan lain, tapi tak juga terlaksana. Hingga barangkali Mbak Hifni luluh saat saya kirim voice note sambil menangis, yang akhirnya dia izinkan saya datang.
Di malam itu kami berkelakar seperti biasa, dalam obrolan santai namun syarat makna, Mbak Hifni menyampaikan, “Kita nggak boleh terpapar quenn bee syndrome, kita nggak boleh menjadi seperti ratu lebah, yang hanya ingin menjadi satu-satunya perempuan yang berdaya dan nggak suka melihat perempuan di sekitarnya menampakkan sinarnya. Jangan sampai kita melihat kemajuan perempuan lain di sekitar kita menjadi sebuah ancaman.” Saya langsung sepakat, pola pikir seperti ini bukan hanya melemahkan solidaritas, tetapi juga memperpanjang rantai dominasi yang menindas perempuan dari dalam. Perjuangan perempuan harusnya menjadi perjuangan kolektif. Kalau kita nggak saling dukung, maka siapa lagi? Obrolan kami mengalir ke mana-mana. Seperti biasa, setiap ngobrol dengan Mbak Hifni akan ada insight baru yang saya dapat.
Siapa sangka, malam itu menjadi obrolan panjang terakhir kami. Saya terlambat membaca tanda, terlambat sadar bahwa sakitnya bukan sekadar lelah biasa. Saya terlalu mudah percaya saat ia berkata, “Sakit capek aja.” Padahal setelah itu, yang tersisa hanyalah pertemuan-pertemuan hening. Pertemuan tanpa kata, hanya senyuman tipis yang kita paksakan untuk membahasakan, “semua akan baik-baik saja.” Hanya belaian lembut yang membahasakan “kamu bisa melalui ini semua” Hanya kecupan yang mengisyaratkan, “Aku ada kapanpun kamu membutuhkanku, Yu”
Hari yang Tak Lagi Sama
Pagi itu Mbos Dharma kirim pesan, “Mbos, masih PKDP atau sudah di Metro?” Saya bilang, “Sudah di Metro, PKDP-nya dilanjut online” Obrolan kemudian berlanjut di telpon, yang intinya Mbak Hifni ingin ketemu saya. Tentu saja saya bahagia sekali dan langsung menyanggupi, saya sampaikan jika saya dan suami akan meluncur ke rumah sakit pukul 11.00 WIB setelah zoom PKDP selesai.
Awalnya saya hanya berfikir diminta menemani Mbak Hifni karena keluarga sedang ada rutinitas yang tidak bisa ditinggalkan, saya sudah memilah-milah tema obrolan akan kami bahas saat bercengkrama nanti, saya berjanji dalam diri tidak akan banyak tanya tentang sakitnya, saya hanya akan penuhi dengan obrolan ringan yang bisa buat kami tertawa.
Di tempat parkir rumah sakit, saya dan suami bertemu Prof. Mufliha yang baru saja turun dari ruang rawat inap Mbak Hifni, beliau bilang, “Gantian ya Nduk, saya pulang dulu.” Saya masih mengira, pagi itu Prof Mufliha yang menjaga Mbak Hifni, dan siang ini saya yang akan meneruskan. Namun setelah Prof. Mufliha menceritakan keadaan sebenarnya, hati saya mulai nggak karuan, saya dan suami buru-buru menuju ruangan tempat Mbak Hifni berada.
Kenyataan hidup sering kali datang tanpa aba-aba, kali ini datang untuk mengubah arah segalanya. Sampai di ruangan rumah sakit, realita yang terjadi berbanding terbalik dengan semua yang saya bayangkan. Tidak ada riang tawa, tidak ada obrolan panjang yang mengalir, hanya ada keluarga inti dengan mata-mata yang lebam karena sisa tangis. Saya dekatkan diri ke tubuh Mbak Hifni dan berbisik lirih sambil memegangnya, “Yuu.. aku udah datang, kamu bisa denger aku?” dia mengangguk dan menyunggingkan senyum tipis. “Yuu.. ayo sehat, ayo kita main lagi, kita buat proposal penelitian bareng lagi, kita ngedrakor lagi” Lagi-lagi dia hanya membalas dengan senyum namun terasa mengiris, terasa jauh lebih tajam dari ucapan apa pun.
Pada jeda berikutnya, saya, suami dan seluruh keluarga tenggelam dalam alunan ayat-ayat suci dan doa-doa, lama dan syahdu. Ayat-ayat meluncur dengan suara yang gemetar, tersendat di tengah rintih, menggigil di antara napas. Tidak ada yang sanggup membaca dengan utuh tanpa disela air mata. Setiap lafaz berisi harapan. Setiap doa berisi jeritan hati yang tak bersuara. Hanya berharap ketetapan terbaik dari Allah.
Setelah semua sedikit mereda, saya pamit kepada keluarga, karena ada beberapa tugas yang belum tuntas. Saya berencana akan kembali ke rumah sakit di malam hari. Sambil pamit, saya bisikkan ke telinga Mbak Hifni, “Yu.. aku pulang dulu ya, nanti aku ke sini lagi.” Mbak Hifni tidak menjawab apa-apa. Sebelum pergi, saya amati wajahnya dalam-dalam, wajah yang putih, bersih dan damai.
Saat yang bersamaan ada pesan masuk dari Prof. Mufliha, beliau menawarkan saya dan suami untuk bertemu di dekat rumah sakit. kami ngobrol sekadarnya. Saat kami hendak pulang, ada pesan masuk dari Mbos Dharma. Berisi kalimat yang sangat aku takutkan, seperti vonis yang menutup semua pintu harapan. Inna lillahi wa inna ilaihi roojiun..
Dengan tangis yang berhamburan, kami semua berlari, kembali ke rumah sakit. Perempuan pemilik langkah tak kenal lelah itu telah kembali ke Pemiliknya. Jiwa muthmainnah itu telah didekap dalam pangkuaNya.
Mbak Hifni, mungkin telah tiada, tetapi cahaya yang ia nyalakan tak pernah padam. Mbak Hifni telah menyalakan banyak pelita, dalam komunitas, dalam sahabat, dalam gerakan-gerakan kecil yang kini menjelma besar. Kami, yang pernah kau sentuh dengan ketulusan dan pemikiranmu, adalah pelita-pelita itu. Kami akan terus menyala, membawa serta nilai-nilai yang telah kau tanam; tentang keberdayaan, kesetaraan, dan kemanusiaan. Dalam setiap langkah kami yang masih berjuang, akan selalu ada bagian darimu yang ikut hidup. Terima kasih, Yu… telah menjadi cahaya yang tak pernah lelah memberi terang.
Balasan pesan cinta terakhir yang sempat kau kirimkan, “I love you to the moon and back.” Yu, I do love you so! I was, I’m and I will..
Allahughfirlaha warhamha wa’afihi wa’fuanha..

Discussion about this post