Tidak semua kisah bahagia ditulis dengan utuh. Ada cinta yang justru terasa lebih dalam saat ditulis dengan air mata, perjuangan, dan keikhlasan. Itulah kisah Hifni Septina Carolina, seorang perempuan yang membuat semesta segan karena ketabahan hatinya.
Ia tak pernah berjalan sendiri. Setahuku, ada lima perempuan lain yang ikut menguatkan langkahnya dalam senyap, yaitu Indah (istriku), Mbak Aisyah, Mbak Nawang, Mbak Yunita, dan Mbak Frelintina. Mereka bukan sekadar sahabat; saat itu mereka adalah saudari sejiwa, bertemu dalam harapan yang sama, dan saling menopang dalam doa yang sering kali diucapkan dengan mata sembab.
Mereka mendambakan satu hal yang sama: menjadi seorang ibu. Menjadi pelukan pertama untuk anak yang belum sempat lahir. Menjadi nyanyian sebelum tidur untuk bayi yang masih mereka panggil dalam doa.
Mbak Hifni selalu datang saat pertemuan kecil kami, entah itu untuk olahraga bersama, makan bersama, atau kegiatan lainnya. Banyak hal menarik dari sosok Mbak Hifni yang membuat kami kagum atas keteguhannya. Kami pun saling menceritakan harapan besar.
Namun, saat itu kami tidak tahu bahwa tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Ia tetap datang dengan senyum.
Sesekali kami melontarkan candaan dan berkata, “Sudah jam sembilan, kalian tidak pulang?” Begitulah candaan kami saat itu.
Di tengah sesi berbagi, kami berbicara tentang harapan, tentang bayi yang ingin kami beri nama, tentang dekorasi kamar anak, dan tentang baju mungil berwarna pastel. Terkadang kami tertawa, terkadang kami terdiam cukup lama. Selalu ada pelukan dan sesi foto di akhir pertemuan.
Dan di rumah sederhana yang penuh cinta itu, ada Mas Dharma. Ia tahu, perempuan yang ia cintai sedang berjuang keras untuk hidup, bukan hanya demi dirinya, tetapi demi mereka berdua.
Waktu berjalan, tak selamanya memihak.
Hari itu, Mbak Hifni pergi dengan tenang. Di ruang rumah sakit, dengan tangan Mas Dharma menggenggam erat jari-jarinya yang mulai dingin. Ia menutup mata perlahan dengan senyum terakhir, seolah ingin mengatakan, “Aku tidak kalah. Aku hanya berpindah tempat untuk mencintaimu dari sisi yang berbeda.”
Pemakaman itu dipenuhi pelukan, air mata, dan doa, tetapi juga penuh dengan rasa bangga. Sebab, yang dimakamkan bukan sekadar perempuan biasa, melainkan seorang pejuang kehidupan, sahabat terbaik kami, dan sosok istri yang mengajarkan cara mencintai dalam bentuk paling murni.
Indah (istriku), Mbak Aisyah, Mbak Nawang, Mbak Yunita, dan Mbak Frelintina, kami akan berjanji.
“Mbak Hifni, kalau nanti kami berhasil menjadi ibu, kami akan bercerita tentangmu. Bahwa ada satu bidadari yang pernah mengajarkan kami cara bertahan dengan elegan.”
Dan teruntuk Mas Dharma, kami akan terus menjadi saudaramu, keluargamu, dan sahabatmu. Engkau telah menjadi panutan bagi kami.
“Coach Feri” 💪

Discussion about this post