Jum’at tanggal 27 Juni lalu, tidak kusangka ternyata menjadi pertemuan terakhirku dengannya. Aku merasa menjadi sahabat yang sangat buruk. Beliau yang selalu hadir di saat-saat sulitku, tapi aku bahkan sangat terlambat mengetahui sakitnya.
Masih segar dalam ingatan, ketika kami sekeluarga terkena covid-19 di akhir 2020 lalu. Beliau dan suami yang pertama sigap membantu kami, membuat kami merasa tidak sendiri, yang pada masa itu adalah tahun-tahun pertama di perantauan ini. Tidak hanya sekali, berkali-kali datang ke rumah, membawakan buah-buahan dan suplemen kesehatan. Lalu, beberapa kali ketika anak-anak sakit (yang entah kenapa hampir selalu saat ayahnya sedang dinas luar), beliau juga yang saya repotkan untuk membantu membelikan obat. Terakhir di penghujung tahun lalu, ketika suami sakit, dengan bantuan beliau melalui adiknya, saya bisa mengantarkan suami ke rumah sakit.
Jadi ketika saya baru mengetahui sakitnya seserius itu, sebulan sebelum kepergiannya, rasanya tidak bisa dideskripsikan dg kata-kata. Ditambah saya tidak bisa membantu apa-apa. Meski memiliki golongan darah yg sama, saya tidak bisa menjadi donor krn Hb yg tidak mencukupi. Hanya bisa sekadar mengirimkan kata-kata penyemangat, yang semoga dibaca dan bisa menguatkan hatinya.
Mbak Hifni Septina Carolina. Kami berkenalan di pertengahan 2019. Kesamaan tanggal, bulan, dan tahun lahir membuat aku merasa memiliki kedekatan dengannya. Kami adalah saudara kembar yg dilahirkan dari rahim berbeda. Dan setiap tanggal kelahiran kami, beliau selalu mengucapkan selamat diiringi doa-doa.
***
Bulan depan, tak ada lagi ucapan selamat dan doa-doa itu, mbak.. Engkau sudah pergi. Meski sampai sekarang aku masih belum merasa engkau benar-benar pergi. Mungkin krn karya-karya dan kebaikanmu yg luar biasa. Semua mengenangnya dalam kesedihan yg dalam. Semua merasa sangat kehilangan.
Hampir seminggu engkau pergi, tak selintas pun ingatan tentang keburukanmu. Tak pernah terdengar sedikit pun kata-kata cela tentangmu. Bukan, bukan karena engkau telah tiada sehingga hanya ingatan baik yg terkenang. Tapi karena memang kebaikan adalah nama tengahmu. Hidup yg singkat ini engkau manfaatkan sebaik-baiknya untuk menebar kebaikan. Bermanfaat bagi banyak orang. Mengabdikan diri dan keluarga untuk pemberdayaan. Dan yang tak masuk akal, di tengah sakitmu, engkau malah memberi inspirasi ke banyak orang untuk mengubah pola hidup lebih sehat.
Kini sakitmu telah hilang. Kesabaran dan keikhlasanmu kembali menjadi inspirasi bagi kami. Bagaimana bisa seorang manusia biasa menerima takdir yang tak dikehendaki dengan seikhlas itu? Tak terdengar keluhan, bahkan tatapan dan kata-katamu di akhir pertemuan kita, begitu tenang. Mungkin karena engkau telah siap dengan berbagai perbekalan.
Lalu aku, kami.. Bekal apa yg bisa kami bawa ketika kematian tiba? Bahkan setelah kepergianmu untuk selama-lamanya, masih ada banyak pelajaran yg bisa kami petik. Kematianmu yang indah, mengingatkan kami untuk berusaha mengumpulkan sebanyak-banyaknya bekal pulang.
Hampir satu minggu, duka itu masih tetap bertahan. Aku dan teman-teman masih sering membicarakanmu, lalu berakhir dg menangis diam-diam. Apalagi ketika menuliskan kata-kata ini. Kepingan-kepingan memori bersamamu kembali hadir. Engkau telah pergi menghadap Ilahi. Tapi karya-karya dan kebaikanmu tetap abadi, dan akan selalu terkenang di hati kami.
(Dwi Kurnia Hayati)

Discussion about this post