Buk Hifni Septina Carolina, saya memanggilnya. Perempuan yang memberikan ruang bagi semua untuk tumbuh. Dan, saya banyak belajar darinya.
Saya mengenalnya sebagai orang yang sangat amat baik. Terlebih beliau juga merupakan Istri Dharma Setyawan, seorang guru, kolega, senior, dan kawan pemberdayaan. Begitu pun juga Istri Dewi Sri Yunita, ia mengenalinya sebagai tokoh, bukan karena beliau seorang dosen dan bukan juga karena istri dari dosennya dulu, melainkan karena kepribadiannya. Mereka tidak banyak bertemu dalam suatu momen, tapi saya banyak menceritakan nilai-nilai baik dari beliau. “Seperti mimpi”, kalimat itu yang keluar dan mengiang dari mulut kecilnya di tengah kesunyian obrolan kami. Saya mengartikan itu sangat dalam. Kami merasa kehilangan momen-momen kehangatan dengan beliau, yang tak akan pernah berulang.
Beliau, bagi saya, bukan hanya menjadi representasi seorang aktivis, bukan hanya perempuan yang kaya perspektif gendernya, tapi kawan sekaligus guru dalam kerja-kerja sunyi pemberdayaan. Tempat belajar yang terus hidup.
Dalam ruang-ruang kecil yang tak lagi dianggap penting bagi sebagian besar orang, ia hadir penuh. Tidak perduli dengan siapa ia berbicara, dalam moment apa, dan dalam forum apa, Ia menempatkan diri sebagai pendengar yang baik dan sebagai lawan bicara yang senantiasa mampu memberi umpan balik. Ia tak mencari sorotan, tapi selalu memberi terang bagi yang lain.
Dalam beberapa sesi diskusi, ia hadir mendengarkan. Terkadang duduk di belakang, mengamati. Dalam diamnya Ia seperti memberi isyarat bahwa diskusinya sesuai dengan perspektifnya. Padahal, ia yang seharusnya duduk di depan, menyampaikan argumentasi, dan ide yang membangun.
Begitulah ia, orang yang rendah hati dan tak pernah merasa paling tahu. Alih-alih memaksakan kehendak, ia justru memberi ruang untuk tumbuh. Ia sabar mendengarkan dan percaya bahwa setiap orang berhak menemukan jalannya sendiri.
Ia tidak bicara keras, bahkan lirih, penuh welas asih. Tidak pernah ada kalimat tendensius, tidak ada kata-kata yang menyudutkan, bahkan tidak ada kehendak atas angannya sendiri. Ia mengajak semuanya untuk setara.
Ia, dalam komunitas, tak pernah memaksakan orang berubah dan bergerak cepat – tapi ia menyediakan ruang agar orang lain bisa bertumbuh dengan caranya sendiri. Sederhana, tapi apa yang ia perjuangkan terasa dalam. Tentang kesetaraan, tentang ruang aman, tentang bagaimana melihat sesama tanpa menghakimi, tentang keuletan, dan tentang kesabaran.
Ia tidak suka berdebat. Itulah yang saya saksikan di setiap momen diskusi. Ia selalu mengalah dalam perdebatan. Mengalah bukan berarti kalah, tapi untuk kebaikan dan untuk kebenaran itu sendiri.
Di dunia pemberdayaan, ia bukan hanya fasilitator atau penggerak, tapi juga kawan belajar yang sejajar, dengan akhlak yang senantiasa ditinggikan. Dalam sikap dan caranya memperlakukan orang lain, Ia mengajarkan bahwa menjadi besar itu bukan soal posisi atau pengaruh, tapi tentang bagaimana menjaga sikap, akhlak, dan memberi makna lewat perbuatan.
Bagi saya, Ia mendidik tanpa menggurui, menyadarkan tanpa merendahkan, dan memperjuangkan nilai dengan kelembutan yang kokoh. Ia tak hanya hadir untuk menyuarakan keadilan gender dalam gerakan-gerakan pemberdayaan sosial, ia menghidupinya.
Aku menganggapnya Ibu pemberdayaan. Seorang yang berjuang dalam diam yang teduh dan dalam keberanian yang halus. Ia memberi makna yang nyata. Setiap lakunya menyimpan pelajaran yang besar. Aku banyak belajar darimu, Buk.
Nasihat-nasihat nya kan selalu diingat oleh siapa pun, meski tidak diutarakannya dengan banyak kata. Ia menghidupi nilai, bukan sekadar mengucapkannya. Ia memberi contoh, bukan memperbanyak cemooh. Ia tidak lari sendiri, tapi menggandeng siapa pun yang ingin tumbuh bersama.
Kini, Ia tak lagi membersamai secara fisik. Tapi, yakin, setiap nilai yang pernah ia perjuangkan dan setiap sikapnya yang penuh welas asih, akan tetap hidup. Mereka tinggal dan terus tumbuh. Semuanya kan menjadi cahaya yang tak pernah padam.
Semua orang merasa kehilangan. Tapi lebih dari itu, semua orang kan merasa berutang. Pada nilai-nilai yang ia wariskan. Pada semangat yang ia titipkan. Pada teladan hidup yang tak perlu banyak kata untuk memberi penyadaran.
Terima kasih, Buk. Saya akan terus belajar darimu, dari nilai-nilai yang pernah engkau ajarkan. Keteduhanmu yang tanpa suara itu, membentuk banyak dari kami menjadi manusia yang lebih sadar, lebih adil, dan lebih utuh.
Dwi Nugroho

Discussion about this post