Masih teringat jelas, Sabtu malam (26/7/2025) saya bertemu dengan seorang teman untuk berbincang banyak hal. Pada obrolan tersebut kami sempat membincangkan Hifni yang tengah pulang-pergi Bandung untuk menempuh studi doktoral. Teman tersebut memang sempat menyampaikan kabar bahwa Hifni tengah sakit namun ia sendiri juga tak mengetahui apakah Hifni tengah dirawat atau hanya sakit biasa.
Dua hari berselang, Senin sore (28/7/2025) sebuah pesan duka masuk ke ponsel mengabarkan bahwa Hifni telah berpulang. Yak lama berselang istir memberikan kabar yang sama. Banyak orang terkejut mendengar kabar perempuan yang ramah dan supel itu telah tiada. Waktu memang berjalan cepat dan sejenak ingatan itu kembali ke masa lalu. Rasanya baru kemarin Hifni dan Dharma berboncengan mesra berkunjung ke rumah dan berbincang banyak hal.
Pelukan hangat Dharma sore menjelang Magrib adalah pertemuan setelah sekian lama kami tak bertemu. Dharma juga menceritakan saat-saat terakhir kepergian Hifni. Tak seperti yang banyak orang pikirkan, bagi kami berdua tiada lain selain nothing but respect.Kami berdua berpelukan cukup lama menahan haru setelah sekian lama tak bertemu. Sore itu tampak jelas Dharma berusaha tegar dalam kehilanganya dan menyampaikan empat pesan Hifni padanya. Pesan-pesan terakhir Hifni kepada Dharma sebelum kepulangannya seakan mengingatkan kita semua bahwa kesadaran akan kematian dapat mendorong manusia untuk merenungkan makna hidup agar dapat menjalani hidup dengan lebih bermakna.
Hifni Septina Carolina adalah nama yang saya kenal lebih dari 10 tahun lalu dari seorang sahabat, Dharma Setyawan saat pertama kali pindah ke Metro. Berbeda dengan Dharma yang memiliki background aktifis. Hifni yang pertama kali saya kenal adalah perempuan biasa yang masih dikenal sebatas Istrinya Dharma, jauh dari kesan seorang aktifis. Meski demikian tak bisa dipungkiri bahwa sejak awal sebenarnya Hifni juga telah menunjukan potensi untuk “tidak menjadi seperti perempuan kebanyakan.”
Interaksi dengan Hifni kala itu juga tidak terlalu intens. Saat itu belum banyak perempuan yang terlibat dalam aktifitas kami. Pada masa itu para suami bergaul dengan para suami, para istri bergaul dengan para istri. Meski paling muda, pribadi Hifni yang ramah dan supel menjadikannya mudah bergaul dengan istri-istri sahabat suaminya yang lain.
Waktu berjalan, Hifni menjadi dosen memenuhi passionya dan memilih jalan yang sama seperti suaminya. Kesamaan profesi dan kemampuan Hifni bertransformasi baik disadari maupun tidak membuatnya juga tumbuh menjadi scholar activist. Setelah lama tak berjumpa , pasangan suami istri tersebut bertumbuh bersama menjadi pasangan hebat yang terus melakukan banyak hal bermanfaat. Dari kejauhan kita semua tentu bangga dengan kiprah keduanya. Keduanya menjadi pasangan yang saling melengkapi dan memiliki passion yang realatif sama.
Tidak banyak perempuan yang mampu bertranformasi seperti Hifni. Berawal dari mendampingi seorang scholar activist dengan banyak gagasan dan kemudian bertransformasi menjadi aktifis yang menjadi obor bagi sekelilingnya.Hifni tidak tumbuh menjadi akademisi kebanyakan yang disibukan dengan urusan-urusan kampus semata. Ia tumbuh bersama suaminya yang selalu resah pada keadaan dan selalu bergairah untuk melakukan perubahan.Keduanya tumbuh seperti apa yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer bahwasanya Dalam Hidup, yang Penting Bukanlah Apa yang Anda Miliki, Tetapi Apa yang Bisa Anda Berikan.
Cerita seorang Hifni adalah pembelajaran penting ditengah situasi patriarki yang masih kuat di masyarakat kita hari ini. Semasa hidupnya Hifni berjuang mengubah steorotype kebanyakan perempuan dan bekerja bersama suaminya untuk melahirkan legasi. Hifni seakan tengah menjawab kini bukan lagi eranya “dibelakang pria hebat ada perempuan hebat .“ Hifni memberikan pesan yang kuat tentang “disamping pria hebat ada perempuan hebat.”
Semua yang pernah tumbuh bersama di sebuah komunitas itu satu dasawarsa lalu termasuk Hifni didialamnya terus berkembang dan berusaha menjadi orang-orang yang bermanfaat. Bagi saya pribadi Hifni telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya sebelum sempat diwisuda. Berbagai hal yang dilakukan semasa hidupnya adalah wujud nyata bagaimana seharusnya seseorang dengan kapasitas doktor berpikir dan bertindak.
Doa terbaik untuk Hifni, beristirahatlah dengan tenang dan legasimu terkenang.
Oki Hajiansyah Wahab